POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Educate Your Son: Sebuah Bisikan Lembut yang Mengajak Kita Berpikir

Sindi HazirahOleh Sindi Hazirah
May 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sindi Hazirah

Akhir-akhir ini, tagar #EducateYourSon ramai menghiasi linimasa media sosial. Sebuah kalimat sederhana yang ternyata menyimpan begitu banyak luka, harapan, dan keinginan untuk berubah. Tagar ini bukan seruan kemarahan semata, tapi lebih dari itu—ia adalah doa, permintaan, dan ajakan dari para perempuan di seluruh dunia agar dunia menjadi tempat yang sedikit lebih aman.

Selama ini, perempuan sering diajari untuk menjaga diri. Mulai dari cara berpakaian, jam keluar rumah, bahkan cara berbicara. Tapi mengapa hanya mereka yang diajari untuk takut? Mengapa hanya mereka yang diperingatkan tentang bahaya, sementara anak laki-laki jarang—atau bahkan tidak pernah—diajak bicara tentang bagaimana menjadi manusia yang tidak menjadi bahaya bagi orang lain?

Di balik tagar itu, ada cerita. Cerita tentang perempuan yang disalahkan karena bajunya. Tapi pernahkah kita mendengar tentang Museum What Were You Wearing di Amerika? Sebuah ruang pameran yang menghadirkan pakaian-pakaian asli dari para penyintas kekerasan seksual. Di sana, tergantung rapi: seragam sekolah, baju tidur panjang, jeans longgar, baju anak-anak, bahkan piyama bayi. Semua pakaian itu dikenakan oleh korban saat mereka diserang. Melihatnya membuat kita terdiam. Membuat kita bertanya ulang: apakah benar pakaianlah penyebabnya?

Dan ini bukan hanya cerita di luar negeri. Di Indonesia pun, kita pernah mendengar kasus seorang anak perempuan berusia 13 tahun di Bengkulu yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pria. Atau kasus pelecehan oleh oknum guru pesantren kepada belasan santriwati. Semua ini terjadi bukan karena pakaian, bukan karena malam hari, dan bukan karena korban “mengundang”.

📚 Artikel Terkait

Menelisik Rumah Adat Situbondo Bersama Cak Tutun, Guru Tari Topeng dan Budayawan Lokal

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh Sosialisasikan Kegeologian di MIN 11 Banda Aceh

JANGAN BERI IKAN, BERILAH KAIL

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Sistem pendidikan kita—baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat ibadah—masih condong pada satu sisi. Anak perempuan terus diingatkan untuk tunduk dan menutup aurat. Tapi kepada anak laki-laki, jarang ada nasihat tentang pentingnya menghormati, tentang batasan, tentang consent. Ini bukan kesalahan satu orang, tapi cerminan dari budaya yang sudah mengakar lama.

Namun, tulisan ini bukan untuk menghakimi laki-laki. Karena kami percaya, tidak semua laki-laki sama. Ada banyak laki-laki yang juga marah dan muak melihat berita-berita kekerasan terhadap perempuan. Ada yang diam-diam menyimpan rasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa. Ada yang mengajari anak laki-lakinya untuk lembut, sopan, dan menghargai perempuan.

Maka dari itu, Educate Your Son bukan hanya ajakan untuk para ibu dan ayah, tapi untuk seluruh masyarakat. Ajarkan anak laki-laki bahwa menjadi kuat bukan berarti mendominasi. Ajarkan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti berhak atas tubuh orang lain. Dan ketika ada yang melanggar, jangan lindungi mereka dari konsekuensi. Karena selama ini, korbanlah yang selalu menanggung rugi—secara sosial, emosional, dan kadang fisik. Pelaku terlalu sering diberi alasan, dimaklumi, bahkan dibela.

Kita bisa memulai dari hal kecil: mengubah cara kita berbicara, cara kita menegur, dan cara kita mendidik. Kita bisa menciptakan dunia di mana anak perempuan tidak lagi tumbuh dengan rasa takut, dan anak laki-laki tidak lagi dibebani standar maskulinitas yang salah arah. Karena ketika kita benar-benar mendidik anak laki-laki, kita sedang melindungi anak perempuan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Sindi Hazirah

Sindi Hazirah

Lahir di desa Meugit, Ujung Rimba, Pidie Aceh. Lulusan SMA N 1 Mutiara, Beureunun yang bercita-cita ingin menjadi penulis yang karyanya dikenal dengan nama baik selama berabad-abad. Layaknya William Shakespeare yang terkenal dengan karya Romeo and Juliet, karya fenomenal yang hampir semua orang di dunia tahu tentang karyanya. Benar-benar legenda.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Hidupnya Jauh dari Sejahtera

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00