POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

JEJAK JUANG BELA NAGARI

RedaksiOleh Redaksi
May 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Noyo Gimbal: Rambut Panjang Perlawanan dari Hutan Blora

Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Kabupaten Blora

Dalam sejarah bangsa, tak semua pahlawan dimakamkan dengan tanda jasa. Beberapa justru terkubur dalam senyap, namanya hanya hidup di cerita rakyat. Salah satunya adalah Noyo Gimbal, pejuang dari Blora, yang rambutnya panjang karena sumpah tak akan digunting sampai penjajah hengkang dari tanah Jawa.

Noyo Gimbal, atau Noyo Sentiko, bukan bangsawan atau prajurit kerajaan. Ia rakyat biasa, tapi semangatnya membakar perlawanan. Ia hidup di abad ke-18, bergerilya dari gunung ke gunung, dari desa ke desa, menantang kekuasaan kolonial yang menindas.

Menurut Liputan6.com (20/3/2024), ia memulai tapabrata di Gunung Genuk, lalu mengumpulkan kekuatan di Gunung Surak. Pasukannya terdiri dari rakyat jelata—berandal, petani, santri, bahkan keturunan Tionghoa—semuanya bersatu demi satu cita: kemerdekaan.

Salah satu pertempuran paling dikenang terjadi di Tireman, Rembang. Pusakanya, sebuah payung sakti, hangus kena meriam Belanda. Tapi api perjuangannya tak padam. Justru kobarannya makin besar, membakar semangat rakyat yang selama ini terbungkam.

Di Masjid Jami’ Lasem, usai Shalat Jumat, rakyat dari berbagai kalangan bersumpah angkat senjata. Dari situ, perang rakyat pun meletus. Noyo Gimbal berdiri di garis depan. Rambutnya yang terus memanjang menjadi simbol janji yang tak pernah dikhianati.

Perlawanan pun bergulir hingga ke Blora. Di Desa Bangsri, terjadi perang terbuka. Rambut Noyo Gimbal konon basah oleh darah musuh. Dari perjalanannya muncul nama-nama desa seperti Nglorong, Ngrapah, Kemiri—jejak-jejak sejarah yang kini luput dari ingatan bangsa.

Namun Belanda tak tinggal diam. Ketika senjata tak mempan, racun jadi jalan. Konon, lewat makanan beracun, Noyo Gimbal ditaklukkan. Ia ditangkap, tubuhnya diikat, dimasukkan ke tong besi, lalu diceburkan ke laut. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana jasadnya bersemayam.

📚 Artikel Terkait

UBAI DILLAH AL ANSHORI BERHASIL RAIH JUARA SATU BACA PUISI NASIONAL

700 Dosen CPNS Mengundurkan Diri

Satpol PP Kota Banda Aceh Bongkar Bangunan Liar di Bantaran Sungai Krueng Aceh

Keputusan Sepahit Luka

Hanya sebuah monumen di Desa Bangsri yang berdiri untuk mengenang. Tapi bagi rakyat kecil, nama Noyo Gimbal telah menjadi legenda: pelindung kaum papa, pembela yang tak tunduk pada ketakutan. Ia bukan sekadar manusia, tapi semangat yang menolak padam.

Cerita rakyat memang bisa menyimpan bias, tapi ada catatan sejarah yang menguatkannya. Dalam Java-Bode dan De Oostpost (28 Mei 1856), Noyo Sentiko disebut sebagai dukun dari Sedan, Rembang, yang menolak panggilan pejabat kolonial. Ia dianggap pemberontak setelah membunuh Wedhono dan membakar gudang tembakau milik pengusaha Belanda.

Disebutkan, motifnya adalah dendam. Ia pernah bekerja pada Wedhono, tapi diusir secara kasar. Namun apakah semua perlawanan harus dimulai dari dendam? Atau justru dari keadilan yang dirampas dan martabat yang diinjak?

Noyo Sentiko lalu melarikan diri ke hutan perbatasan Jatirogo. Di sana ia menjadi pelindung rakyat kecil, memberi jimat, tolak bala, dan harapan. Dalam tradisi Saminisme, ia disebut sebagai saudara seperguruan Suro Sentiko, tokoh “ahimsa” Blora.

Cerita ini menyimpan pelajaran. Bahwa perlawanan tak selalu datang dari istana. Kadang muncul dari mereka yang dianggap “biasa”. Seorang berambut gimbal dari pelosok hutan, yang rela hidup sebagai pelarian demi membela harga diri bangsanya.

Hari ini, kita mungkin tak lagi mengangkat senjata. Tapi kolonialisme punya rupa baru: keserakahan, ketimpangan, pengkhianatan pada kearifan lokal. Lalu, siapa yang akan menjadi Noyo Gimbal di zaman ini?

Ia mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus tercatat di buku sejarah, tapi bisa hidup dalam tindakan sehari-hari. Dalam keberanian menolak ketidakadilan. Dalam pilihan hidup yang tak tunduk pada kemapanan yang salah arah.

Kisah Noyo Gimbal adalah cermin. Apakah kita masih punya nyali seperti dia? Ataukah kita telah rapi disisir oleh kenyamanan, lupa bahwa rambut panjang itu pernah menjadi janji untuk tanah air?

Sejarah adalah tentang keberanian mengingat. Dan Noyo Gimbal adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah dijaga oleh tangan-tangan rakyat yang berani berkata tidak. Meski tanpa gelar, tanpa upacara, dan tanpa pusara.


Daftar Pustaka:
• Liputan6.com. “Kisah Hidup Noyo Gimbal, Pejuang Anti Kolonial dari Blora.” 20 Maret 2024.
• Java-Bode & De Oostpost, 28 Mei 1856.
• Serat Punjer Kawitan, naskah tradisional Samin.
• Hamonangan, Y. Fernando. “Kisah Naya Sentika, Legenda Rakyat Jawa Tengah.” 2 Oktober 2023.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Menyelamatkan Jejak Sistem Perkeretaapian Kolonial di Koetaradja

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00