• Latest
Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi

Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi

April 20, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi

Redaksiby Redaksi
April 20, 2025
Reading Time: 2 mins read
Ketika Relasi Mengalahkan Prestasi
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh : Ririe Aiko

Beberapa hari lalu, saya menghadiri acara reuni lintas angkatan di kampus. Seperti biasa, suasana hangat itu dipenuhi tawa dan pertanyaan klasik, “Sekarang kerja di mana?” Namun dari sekian banyak percakapan yang mengalir, satu cerita justru membekas paling dalam, kisah ironi seorang teman yang dahulu dikenal sangat berprestasi.

Ia adalah mahasiswa teladan semasa kuliah. Indeks prestasi nyaris sempurna, hampir semua mata kuliah ia tutup dengan nilai A. Ia cerdas, kritis, aktif dalam organisasi, dan juga punya segudang prestasi sejak SD hingga Universitas. Kami semua sepakat, jika ada satu orang yang seharusnya sukses besar setelah lulus, maka dia-lah orangnya.

Namun takdir berkata lain. Saat reuni itu, kami mendengar bahwa ia belum juga mendapatkan pekerjaan tetap. Ia menjalani hidup dengan pekerjaan serabutan, bahkan sempat menjajakan oleh-oleh wisata demi menyambung hidup. Bukan bermaksud merendahkan profesinya, namun d isini saya ingin menyoroti betapa besar jurang antara kapasitas intelektualnya dan realitas yang dihadapinya kini.

Di sisi lain, salah satu teman kami yang dulunya dikenal ‘pas-pasan’ secara akademis, kini justru bekerja di perusahaan travel internasional, sering bepergian ke luar negeri. Ketika ditanya bagaimana ia bisa sampai di titik itu, jawabannya sederhana: karena relasi.

Dari sanalah obrolan melebar, tentang betapa besarnya peran koneksi dalam dunia kerja hari ini. Beberapa teman yang kini mapan pun mengakui hal serupa: mereka bisa masuk ke posisi strategis bukan hanya karena nilai atau kemampuan teknis, tapi karena ‘kenal orang dalam’, ‘direkomendasikan saudara’, atau ‘dibantu senior’.

Baca Juga

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sarjana Dalam Gendongan

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025

HABA Si PATok

Mei 13, 2025

Ironis, memang. Namun inilah wajah realita: prestasi bukan jaminan. Sehebat apa pun Anda di atas kertas, jika tak punya akses, Anda bisa kalah start dari mereka yang punya jaringan sosial luas.

Fakta ini membuka mata, bahwa kesuksesan tidak melulu tentang seberapa pintar seseorang dalam akademik. Dunia kerja bergerak dengan logika yang berbeda, logika yang sering kali tak tertulis dalam kurikulum kampus.

Dalam kondisi tertentu, ijazah, piagam penghargaan, dan transkrip nilai bisa menjadi simbol formal semata. Yang menentukan langkah selanjutnya bisa jadi adalah sapaan ringan dalam forum alumni, rekomendasi diam-diam dari senior, atau sekadar dikenalnya nama kita dalam satu lingkaran.

Bukan berarti prestasi kehilangan makna. Namun dalam lanskap sosial hari ini, seringkali relasi yang lebih dulu membuka pintu, baru kemudian kemampuan berbicara.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar tidak adil. Tapi kenyataan kadang memang jarang adil. Kita selalu berpikir bahwa yang berjuang kerasa pasti akan selalu berhasil, tapi ternyata keberhasilan kadang adalah milik mereka yang punya privilege. Inilah kenyataan hidup dan kita harus memahami cara kerjanya, agar tidak terlalu banyak menelan kekecewaan, dan bisa lebih ikhlas menerima setiap takdir yang digariskan untuk kita.

Dan satu dari cerita reuni itu semakin jelas tergambar betapa banyaknya anak bangsa berpotensi dibiarkan tanpa karier yang jelas, tumpukan ijazah dan sertifikat seakan hanya menjadi pajangan bisu yang tak menjanjikan kesusksesan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
BENGKEL OPINI RAKyat

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com