• Latest
Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa

Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa

April 22, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
April 22, 2025
Reading Time: 3 mins read
Hari Bumi, Tanam Pohon Matoa
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris FKEAI Jawa Tengah

Hari Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif terhadap hubungan manusia dan alam. Di tengah krisis iklim, langkah kecil seperti menanam pohon menjadi bentuk kontribusi nyata.

Pohon matoa (Pometia pinnata) adalah flora endemik Indonesia yang tumbuh subur di Papua, Maluku, dan Sulawesi. Ia bukan hanya eksotis dalam rasa buahnya, tapi juga kaya nilai ekologis.

Dengan tajuk “Tanam Pohon Matoa, Selamatkan Bumi”, gerakan penghijauan tahun ini menyentuh akar dari problem ekosistem: degradasi lingkungan dan hilangnya tutupan hijau.

Pohon matoa tergolong tanaman yang toleran terhadap berbagai kondisi tanah. Ketahanannya menjadikannya cocok sebagai pohon penghijauan di kawasan urban maupun pedesaan.

Selain menghasilkan buah yang bergizi, matoa mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen dalam jumlah signifikan. Ia menjadi penyeimbang alami dalam rantai kehidupan.

Daun-daun matoa juga menyediakan tempat hidup bagi serangga penyerbuk. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati lokal.

Penanaman pohon matoa sejalan dengan prinsip ekologis berkelanjutan. Kita tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan, menanam masa depan.

Melalui kampanye tanam matoa di Hari Bumi, kesadaran kolektif bisa dibangun, bahwa bumi tidak akan pulih tanpa keterlibatan aktif manusia.

Baca Juga

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sarjana Dalam Gendongan

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025

HABA Si PATok

Mei 13, 2025

Satu pohon memang tak bisa menyelamatkan dunia, tetapi sejuta matoa yang tumbuh bisa menjadi hutan harapan. Inilah bentuk perlawanan terhadap perubahan iklim.

Matoa juga menyimpan kearifan lokal, di mana masyarakat adat memaknainya sebagai simbol keseimbangan dan kelimpahan. Memelihara matoa, berarti merawat budaya.

Kita sering merayakan kemajuan dengan membangun gedung tinggi dan jalan lebar. Namun, merawat bumi artinya juga memberi ruang hidup bagi pohon dan satwa.

Sekolah-sekolah, kampus, dan kantor bisa menjadi lokasi strategis untuk menanam matoa. Edukasi dan aksi lingkungan dapat berpadu dalam praktik nyata.

Bagi generasi muda, menanam matoa bukan sekadar tugas pelestarian, melainkan investasi ekologis jangka panjang. Pohon hari ini, oksigen esok hari.

Hari Bumi adalah panggilan moral agar kita tidak lagi menjadi penonton kerusakan. Matoa menjadi lambang bahwa kita bisa memilih untuk bertindak.

Pemerintah dan swasta perlu bersinergi dalam gerakan tanam pohon. Insentif, regulasi hijau, dan kampanye publik akan memperkuat dampaknya.

Bumi sedang panas, es kutub mencair, dan bencana menjadi biasa. Tapi secercah hijau di halaman rumah bisa memperlambat laju kehancuran.

Matoa tidak menuntut banyak: cukup sinar, air, dan tanah. Tapi ia memberi banyak: buah, naungan, udara bersih, bahkan estetika.

Di Hari Bumi ini, mari mulai dari yang sederhana. Satu benih matoa di pekarangan bisa menjadi pohon rindang di masa depan.

ADVERTISEMENT

Seperti pepatah bijak, “Siapa menanam, dia menuai.” Menanam pohon matoa adalah menanam kehidupan yang akan dinikmati oleh anak cucu.

Jika bumi adalah ibu, maka matoa adalah pelukannya yang teduh. Ia merawat, menguatkan, dan menyembuhkan luka-luka yang kita buat.

Esok mungkin terlalu terlambat. Maka tanamlah hari ini, agar bumi kembali tersenyum. Dan biarlah matoa menjadi saksi cinta kita pada kehidupan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Dunia Dongeng

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com