POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra

RedaksiOleh Redaksi
May 22, 2025
Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra
🔊

Dengarkan Artikel

KEBUDAYAAN PERANG

Budhi dan daya

Kata nurani

Fikiran manusiawi

Apakah sampai

Pada ketegaan

Genosida kehidupan

Jika demikian

Anda bukan

Ciptaan Tuhan

Dari mana? 

Rasanya kalian

Keturunan setan

Cipta membentuk

Karsa berkendak

Rasa memerindah

Kehidupan damai

Tanpa resah

Jika tiba tiba

Negara mencaplok negara

Tentara membentak anak anak

Membungkam supaya diam

Tembok hunian diruntuhkan

Anda bukan dari Tuhan

Mungkin alien planet Iblis

Nyatanya Anda bengis

Jika perjanjian

Berkali diingkari

Olehmu sendiri

Lantas dimana

Arti damai

Isu pelanggaran

Mensahkan pembalasan

Lebih kejam

Padahal tentaramu sendiri

Memang bernaluri

Praktekan strategi

Percobaan ngeri

Senjata terbaru

Dagangan kematian

Memang inilah

Marwah hidupmu

Kemakmuran setan

Haus terus menerus

Meminum darah

Makhluk Tuhan

Kalah berjatuhan

Silahkan bangga

Keberhasilan uji coba

Karena belum waktunya

Tuhan bertindak

Lehermu dicekik-Nya

Ditarik miring

Masukkan tungku

Api menyala

Nyawa kalian

Tetap abadi

Tidak mati mati

Di atas tungku

Api Abadi

Kebudayaan perang

Lucifer menantang

Eksistensi Tuhan

Iman kemakhlukan

Digenting goyangkan

Orang-orang berkepentingan

Mulai berwacana

Berwajah bersih

Meski hatinya kelabu

Pemimpin menjadi bijaksana

Oposan menari nari

Menyusup berbagai lini

Rakyat bingung

Menunggu gong

Berbunyi dengung

Siapa saja

Paling nyaring

Banyak pengikut

Meski giginya

Tajam bertaring

Inilah dunia

Makin tua

Oka Swastika Mahendra

Mimpi keluar bumi

Negara, Bali  21 Mei 2025

JIKA

Jika mungkin 

Aku mohon

Dunia terbuka

Negara bernama sama

Semua sudut

Milik bersama

Tanpa batas

Tanpa dinding

Cinta dan kasih sayang

Hanya satu satunya

Mengalir bebas

Tanpa cela

Aku rindu

Semua bersatu

Harmoni keselarasan

Tanpa perbedaan

Tanpa saling mencela

Penyembahan bernama

Kesetiaan kehidupan

Jika mungkin 

Aku mohon

Agama dan budaya

Bukan perintang

Menjadi penghalang

Bagi cinta dan kasih sayang

Jika mungkin

 Sangat mohon

Dunia tanpa kekerasan

Tanpa peperangan

Tanpa darah

Hanya cinta dan kasih sayang

Jika mungkin aku mohon

Manusia saling

Mengerti

Menghargai

Mencintai

Dalam keselarasan dan harmoni

📚 Artikel Terkait

Chairil Anwar Anak Punk?

Bukan Kami Yang Menginginkannya

Menggali ilmu dan Pengalaman di Karang Asem

Dwifungsi Dan Moonlighting

Jika mungkin 

Tuhan bersedia

Isi dunia

Menjadi surga

Di mana cinta dan kasih sayang

Mengalir bebas

Tanpa cela

Mohon ini 

Mungkin mimpi

Tidak akan pernah

Terwujud sepenuhnya

Tetapi setidaknya

Kita bisa berusaha Menciptakan dunia

Nir sengsara

Bebas culas

Harmoni saja

Penuh cinta

Oka Swastika Mahendra

Mimpi sebelum matahari terbit

Negara, Bali, 21 Mei 2025

*PERSETAN PERDAMAIAN*

_jika oleh serigala berbulu domba_

Palestina siapa peduli!

Persetan perdamaian

Jika yang menjabat tangan

Masih menggenggam bayonet

Bom di belakang punggung

Jika yang tersenyum 

Pada meja perundingan

Baru saja 

Kejam membakar 

Rumah seorang ibu

Bergaya manusiawi

Menyisakan mainan anaknya

Terkubur di bawah tembok beton.

Badebah

Apa artinya “gencatan senjata”

Jika bau mesiu tetap bersiaga

Karena jeda hanyalah waktu

Untuk tetap kembali

Mengisi ulang peluru kebencian

Jangan khotbahi kami

Tentang cinta

Rasa kemanusiaan

Tentang dialog

Jika mikrofon internasional

Hanya berpihak pada penjajah

Tampak gagah

Duduk di kursi konferensi

Adalah makelar

Aktor berdasi

Penjual tanah leluhur kami

Demi tepuk tangan dunia

“Perdamaian” kata kalian

Ah badebah

Sementara desa kami 

Kalian jadikan peta investasi

Kalian beri pilihan

Anak-anak kami

Untuk mati, mengungsi, atau lupa sejarahnya

Aku sangsi

Ingkar berkali kali

Maka kini

Jangan tawarkan kesepakatan

Yang selalu ditulis dengan tinta kolonial

Engkau tandatangani dengan darah kami

_Ah gombal_

Kami sudah hafal

Setiap surat perjanjian

Adalah perang baru dengan wajah diplomasi

Serigala berbulu domba

Datang membawa janji dan persenjataan

Mengajak duduk di meja bundar

Sementara tanah kami

Kalian potong potong

Menjadi kotak-kotak penjara

Keadilan tak pernah tumbuh

Jika akar kompromi busuk

Damai tak akan lahir

Dari rahim penindasan yang terus dibiarkan

Jadi, persetan perdamaian

jika itu berarti diam,

jika itu berarti lupa,

jika itu berarti kami harus berdamai

dengan luka yang tak pernah diobati.

Kami tidak butuh perdamaian

Yang menjadikan kami budak

Di negeri kami sendiri.

Kami ingin kemerdekaan

Bukan belas kasihan

Oka Swastika Mahendra

Mimpi dini hari

Negara, Bali 21 Mei 2025

ANAK-ANAK PALESTINA

Belajar merasa

Tentang kemanusiaan

Siapa yang mencintai 

Anak anak terlunta

Tanah air Palestina

Saat malam 

Mereka terlelap

Kedalam liang

Hangat meringkuk

Dalam pelukan ibu 

Tak lebih dari batu nisan

Ketika langit 

Bukan pelangi

Melainkan logam 

Panas yang melesat

Dari dendam

Mereka tertidur 

Dalam doa 

Mulut tersendat

Mata terbuka

Makin dinihari

Tak lagi sempat 

Menutup cerita

Ketika tergempur

Di antara reruntuhan

Boneka kehilangan nama

Sekolah berubah

Menjadi puing 

Pelajaran luka

Siapa lagi

Bersedia beri

Saputangan kasih

Mengusap air mata

Makin habis

Tak sempat jatuh?

Karena hujan pun takut 

Menimpa tubuh-tubuh kecil itu

Dunia menatap sedih

Sambil menggulung layar

Mengganti kanal

Bum bum bum

Lalu diam

Apakah cinta

Telah lupa

Jalan ke Gaza?

Kita semua

Harus bertanya

Apakah belas kasih

Kini buta arah

Tersesat di lorong diplomasi

Sampai sekarang

Masih berdebu

Namun lihatlah

Anak anak ini

Dari jari kecil 

Meraba puing-puing

Lahir secercah cahaya

Bukan harapan murahan

Tetapi keberanian abadinya

Tidak bisa dihancurkan

Anak-anak itu

Sangat murni

Mereka tidak alpa

Masih setia

Menyebut nama Tuhan

Lidahnya tidak gentar 

Meski berdarah

Mereka tetap

Masih bermain

Bukan karena 

Perang itu hilang

Tapi karena jiwa mereka terlalu hidup

Menolak dikubur oleh kebencian

Siapa mencintai?

Anak-anak Palestina

Mungkin bukan kita

Karna hanya menulis puisi.

Tapi semoga 

Kata-kata ini 

Menjadi saksi

Bahwa pernah ada

Suara kecil

Sedang mencoba

Menamai luka

Anak anak Palestina

Dengan cinta

Oka Swastika Mahendra

Mimpi tengah malam

Negara, Bali 21 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Pembangunan Destinasi Wisata Harus Sejalan Dengan Pembinaan Tuan Rumah, Agar Selalu Ramah

Pembangunan Destinasi Wisata Harus Sejalan Dengan Pembinaan Tuan Rumah, Agar Selalu Ramah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00