POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menyatukan Kembali Dayah dan Sekolah Dasar: Jalan Pulang Membangun Karakter Anak Aceh

RedaksiOleh Redaksi
May 13, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman
Peneliti Independen Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh budaya digital, krisis karakter generasi muda menjadi isu serius di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Aceh. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah gejala disorientasi nilai dalam pendidikan dasar. Pendidikan formal di Aceh, khususnya di sekolah dasar negeri, cenderung terlalu fokus pada pencapaian akademik dan peringkat nasional—sementara warisan pendidikan karakter berbasis nilai lokal seperti dayah mulai tersisih.

Padahal, Aceh memiliki warisan pendidikan Islam yang kuat. Ratusan dayah kecil atau meunasah tersebar di desa-desa dan telah lama menjadi lembaga pembentukan karakter sosial-religius masyarakat Aceh. Dayah tidak hanya mendidik soal ibadah, tetapi juga menyemai akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan spiritualitas sejak dini. Sayangnya, warisan ini belum secara sistematis diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan dasar formal.

Kajian Awal dan Isu Riset

Hasil kajian awal kami (melalui observasi di lima sekolah dasar dan tujuh dayah kecil di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie) menunjukkan adanya kesenjangan karakter siswa antara yang aktif di dayah dan yang tidak. Misalnya, siswa yang aktif di dayah menunjukkan tingkat kedisiplinan salat mencapai 85%, kejujuran dalam interaksi sosial 80%, dan partisipasi kegiatan sosial 72%. Di sisi lain, siswa dari jalur formal yang tidak mengikuti pendidikan dayah menunjukkan angka jauh lebih rendah: hanya 43% disiplin ibadah, 49% nilai kejujuran sosial, dan 37% keterlibatan sosial.

Temuan ini menandakan adanya research gap penting: model pendidikan karakter berbasis lokal belum menjadi arus utama dalam pengembangan kurikulum nasional, bahkan di daerah istimewa seperti Aceh. Padahal, secara politis Aceh memiliki keistimewaan menjalankan syariat Islam dan secara budaya memiliki legitimasi kuat terhadap pendidikan berbasis dayah.

Perspektif Sosial Budaya dan Politik

Jika kita melihat lebih luas, pengabaian nilai-nilai dayah dalam pendidikan formal mencerminkan kegagalan negara dalam menerjemahkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan nasional terlalu tersentralisasi, padahal setiap daerah memiliki khazanah lokal yang berharga. Di Aceh, dayah adalah akar pendidikan yang telah membentuk peradaban sejak era Sultan Iskandar Muda. Penghilangan unsur dayah dari pendidikan dasar berarti memutus kesinambungan sejarah dan budaya masyarakat Aceh.

Secara politik, negara mestinya tidak hanya memfasilitasi pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menghargai modal sosial dan kultural lokal sebagai basis pembangunan manusia. Dayah adalah lembaga pendidikan akar rumput yang otonom, berakar pada kepercayaan masyarakat. Maka, pendekatan top-down dari Jakarta seringkali tidak efektif jika tidak dipadukan dengan pendekatan lokal bottom-up seperti dayah.

📚 Artikel Terkait

Rakernas IGI Banda Aceh 2023: Museum Aceh dan Kuliner Kopi

Nurturing Future Leaders: Reflections from the ASEAN Youth Camp 2025

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Syekh Abdurrauf al-Singkili; Pemuka Ulama Aceh

Integrasi Pendidikan: Jalan Menuju Reformasi Kurikulum Lokal

Mengintegrasikan nilai-nilai dan praktik dayah ke dalam sistem pendidikan dasar bukan berarti mengganti kurikulum nasional. Melainkan, menyesuaikan metode dan pendekatan pendidikan dengan konteks sosial dan nilai-nilai kearifan lokal. Pemerintah Aceh, melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Syariat Islam, harus mengembangkan kurikulum muatan lokal yang menjembatani antara dunia dayah dan sekolah dasar.

Langkah awal bisa dilakukan melalui pendekatan mixed-method dalam penelitian:

Kuantitatif: mengukur efektivitas program integratif melalui indikator perilaku siswa (disiplin, kejujuran, keaktifan ibadah, dan partisipasi sosial).

Kualitatif: menggali narasi dari guru, orang tua, dan tokoh dayah tentang perbedaan dampak karakter dan nilai kehidupan antara siswa yang terpapar pendidikan dayah dan yang tidak.

Nilai Keagamaan dan Kedaulatan Identitas

Secara spiritual, pendidikan yang tidak menyentuh dimensi ruhani hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, namun rapuh secara moral. Di tengah arus pergaulan global yang liberal, Aceh harus menegaskan jati dirinya melalui pendidikan karakter berbasis nilai Islam—bukan sebagai eksklusivisme, tetapi sebagai bentuk kepercayaan diri budaya dalam menghadapi dunia modern.

Dengan semangat rahmatan lil ‘alamin, nilai-nilai dari dayah dapat menjadi tawaran penting dalam percakapan pendidikan global: bahwa membentuk karakter tidak bisa diserahkan pada teknologi atau proyek-proyek instan. Dibutuhkan kedekatan emosional antara guru dan murid, keteladanan, spiritualitas, dan pembiasaan nilai, sebagaimana telah dilakukan di dayah selama ratusan tahun.

Penutup: Saatnya Aceh Memimpin dari Pinggiran

Jika reformasi pendidikan nasional tidak memberi ruang pada kearifan lokal, maka daerah-daerah seperti Aceh harus berani memimpin dari pinggiran. Penelitian ini bukan sekadar proyek akademik, tetapi bagian dari usaha membangun kembali jembatan antara dunia dayah dan dunia sekolah—antara akar dan batang pohon pendidikan bangsa.

Dengan menyatukan kembali nilai-nilai dayah ke sekolah dasar, Aceh tidak hanya mempertahankan identitas, tetapi juga menawarkan model pendidikan karakter yang otentik, kontekstual, dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Akankah Kisah Cintaku Sama  Tragisnya Seperti Seorang Tan Malaka?

Akankah Kisah Cintaku Sama  Tragisnya Seperti Seorang Tan Malaka?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00