POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 25, 2025
Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Dayan Abdurrahman

Indonesia adalah negeri yang kaya, baik secara geografis, budaya, maupun jumlah penduduk. Namun, kekayaan ini belum mampu menjadi daya ungkit yang sebanding bagi kemajuan bangsa. Di sisi lain, negara kecil seperti Singapura, tanpa sumber daya alam yang signifikan, justru menjelma menjadi salah satu negara paling maju di Asia dan bahkan dunia.

Kita tentu patut bertanya: mengapa Indonesia yang besar ini berjalan terseok-seok, sementara Singapura dan bahkan Malaysia tampak lebih mudah membangun sistem dan kesejahteraan bangsanya? Apakah masalahnya hanya terletak pada kebijakan, atau justru berakar dalam pada budaya kita sendiri yang terlalu nyaman dalam kompromi dan ketidakpastian?

Singapura adalah contoh negara yang dibangun bukan dengan modal kekayaan alam, melainkan dengan tekad kuat, kepemimpinan visioner, dan budaya kerja keras. Sejak dipimpin oleh Lee Kuan Yew, Singapura menegaskan bahwa pembangunan bukan soal retorika, tetapi soal keberanian untuk mengatakan benar itu benar dan salah itu salah. Tidak ada ruang untuk korupsi, dan birokrasi dibangun berdasarkan meritokrasi yang ketat.

Pegawai negeri diberi gaji tinggi bukan untuk kenyamanan semata, tetapi agar integritas dijaga dan kinerja maksimal. Dalam Corruption Perceptions Index 2023, Singapura menempati peringkat ke-5 dunia dengan skor 83 dari 100—sebuah pencapaian yang konsisten dari tahun ke tahun. Negeri itu menjadikan keterbatasan sebagai peluang, dan justru karena itu melompat jauh melalui inovasi, disiplin, dan ketegasan dalam kebijakan.

Kebijakan publik di Singapura tidak berubah setiap lima tahun karena pergantian pemimpin. Mereka menjalankan perencanaan jangka panjang yang konsisten dan berbasis data. Transportasi publik, pendidikan, teknologi digital, dan manajemen energi dijalankan sebagai satu ekosistem. Singapura bahkan mampu menjadi pusat keuangan dunia meskipun hanya memiliki lahan sempit.

📚 Artikel Terkait

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Terhadap Prodi Bimbingan dan Konseling

Aceh, Dua Puluh Satu Tahun Setelah Air Itu Pergi

APA ARTI PUISI

Tangis yang Tak Terdengar

Mereka mengejar ketertinggalan bukan dengan banyak berbicara, tetapi dengan kerja keras, efisiensi, dan orientasi pada hasil. Pusat keunggulan seperti National University of Singapore (NUS) bahkan masuk dalam jajaran universitas terbaik dunia, menjadi bukti bahwa komitmen pada mutu akan menghasilkan daya saing global.

Bandingkan dengan Indonesia yang pada 2023 hanya mencetak skor 34 dalam indeks korupsi, berada di peringkat 115 dunia. Negeri ini memiliki perencanaan, tetapi lemah dalam eksekusi. Birokrasi kita besar, tapi tidak efisien. Anggaran melimpah, tetapi tidak transparan. Sering kali pembangunan dihambat oleh kompromi politik, ego sektoral, dan budaya “asal bapak senang”. Sebagian menyebut, ini merupakan pengaruh budaya Jawa yang dominan di pemerintahan: sangat menjunjung harmoni, terlalu menghargai simbol, dan menghindari konfrontasi langsung. Budaya ini menghasilkan sikap manut yang berlebihan, bahkan ketika situasi membutuhkan keputusan tegas dan cepat. Seperti wayang yang tak berdaya tanpa dalang, banyak kebijakan kita tergantung pada siapa yang sedang berkuasa, bukan pada sistem yang menjamin kesinambungan dan akuntabilitas.

Namun demikian, kita tidak boleh terus-menerus menyalahkan sejarah atau budaya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tabah. Kita pernah mengalami krisis ekonomi, tsunami di Aceh, bencana demi bencana, dan pandemi COVID-19. Rakyat tetap bekerja, bertahan, dan terus berharap.

Sayangnya, ketabahan ini belum selalu diiringi dengan kesadaran kolektif untuk berubah. Kita masih terlalu mudah puas dengan pencapaian simbolik. Kita masih sibuk dengan narasi masa lalu, namun minim keberanian menatap masa depan. Indonesia membutuhkan kebangkitan kesadaran: bahwa bangsa besar bukan hanya mereka yang besar wilayahnya, tetapi mereka yang besar keberaniannya menegakkan nilai.

Solusinya adalah menata ulang budaya politik dan birokrasi kita. Pertama, Indonesia harus berani menegakkan meritokrasi. Rekrutmen ASN, kepala dinas, pejabat daerah, dan pejabat pusat harus berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan politik. Kedua, kita harus menghapus budaya kompromi dalam korupsi.

Penegakan hukum harus kuat, adil, dan tidak pandang bulu. Ketiga, pendidikan karakter harus digalakkan kembali, bukan sekadar menjadi jargon. Sekolah dan universitas perlu menjadi tempat membentuk manusia yang jujur, tangguh, dan berani berpikir kritis. Keempat, media dan masyarakat sipil harus menjadi penyeimbang yang kuat, mendorong akuntabilitas dan memberikan ruang bagi diskusi yang sehat, bukan sekadar menjadi corong penguasa.

Dan terakhir, kepemimpinan nasional harus dibangun di atas nilai moral dan visi jangka panjang, bukan kepentingan elektoral lima tahunan.

Indonesia punya semua modal untuk menjadi bangsa besar: kekayaan sumber daya alam, potensi bonus demografi, dan posisi geopolitik yang strategis. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk jujur, tekun membangun sistem, dan menjunjung etika dalam politik dan birokrasi. Jika Singapura bisa mengejar ketertinggalannya dalam hitungan dekade, maka Indonesia pun bisa—asal mau belajar, berbenah, dan berhenti merasa cukup hanya karena telah merdeka.

Mimpi Indonesia menjadi bangsa yang disegani bukanlah utopia. Tapi mimpi itu hanya akan terwujud jika kita berani keluar dari zona nyaman, menanggalkan budaya kompromi yang melemahkan, dan berjalan dengan kepala tegak menuju masa depan yang lebih cerah. Kita adalah bangsa yang tabah, kini saatnya kita menjadi bangsa yang cerdas, berani, dan percaya diri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00