• Latest

Belajar Tabayyun dari Dara dan Keresahan Dunia yang Penuh Berita

Mei 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar Tabayyun dari Dara dan Keresahan Dunia yang Penuh Berita

Siti Hajar by Siti Hajar
Mei 18, 2025
in Anak-anak, Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: Siti Hajar

Dara, anak perempuan kami yang kini berusia 14 tahun, sudah sejak sekolah dasar gemar bercerita. Setiap pulang sekolah, selalu saja ada kisah yang dibawanya ke rumah. Tapi bukan tentang pelajaran matematika atau tugas seni rupa, melainkan tentang kejadian-kejadian sosial di kelasnya—yang kerap kali berbau perseteruan. Ada kalanya antara teman sesama Muslim (laki-laki), sesama Muslimah (perempuan), atau antara teman laki-laki dan perempuan.

Hal yang membuat saya tertegun saat itu bukan hanya isi ceritanya, tapi satu istilah yang begitu sering diucapkannya: “tabayyun.” Dengan wajah serius dan nada suara penuh keyakinan, Dara akan berkata, “Tapi kami udah tabayyun, Ja.” (Aja—panggilan Dara untuk saya-ibunya).

“Kami cari tahu siapa yang mulai, kenapa bisa sampai ribut, dan apa yang sebenarnya terjadi,” tuturnya. 

Sebagai orang tua, saya dibuat tercengang. Bukan hanya karena ini kali pertama saya mendengar kata itu dari seorang anak SD, tapi karena makna yang dibawanya terasa begitu dalam dan dewasa.

Bagi Dara dan teman-teman di sekolah, tabayyun adalah upaya mencari tahu kebenaran. Bukan sekadar menilai dari satu sisi, apalagi langsung menyebarkan cerita yang belum tentu benar. Konon lagi membenarkan yang bersuara lantang dan pandai menyusun kata, sementara abai yang memilih diam karena tidak mau melukai hati temannya. 

Dara, teman-teman, dan guru di sekolah akan menelusuri darimana kisah bermula, siapa yang terlibat, bagaimana emosi berkembang, dan bagaimana akhirnya semua itu bisa pecah jadi konflik. Dan kini, saya merasa—kita, para orang dewasa di dunia digital ini, justru perlu belajar dari apa yang merekalakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berkembang.

Apa Itu Tabayyun?

Dalam Islam, tabayyun bukanlah sekadar anjuran etis, tapi perintah langsung dari Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyanu), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Ayat ini begitu relevan di tengah derasnya arus informasi saat ini. Tabayyun mengajarkan kita untuk menahan diri, mencari kebenaran, menggali kejelasan sebelum mengambil sikap atau menyebarkan sebuah berita.

Menyesal kemudian tiada guna. 

Ini bukan hanya soal benar dan salah, tapi soal menjaga kehormatan orang lain, menahan diri dari prasangka curiga kepada orang lain, serta merawat nalar dan nurani agar tak mudah tergelincir dalam fitnah.

Efek Negatif dari Mengabaikan Tabayyun

Saat prinsip tabayyun ditinggalkan, efeknya sangat nyata. Fitnah menyebar. Reputasi hancur. Hubungan sosial renggang. Bahkan bisa memicu konflik antar komunitas. Di media sosial, hal ini jauh lebih cepat dan lebih masif.

Sebuah potongan video yang terlepas dari konteks bisa menghancurkan karier seseorang. Sebuah pesan berantai yang tampak “meyakinkan” bisa menyulut amarah, menciptakan ketakutan massal, atau memicu kebencian antar kelompok.

Begitulah ketika informasi menyebar tanpa tabayyun—kebenaran dikaburkan, dan keadilan menjadi korban. Yang menyedihkan, tidak jarang berita-berita semacam ini justru lebih cepat viral dibanding kabar baik yang jernih dan penuh pelajaran.

Pengingat bagi Pengguna Media Sosial

Media sosial hari ini adalah ruang luas yang tak memiliki pagar. Informasi bergerak dalam hitungan detik, dari kota besar ke desa kecil, dari pelosok ke pusat kekuasaan, dari seorang influencer ke jutaan pengikutnya. Dalam lautan informasi ini, tabayyun seharusnya menjadi alat saring kita. Pengguna media sosial yang bijak seharusnya memiliki sifat dan sikap tabayyun.

ADVERTISEMENT

Teliti dulu informasi yang sampai kepada kita, tidak langsung menyebarluaskan. Pertimbangkan lagi, apakah ini akan memberi manfaat baik kepada pembaca setelah kita? Jika tidak, cukup sampai di kita saja. Tahan diri untuk tidak meneruskan dan menyebarkan informasi yang tidak bermanfaat itu.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Bayangkan jika setiap pengguna media sosial memiliki kebiasaan untuk mengecek sumber, memahami konteks, dan bertanya: “Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini bisa menyakiti seseorang?” Dunia digital akan jauh lebih sehat.

Sayangnya, banyak yang justru lebih suka menjadi “penyebar pertama”, bukan “peneliti pertama”. Demi menjadi yang tercepat, kita kadang lupa menjadi yang terbijak.

Teknologi seharusnya bukan hanya mempercepat penyampaian berita, tapi memperkuat proses verifikasi informasi. Algoritma media sosial semestinya tak hanya mengedepankan engagement, tapi juga etika. Namun karena sistem tak punya nurani, maka manusialah yang mesti menyalakan kesadaran itu.

Kitalah penyaring sejati dalam dunia digital yang tak berbatas.

Untuk Pembaca Setia…

Sampaikanlah berita yang bermanfaat, yang bisa menjadi pelajaran hidup. Jadilah penyambung informasi yang mencerahkan, bukan pemicu kerusuhan. Jangan biarkan berita hoaks memecah belah kita hanya karena beda suku, agama, atau pilihan politik. Bangsa ini terlalu berharga untuk dirusak oleh informasi yang tidak diverifikasi.

Mari belajar dari Dara, teman-temannya, dan guru-guru SD-nya. Dari kebiasaan mereka untuk tidak cepat menilai. Dari keberanian menggali informasi, mencari kebenaran, mencari akar masalah.

Tabayyun bukan hanya soal menelusuri fakta, mengumpulkan data, tetapi juga menumbuhkan empati dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Tulisan ini didedikasikan kepada guru-guru Sekolah Dasar Islam Cendekia (SDIC) Anak Bangsa Banda Aceh. Terimakasih banyak sudah mengajarkan banyak hal kepada ananda kami, juga kepada kami para orang tua. Semoga ini menjadi amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, bagi ustaz, ustazah, ummi, bunda, coach, dan semuanya yang berada di SDIC ANABA. Jazakumullahu khairan. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Ironi Papua

Ironi Papua

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com