🔊
Dengarkan Artikel
Oleh Rika Puji Lestari
(Anggota Satupena Kab. Blora)
Di ujung senja, saat langit merekah luka,
aku menulis puisi yang tak jadi apa-apa.
Kata-katanya gugur sebelum sempat bermakna,
seperti dedaunan tua yang lupa pulang ke tanah.
Angin menyisir sunyi dari balik jendela,
membawa bayangmu yang telah lama tiada.
Aku tak tahu harus menulis tentang siapa,
ketika namamu pun mulai kehilangan suara.
📚 Artikel Terkait
Ada jeda yang tak bisa kuisi,
ada rindu yang tak bisa kuhindari.
Dan puisi ini—sepi dalam makna,
hanya gema dari hati yang tak bersuara.
Senja mengakhiri hari tanpa janji,
seperti aku mengakhiri bait tanpa isi.
Tinggal puisi kosong di ujung waktu,
yang menatap malam…
tanpa tahu harus berharap pada siapa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.






