Oleh Rika Puji Lestari
(Anggota Satupena Kab. Blora)
Di ujung senja, saat langit merekah luka,
aku menulis puisi yang tak jadi apa-apa.
Kata-katanya gugur sebelum sempat bermakna,
seperti dedaunan tua yang lupa pulang ke tanah.
Angin menyisir sunyi dari balik jendela,
membawa bayangmu yang telah lama tiada.
Aku tak tahu harus menulis tentang siapa,
ketika namamu pun mulai kehilangan suara.
Ada jeda yang tak bisa kuisi,
ada rindu yang tak bisa kuhindari.
Dan puisi ini—sepi dalam makna,
hanya gema dari hati yang tak bersuara.
Senja mengakhiri hari tanpa janji,
seperti aku mengakhiri bait tanpa isi.
Tinggal puisi kosong di ujung waktu,
yang menatap malam…
tanpa tahu harus berharap pada siapa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.














Discussion about this post