• Latest
Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi

Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi

Mei 25, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Mei 25, 2025
in # Koruptor, #Ekonomi, #Kontemplasi, #Krisis Ekonomi, Artikel, Budaya, Indonesiana, kebudayaan
Reading Time: 4 mins read
0
Singapura Tanpa Korupsi, Indonesia Tertidur Dalam Kompromi
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Dayan Abdurrahman

Indonesia adalah negeri yang kaya, baik secara geografis, budaya, maupun jumlah penduduk. Namun, kekayaan ini belum mampu menjadi daya ungkit yang sebanding bagi kemajuan bangsa. Di sisi lain, negara kecil seperti Singapura, tanpa sumber daya alam yang signifikan, justru menjelma menjadi salah satu negara paling maju di Asia dan bahkan dunia.

Kita tentu patut bertanya: mengapa Indonesia yang besar ini berjalan terseok-seok, sementara Singapura dan bahkan Malaysia tampak lebih mudah membangun sistem dan kesejahteraan bangsanya? Apakah masalahnya hanya terletak pada kebijakan, atau justru berakar dalam pada budaya kita sendiri yang terlalu nyaman dalam kompromi dan ketidakpastian?

Singapura adalah contoh negara yang dibangun bukan dengan modal kekayaan alam, melainkan dengan tekad kuat, kepemimpinan visioner, dan budaya kerja keras. Sejak dipimpin oleh Lee Kuan Yew, Singapura menegaskan bahwa pembangunan bukan soal retorika, tetapi soal keberanian untuk mengatakan benar itu benar dan salah itu salah. Tidak ada ruang untuk korupsi, dan birokrasi dibangun berdasarkan meritokrasi yang ketat.

Pegawai negeri diberi gaji tinggi bukan untuk kenyamanan semata, tetapi agar integritas dijaga dan kinerja maksimal. Dalam Corruption Perceptions Index 2023, Singapura menempati peringkat ke-5 dunia dengan skor 83 dari 100—sebuah pencapaian yang konsisten dari tahun ke tahun. Negeri itu menjadikan keterbatasan sebagai peluang, dan justru karena itu melompat jauh melalui inovasi, disiplin, dan ketegasan dalam kebijakan.

Kebijakan publik di Singapura tidak berubah setiap lima tahun karena pergantian pemimpin. Mereka menjalankan perencanaan jangka panjang yang konsisten dan berbasis data. Transportasi publik, pendidikan, teknologi digital, dan manajemen energi dijalankan sebagai satu ekosistem. Singapura bahkan mampu menjadi pusat keuangan dunia meskipun hanya memiliki lahan sempit.

Mereka mengejar ketertinggalan bukan dengan banyak berbicara, tetapi dengan kerja keras, efisiensi, dan orientasi pada hasil. Pusat keunggulan seperti National University of Singapore (NUS) bahkan masuk dalam jajaran universitas terbaik dunia, menjadi bukti bahwa komitmen pada mutu akan menghasilkan daya saing global.

Bandingkan dengan Indonesia yang pada 2023 hanya mencetak skor 34 dalam indeks korupsi, berada di peringkat 115 dunia. Negeri ini memiliki perencanaan, tetapi lemah dalam eksekusi. Birokrasi kita besar, tapi tidak efisien. Anggaran melimpah, tetapi tidak transparan. Sering kali pembangunan dihambat oleh kompromi politik, ego sektoral, dan budaya “asal bapak senang”. Sebagian menyebut, ini merupakan pengaruh budaya Jawa yang dominan di pemerintahan: sangat menjunjung harmoni, terlalu menghargai simbol, dan menghindari konfrontasi langsung. Budaya ini menghasilkan sikap manut yang berlebihan, bahkan ketika situasi membutuhkan keputusan tegas dan cepat. Seperti wayang yang tak berdaya tanpa dalang, banyak kebijakan kita tergantung pada siapa yang sedang berkuasa, bukan pada sistem yang menjamin kesinambungan dan akuntabilitas.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Namun demikian, kita tidak boleh terus-menerus menyalahkan sejarah atau budaya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tabah. Kita pernah mengalami krisis ekonomi, tsunami di Aceh, bencana demi bencana, dan pandemi COVID-19. Rakyat tetap bekerja, bertahan, dan terus berharap.

Sayangnya, ketabahan ini belum selalu diiringi dengan kesadaran kolektif untuk berubah. Kita masih terlalu mudah puas dengan pencapaian simbolik. Kita masih sibuk dengan narasi masa lalu, namun minim keberanian menatap masa depan. Indonesia membutuhkan kebangkitan kesadaran: bahwa bangsa besar bukan hanya mereka yang besar wilayahnya, tetapi mereka yang besar keberaniannya menegakkan nilai.

Solusinya adalah menata ulang budaya politik dan birokrasi kita. Pertama, Indonesia harus berani menegakkan meritokrasi. Rekrutmen ASN, kepala dinas, pejabat daerah, dan pejabat pusat harus berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan politik. Kedua, kita harus menghapus budaya kompromi dalam korupsi.

Penegakan hukum harus kuat, adil, dan tidak pandang bulu. Ketiga, pendidikan karakter harus digalakkan kembali, bukan sekadar menjadi jargon. Sekolah dan universitas perlu menjadi tempat membentuk manusia yang jujur, tangguh, dan berani berpikir kritis. Keempat, media dan masyarakat sipil harus menjadi penyeimbang yang kuat, mendorong akuntabilitas dan memberikan ruang bagi diskusi yang sehat, bukan sekadar menjadi corong penguasa.

Dan terakhir, kepemimpinan nasional harus dibangun di atas nilai moral dan visi jangka panjang, bukan kepentingan elektoral lima tahunan.

Indonesia punya semua modal untuk menjadi bangsa besar: kekayaan sumber daya alam, potensi bonus demografi, dan posisi geopolitik yang strategis. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk jujur, tekun membangun sistem, dan menjunjung etika dalam politik dan birokrasi. Jika Singapura bisa mengejar ketertinggalannya dalam hitungan dekade, maka Indonesia pun bisa—asal mau belajar, berbenah, dan berhenti merasa cukup hanya karena telah merdeka.

Mimpi Indonesia menjadi bangsa yang disegani bukanlah utopia. Tapi mimpi itu hanya akan terwujud jika kita berani keluar dari zona nyaman, menanggalkan budaya kompromi yang melemahkan, dan berjalan dengan kepala tegak menuju masa depan yang lebih cerah. Kita adalah bangsa yang tabah, kini saatnya kita menjadi bangsa yang cerdas, berani, dan percaya diri.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

Why an Acehnese Airline Chose Singapore over Indonesia

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com