POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
April 22, 2025
Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris FKEAI Jawa Tengah

Hari Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif terhadap hubungan manusia dan alam. Di tengah krisis iklim, langkah kecil seperti menanam pohon menjadi bentuk kontribusi nyata.

Pohon matoa (Pometia pinnata) adalah flora endemik Indonesia yang tumbuh subur di Papua, Maluku, dan Sulawesi. Ia bukan hanya eksotis dalam rasa buahnya, tapi juga kaya nilai ekologis.

Dengan tajuk “Tanam Pohon Matoa, Selamatkan Bumi”, gerakan penghijauan tahun ini menyentuh akar dari problem ekosistem: degradasi lingkungan dan hilangnya tutupan hijau.

Pohon matoa tergolong tanaman yang toleran terhadap berbagai kondisi tanah. Ketahanannya menjadikannya cocok sebagai pohon penghijauan di kawasan urban maupun pedesaan.

Selain menghasilkan buah yang bergizi, matoa mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen dalam jumlah signifikan. Ia menjadi penyeimbang alami dalam rantai kehidupan.

Daun-daun matoa juga menyediakan tempat hidup bagi serangga penyerbuk. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

Penanaman pohon matoa sejalan dengan prinsip ekologis berkelanjutan. Kita tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan, menanam masa depan.

Melalui kampanye tanam matoa di Hari Bumi, kesadaran kolektif bisa dibangun, bahwa bumi tidak akan pulih tanpa keterlibatan aktif manusia.

📚 Artikel Terkait

Teungku Chik Di Leupu; Pengarang Kitab Masailal Muhtadi dan Murid Teungku Syiah Kuala

KETERBATASAN BUKAN LAGI PEMBATAS

Ranah (Pendidikan) Kebudayaan di Kemdikbud

The Last Man

Satu pohon memang tak bisa menyelamatkan dunia, tetapi sejuta matoa yang tumbuh bisa menjadi hutan harapan. Inilah bentuk perlawanan terhadap perubahan iklim.

Matoa juga menyimpan kearifan lokal, di mana masyarakat adat memaknainya sebagai simbol keseimbangan dan kelimpahan. Memelihara matoa, berarti merawat budaya.

Kita sering merayakan kemajuan dengan membangun gedung tinggi dan jalan lebar. Namun, merawat bumi artinya juga memberi ruang hidup bagi pohon dan satwa.

Sekolah-sekolah, kampus, dan kantor bisa menjadi lokasi strategis untuk menanam matoa. Edukasi dan aksi lingkungan dapat berpadu dalam praktik nyata.

Bagi generasi muda, menanam matoa bukan sekadar tugas pelestarian, melainkan investasi ekologis jangka panjang. Pohon hari ini, oksigen esok hari.

Hari Bumi adalah panggilan moral agar kita tidak lagi menjadi penonton kerusakan. Matoa menjadi lambang bahwa kita bisa memilih untuk bertindak.

Pemerintah dan swasta perlu bersinergi dalam gerakan tanam pohon. Insentif, regulasi hijau, dan kampanye publik akan memperkuat dampaknya.

Bumi sedang panas, es kutub mencair, dan bencana menjadi biasa. Tapi secercah hijau di halaman rumah bisa memperlambat laju kehancuran.

Matoa tidak menuntut banyak: cukup sinar, air, dan tanah. Tapi ia memberi banyak: buah, naungan, udara bersih, bahkan estetika.

Di Hari Bumi ini, mari mulai dari yang sederhana. Satu benih matoa di pekarangan bisa menjadi pohon rindang di masa depan.

Seperti pepatah bijak, “Siapa menanam, dia menuai.” Menanam pohon matoa adalah menanam kehidupan yang akan dinikmati oleh anak cucu.

Jika bumi adalah ibu, maka matoa adalah pelukannya yang teduh. Ia merawat, menguatkan, dan menyembuhkan luka-luka yang kita buat.

Esok mungkin terlalu terlambat. Maka tanamlah hari ini, agar bumi kembali tersenyum. Dan biarlah matoa menjadi saksi cinta kita pada kehidupan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Dunia Dongeng

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00