• Latest
Where the Heart Stayed: A Foreign Student’s Tale in Aceh

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia?

Mei 1, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Siapa yang Paling Bertanggung Jawab atas Keterpurukan Ekonomi Indonesia?

Dayan Abdurrahmanby Dayan Abdurrahman
Mei 1, 2025
Reading Time: 4 mins read
Where the Heart Stayed: A Foreign Student’s Tale in Aceh
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Refleksi dari Aceh sebagai Poros Syariah dan Kekuatan Religi Bangsa

Oleh Dayan Abdurrahman

Keterpurukan ekonomi Indonesia hari ini bukan sekadar akibat fluktuasi global atau krisis pasar. Ini adalah refleksi dari kegagalan tata kelola, kehilangan arah moral, dan ketergantungan terhadap sistem kapitalisme yang tidak lagi relevan dalam menjawab problematika keadilan sosial.

Sebagai negeri yang kaya sumber daya dan budaya religius, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menawarkan solusi alternatif, salah satunya melalui nilai-nilai syariah yang telah hidup dan mengakar kuat di Aceh.


Aceh: Cahaya Syariah di Ujung Barat Nusantara

Aceh, sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariah secara formal, telah menjadi simbol kekuatan religi nasional. Dalam konteks ini, Aceh bukan hanya menjalankan hukum dalam pengertian sempit, tetapi mengusung prinsip-prinsip keadilan sosial, kesetaraan ekonomi, dan tanggung jawab moral dalam setiap aspek kehidupan.

Syariah di Aceh berpotensi menjadi model sistem ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Prinsip zakat, larangan riba, larangan eksploitasi, dan penguatan ekonomi komunitas adalah tawaran solutif terhadap kegagalan kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir elit. Dunia hari ini mulai melirik ekonomi berbasis nilai – dan Indonesia, melalui Aceh, sudah memilikinya.


Kapitalisme: Gagal Menghadirkan Kesejahteraan Global

Sistem kapitalis global telah menunjukkan wajah aslinya: memusatkan kekayaan di tangan segelintir orang, menghancurkan solidaritas sosial, dan memperparah ketimpangan. Krisis ekonomi berulang kali terjadi bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena kerakusan dan hilangnya etika ekonomi.

Dalam sistem kapitalis, manusia dinilai dari produktivitas dan konsumsi, bukan dari kontribusi moral dan sosial. Nilai spiritual dan kearifan lokal terpinggirkan. Maka, tak heran jika dunia mulai mencari alternatif sistem yang lebih manusiawi dan berkelanjutan – sistem yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga kemaslahatan.


Indonesia: Negeri Religius yang Belum Dimaksimalkan

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan dengan keberagaman agama yang luar biasa, Indonesia sejatinya memiliki fondasi moral dan spiritual yang kokoh. Nilai-nilai Pancasila, kearifan lokal, serta ajaran agama-agama besar di Indonesia, semua mendorong keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara materi dan moralitas.

Namun sayangnya, tata kelola nasional sering kali abai terhadap kekuatan ini. Kebijakan ekonomi masih terjebak pada logika pertumbuhan semu dan utang luar negeri. Pembangunan dilihat dari sisi fisik, bukan dari keadilan distribusi atau kemaslahatan sosial. Di sinilah letak tanggung jawab terbesar pemimpin bangsa: gagal menggali dan menerapkan kekuatan religius dan budaya lokal sebagai pondasi pembangunan nasional.


Membangun Ulang dengan Spirit Syariah dan Keadilan Sosial

Baca Juga

IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026

Aceh sebagai simbol syariah Indonesia bisa menjadi poros kebangkitan ekonomi moral, bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga tawaran kepada dunia. Sistem keuangan syariah, tata niaga yang adil, jaminan sosial berbasis zakat dan wakaf, serta etika produksi yang tidak eksploitatif – semuanya sudah menjadi bagian dari khazanah Islam dan tradisi lokal kita.

Penerapan nilai-nilai ini secara konsisten dan inklusif bisa menjadi penangkal dominasi sistem kapitalis yang destruktif. Jika dikembangkan lebih lanjut dengan pendekatan ilmiah dan kolaboratif, Aceh bisa menjadi “laboratorium moral ekonomi” bagi dunia yang haus akan keadilan dan keseimbangan.


Siapa yang Bertanggung Jawab, dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

Tanggung jawab atas keterpurukan ekonomi Indonesia tidak bisa dilimpahkan pada satu pihak:

ADVERTISEMENT
  1. Pemerintah Pusat dan Daerah – karena merekalah pemegang amanah dan pembuat kebijakan utama.
  2. Pengusaha dan Pemilik Modal – yang harus mengubah orientasi bisnis dari kapitalistik menuju ekonomi berbasis nilai.
  3. Pemuka Agama dan Budaya – karena mereka adalah penjaga moral kolektif dan inspirasi perubahan.
  4. Lembaga Pendidikan dan Intelektual – karena mereka mencetak generasi yang harus berpikir kritis dan etis.
  5. Rakyat Umum – karena perubahan dimulai dari bawah, dari kebiasaan, pilihan politik, dan solidaritas sosial.

Krisis ini bukan akhir, tetapi awal dari refleksi kolektif. Dunia sedang mencari arah baru, dan Indonesia – khususnya Aceh – bisa menjadi pelita. Saat kapitalisme gagal, maka nilai syariah dan kekuatan religi bangsa ini dapat menjadi jalan terang menuju kesejahteraan yang berkeadilan dan bermartabat.

Penulis adalah peminat isu-isu sosial ekonomi dan keagamaan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Hari Buruh dan Keadilan Sosial: Suara yang Tak Boleh Dibungkam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com