POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Geng Motor ke Jalan Lurus

RedaksiOleh Redaksi
May 20, 2025
Dari Geng Motor ke Jalan Lurus
🔊

Dengarkan Artikel

Seruan Budaya Aceh untuk Menyelamatkan Anak Bangsa

Oleh Nyakman Lamjame

Mereka melaju di jalanan malam, memecah sunyi dengan raungan mesin dan keberanian tanpa arah. Kita menyebut mereka geng motor. Tapi di balik atribut dan knalpot bising itu, mereka bukan penjahat, mereka adalah anak-anak kita yang sedang mencari makna dalam kebingungan zaman.

Aceh pernah menjadi mercusuar peradaban, tempat syariat dan adat menyatu dalam keindahan nilai. Di tanah ini, lahir ulama, pejuang, dan pemuda-pemuda gagah yang menggetarkan dunia. Namun hari ini, sebagian generasi mudanya kehilangan kompas, terseret gelombang zaman yang tidak menyediakan peta pulang.

Apa yang salah?

Pemuda Bukan Musuh, Mereka Adalah Amanah

Pemuda adalah api. Jika tidak diarahkan, ia bisa membakar. Tapi jika dibimbing, ia akan menjadi cahaya. Rasulullah SAW tahu itu. Karena itu beliau tidak pernah memadamkan semangat anak muda—beliau mengarahkannya.

Lihat Mus’ab bin Umair—pemuda tampan, kaya, penuh gaya. Ketika hidayah menyentuh hatinya, ia tinggalkan kemewahan dan menjadi duta Islam pertama ke Madinah. Lihat Umar bin Khattab—keras, ditakuti, bahkan sempat hendak membunuh Nabi. Tapi ketika cahaya Qur’an merobek keangkuhannya, ia berubah menjadi simbol keadilan sepanjang masa.

Anak muda tak butuh dimaki. Mereka butuh diteladani.

Aceh dan Reusam: Panggilan untuk Memeluk, Bukan Mengusir

Aceh bukan tanah kosong. Ini tanah bertuah. Kita punya reusam—tata nilai yang tak tertulis, tapi meresap ke tulang. Kita punya meunasah—bukan sekadar tempat salat, tapi sekolah akhlak, ruang bertumbuh, panggung pengasuhan. Kita punya tambo, hikam ulama, dan syair yang dulu jadi cahaya di tengah gelap.

📚 Artikel Terkait

Dunia Tidak Butuh Kesalehanmu

Cut Nyak Meutia Permata Kesayangan Aceh

Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal

Mudahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

Namun, ketika meunasah ditinggalkan, ketika reusam hanya jadi simbol, ketika adat dikerdilkan menjadi seremoni tanpa ruh, maka generasi akan berjalan tanpa arah. Dan geng motor hanyalah gejala dari luka yang lebih dalam: hilangnya ruang makna dan rasa memiliki.

Anak muda kita tak menolak nilai, mereka hanya belum diajak bicara dengan bahasa yang mereka pahami: bahasa cinta, keteladanan, dan kesempatan.

Menggeser Pendekatan: Dari Represi ke Restorasi

Hari ini kita melihat aparat bergerak: razia, patroli, dan pembubaran. Tapi sejatinya, masalah ini tak bisa diselesaikan dengan seragam dan sirine. Karena luka mereka bukan di permukaan, tapi di hati dan struktur sosial.

Apa gunanya menangkap anak-anak muda, jika kita tak pernah menyentuh akar mengapa mereka memilih jalan itu?

Kita butuh restorasi sosial, bukan sekadar penegakan hukum. Kita butuh ruang transformatif, tempat mereka bisa mengalihkan energi liar menjadi karya. Kita butuh pendekatan kultural, yang tak sekadar melarang, tapi mengundang. Yang tak sekadar menertibkan, tapi memanusiakan.

Ikhtiar Kultural: Membangun Jalan Pulang

Bayangkan jika para mantan anggota geng motor dibina untuk menjadi mentor bagi adik-adiknya. Bayangkan jika meunasah kembali jadi tempat nongkrong yang keren—dengan ngaji yang hidup, diskusi yang tajam, dan seni yang memikat. Bayangkan jika seniman, ulama, pendekar adat, dan aktivis budaya bersatu membangun ekosistem pemuda yang bermartabat.

Aceh pernah melahirkan Malahayati, perempuan pemimpin armada laut. Aceh pernah melahirkan Teungku Chik di Tiro, ulama yang memimpin revolusi. Maka tidak mustahil kita melahirkan generasi baru: pemuda-pemuda tangguh yang bukan hanya patuh hukum, tapi teguh di jalan nilai.

Penutup: Aceh, Pulanglah ke Dirimu Sendiri

Kita sering bertanya: kenapa anak-anak muda itu menyimpang?

Tapi jarang kita bertanya: siapa yang membuat mereka merasa tidak punya rumah untuk pulang?

Aceh bukan hanya warisan masa lalu. Aceh adalah harapan masa depan. Tapi harapan itu hanya akan hidup, jika kita berani kembali ke akar: membina, bukan menghina. Memeluk, bukan mengusir. Menyediakan jalan pulang, bukan sekadar pagar larangan.

Karena pada akhirnya, anak-anak yang kita sebut “geng motor” itu bukan orang lain. Mereka adalah kita, yang pernah muda dan mencari arti. Mari kita bimbing mereka. Bukan dengan amarah. Tapi dengan cinta yang berakar pada adat, syariat, dan ruh kebangsaan.

Jika ingin perubahan, jangan hanya bangun pagar – bangunlah pelukan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Minah Ahmad

Puisi-Puisi Minah Ahmad

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00