• Latest

Lelaki yang Pernah Menjadi Presiden

Mei 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Lelaki yang Pernah Menjadi Presiden

Redaksi by Redaksi
Mei 11, 2025
in #Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Armen Setiaji Untung

Orang-orang di Gang Lestari mengenalnya sebagai Pak Narto Presiden. Bukan karena pernah menjabat, bukan pula karena kemiripan wajah dengan siapa pun yang pernah duduk di kursi itu. Tapi karena ia memang pernah menjadi presiden. Di dalam kepalanya sendiri.

Dulu, saat masih waras, begitu orang-orang bilang, Pak Narto adalah guru sejarah di SMP Negeri, lelaki tenang dengan rapi jali jas cokelatnya, dan suara berat yang sabar saat menjelaskan Perang Dunia atau G30S. Ia punya istri, Bu Rukmi, dan dua anak yang kuliah di UGM. Hidupnya tampak lurus seperti alur sejarah yang ia ajarkan.

Tapi entah sejak kapan, tetangga mulai melihatnya keluar rumah jam dua dini hari, berdiri di ujung gang sambil memberi pidato tentang “stabilisasi nasional” dan “kedaulatan pangan.” Anak-anak takut, tapi para ibu memaafkan. “Kasihan, stres habis pensiun,” begitu gumam mereka sambil menyiapkan kopi di pagi buta.

Kemudian mulailah ia membawa map-map tebal ke warung Bu Jum. Isinya kosong. Tapi setiap halaman ia buka dengan penuh wibawa, seperti sedang membahas RUU penting bersama DPR. Ia duduk di bangku plastik merah, memanggil Bu Jum sebagai “Ibu Menteri Sosial,” dan memberi arahan tentang distribusi beras rakyat miskin.

Bu Jum tak pernah membantah. “Iya, Pak Presiden,” katanya sambil menuang kopi. Lebih karena takut ketumpahan kopi kalau dibantah, bukan karena percaya jabatan itu sungguhan.

— 

Puncaknya terjadi saat Hari Kemerdekaan.

Pak Narto menggelar upacara di lapangan kecil belakang gang. Ia berdiri di depan tiang bendera bambu yang dipasang anak-anak untuk lomba balap karung. Pak Narto mengenakan jas putih peninggalan pernikahannya, lengkap dengan selempang merah yang entah diambil dari mana.

Ia mengangkat tangan. “Hormat grak!” teriaknya dengan suara yang mengejutkan seekor ayam betina.

Anak-anak terkekeh, tapi para tetua diam. Sebab pidatonya pagi itu menggigilkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Kita sedang dalam ancaman! Musuh telah menyusup dalam wujud pemalas, koruptor, dan tukang ngutang di warung! Kita harus bersih, bersih dari pengkhianat-pengkhianat bangsa yang memakai sandal jepit tapi berjiwa asing!”

Beberapa warga mengangguk pelan. Bukan karena setuju, tapi karena merasakan getirnya kalimat itu.

Tiga hari setelah pidato, Pak Narto menghilang. Kata Bu Rukmi, ia “dijemput orang rumah sakit.” Yang lain tahu, maksudnya: rumah sakit jiwa.

— 

Tapi cerita tak selesai di sana.

Tiga bulan kemudian, ia kembali. Lebih kurus, mata cekung, dan bicara pelan. Ia tidak lagi menyebut siapa pun sebagai menteri. Bahkan kepada Bu Jum, ia hanya berkata, “Boleh minta teh tawar, Bu?”

Namun kedamaian itu rapuh. Seperti kabel listrik telanjang yang hanya ditutupi lakban, sekali tersentuh sedikit, ia menggelegar kembali.

Pada minggu keempat, setelah pulang dari masjid, ia berkata kepada Pak Man tetangganya yang bekerja sebagai hansip malam, bahwa negara dalam bahaya.

“Ada intel asing menyamar jadi tukang sayur. Dia jual kol dua ribu, padahal harga pasar tiga ribu. Itu sabotase!”

Pak Man mengangguk. Sudah biasa. Tapi malam itu juga, Pak Narto melempar sayur ke tengah jalan dan menulis selebaran tangan: “Tolak Sayur Impor!” Ditempelkan di tiang listrik.

Besoknya, warga tergelak. Tapi Bu Rukmi tak keluar rumah seharian.

— 

Kadang, di sore yang tenang, ia duduk di pos ronda dan mencoret-coret kertas: rencana pertahanan negara, alokasi dana desa, struktur kabinet bayangannya. Ia mencatat, menyusun, dan sesekali tersenyum, seolah menemukan strategi rahasia mengalahkan dunia.

Tapi paranoia mulai menggigit lebih dalam. Ia menuduh radio di warung menyadap pikirannya. Ia memecahkan kaca jendela tetangga karena “kamera mikro” tersembunyi di balik pot geranium. Ia menuduh Pak RW sebagai kaki tangan CIA karena punya parabola.

ADVERTISEMENT

Akhirnya, warga rapat.

“Ini sudah gila betulan,” kata Bu Sarti, pemilik toko kelontong. “Kalau dia bakar rumah gara-gara ngira kompor itu alat sadap?”

Pak RW mengangguk. “Tapi masak kita kirim dia ke rumah sakit lagi? Kan belum ada yang luka.”

“Kalau tunggu ada yang luka, sudah telat,” timpal Pak Man.

Tapi Rukmi datang, mengenakan kebaya sederhana dan suara gemetar. “Saya yang salah. Saya pikir, setelah obat-obatannya habis, dia baik-baik saja. Tapi dia makin… jadi orang lain.”

Suasana hening.

Akhirnya diputuskan: bukan rumah sakit, tapi sistem ronda. Setiap malam, dua tetangga akan berjaga bergiliran. Bukan untuk menangkap maling, tapi untuk mengawasi “Presiden” mereka.

— 

Waktu berjalan, dan pelan-pelan gelagatnya memudar.

Pak Narto tidak lagi menggelar rapat kabinet. Ia lebih banyak diam. Kadang hanya duduk memeluk lutut di depan teras. Kadang memandangi langit, seolah mendengar pesan dari panglima besar yang tak pernah datang.

Suatu hari, ia memanggil Pak Man.

“Saya tidak bisa tidur. Mereka masih memata-matai saya. Dari atas pohon mangga. Dengar kan suara-suara itu?”

Pak Man menjawab pelan, “Mungkin itu hanya angin, Pak Narto.”

Pak Narto mengangguk. Tapi matanya tak meyakini apa pun lagi.

Malam itu, ia menulis surat di sobekan kertas nasi bungkus: 

Kepada Rakyatku yang Tercinta. 

Saya mengundurkan diri dari jabatan Presiden. Saya sadar, saya bukan lagi pemimpin yang mampu melindungi kalian. Suara di kepala saya lebih keras daripada suara hati kalian.

Maafkan saya.

TTD

Narto Soedirman

Presiden Republik Gang Lestari

—

Esok paginya, ia duduk di pos ronda, memakai baju batik, dan tersenyum pada anak-anak yang lewat. Ia tidak bicara tentang politik. Tidak tentang kudeta atau konspirasi. Ia hanya bertanya, “Kalian sudah makan?”

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Dan ketika seorang anak menjawab, “Belum, Pak Presiden,” Narto tertawa kecil, lalu mengeluarkan dua permen jahe dari sakunya.

“Ini saja dulu. Subsidi terakhir dari negara yang gagal.” 

Sejak itu, orang-orang memanggilnya Pak Narto lagi. Bukan Presiden. Tapi dalam hati, mereka tahu: lelaki itu pernah menjadi pemimpin, walau hanya di negerinya sendiri, negeri yang luas, gaduh, dan penuh musuh, yang tinggal dalam kepalanya.

Dan seperti pemimpin mana pun yang pernah jatuh, ia hanya ingin dikenang karena pernah mencoba.

2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com