• Latest
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

April 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Jangan Menjadi Guru HanaPah Lawan

Muhammad Afnizalby Muhammad Afnizal
April 17, 2025
Reading Time: 4 mins read
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Afnizal

Beberapa tahun yang lalu, pendidikan kita sempat terombang-ambing dalam badai covid-19 yang mengerikan. Impresi yang muncul dalam benak kita tentu beragam. Namun rasanya semuanya bermuara pada satu kesimpulan bahwa terdapat gejolak yang terjadi.

Misalnya saja, belajar jarak jauh yang diistilahkan dengan daring (dalam jaringan/belajar online atau dari rumah).Sempat diterapkan dalam sistem pendidikan kita, telah memberikan banyak solusi sekaligus masalah yang  cukup berarti.

Terbuka jalan baru dan inovasi untuk cara belajar model baru yang sangat menghemat ruang dan waktu. Sedangkan di sisi lain, seakan membuka tabir jurang yang cukup curam bahwa masih ada ketimpangan kasta pendidikan dalam lapisan masyarakat.

Fenomena tersebut menjelaskan kadar kesiapan semua pihak,yang semestinya bertanggung jawab terhadap jalannya rotasi pendidikan generasi bangsa. Dapat berupa pengambil kebijakan, maupun yang berperan secara langsung terhadapjalannya proses belajar mengajar di sekolah terutama guru.

Fasilitas belajar yang terintegrasi dengan situasi terkini semisal laptop, jaringan  internet dan smartphone yang sangat kurang di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). Maupun ketidaksiapan siswa dalam menerima perkembangan teknologi, baik dari sisi mental serta kemampuan ekonomi keluarga. Membeli fasilitas teknologi adalah bahan ulasan yang cukup sering dikeluhkan oleh pemateri di dalam sekian banyak webinar, akan fenomena tersebut. Saban waktu alasan tersebut adalah rintangan besar dalam tegaknya keadilan dalam pendidikan.

Dalam situasi seperti ini rasanya kita membutuhkan sosok guru yang “pah lawan“, yaitu sosok guru yang pah (pas artinya), pah lawan yang dimaksud di sini adalah kata ungkapan dari bahasa Aceh yang berarti “pas lawannya”. Pahlawan yang dimaksud adalah seiras ketika menjadi teman duel, atau seirama misalnya ketika menjadi teman duet.

Pah lawan dalam ungkapan Aceh dimaksudkan untuk sesuatuyang seimbang. Komparasi nilai, jika kuat maka samalah kuatnya dan jika lemah samalah lemahnya. Seorang guru mendidik siswa milenial, maka akan pah lawan guru tersebut,jika menjadi sosok guru yang bergaya mengajar milenial bukan kolonial. Guru pah lawan akan menempatkan diri, sehingga cocok dengan gen-z maupun gen alpha.

Sosok guru yang pah lawan tersebut akan menyiasati setiap kendala yang muncul dalam menghambat saluran ilmu. Mereka berani melakukan gebrakan walau sebesar zarah, dalam mewujudkan siswa-siswinya menjadi pandai dan mulia.Guru semacam ini muncul dalam setiap masa, tidak terbatas ruang dan waktu.

Terkisah cerita dari orang tua dahulu, tatkala mereka mengenang guru ahli hampir segala bidang ilmu. Menulis di batu, sabak dan grip (alat tulis zaman dulu). Merupakan solusi ketika kertas dan pena belum ada apalagi komputer dan laptop. Situasi covid-19 juga menyisakan kisah terkait  muncul guru yang mengolah transmisi radio di sekolah menjadi saluran belajar daring, ketika mereka menghadapi kendala siswa yang tidak memiliki smartphone.

Hadir sebagai sosok guru yang “cocok” untuk anak kota dengan segala akses fasilitas dan kemampuan serapan pengetahuan mareka. Kurang tepat rasanya membawa gaya mengajar ini kepada anak pedalaman desa dengan memaksakan mareka belajar seharian penuh. Layaknya les privat, padahal belum tentu minat belajar mereka lebih besar.

Terdapat kenyataan di antara mereka mungkin ada yang harus membantu orangtua pada sore hari demi bisa makan, fenomena ini akan menjadikan ketimpangan dalam proses pembelajaran demikian juga sebaliknya.

Tidak akan menjadi guru pah lawan ketika membawa gaya mengajar yang seharusnya cocok diterapkan kapada anak SD dengan “mendikte”. Penerapan gaya belajar semacam ini kepada anak SMP apalagi SMA, maka akan muncul pemberontakan dari siswa. 

Ahli psikologis menjelaskan bahwa anak usia SMP/SMA sudah mulai tidak mau untuk didikte, mereka akan lebih menerima untuk diajak diskusi dan diajarkan mengambil keputusan diantara beberapa pilihan. Gaya mendikte oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya yang masih kecil, untuk tidak menyekutukan Allah.  Sangatlah berbeda dengan yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail yang cenderung sudah remaja. 

Mengajak ismail berduskusi“bagaimana pendapatmu” ketika dia akan disembelih padahalj elas ini adalah titah dari Sang Pencipta.

Baca Juga

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Maret 12, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Maret 8, 2026

Kerapkali kita memperhatikan beberapa “oknum” guru yang mengajar tidak memposisikan diri sebagai lawan yang pas (pah lawan) dengan siswanya. Mereka akan sangat berang ketika beberapa siswanya membuat keriuhan dan kegaduhan di dalam kelas. Alih-alih mengeluarkan kata-kata mulia dalam memberikan arahan dan mendoakan, malahan cenderung menganggap siswa mareka yang masih kecil seolah seumuran dengan mereka. 

Seorang guru pun, umumnya usia SD atau SMP dulu mungkin nakalnya melebihi siswanya sekarang. Kecenderungan psikologis nakal-pintar anak  didiknya dibandingkan dengan psikologis dirinya yang sudah cukup dewasa seperti sekarang.

Lebih lanjut menjadi guru pah lawan artinya menerima dengan lapang dada perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari pada menyoal efek mengerikan yang  akan terjadi kepada siswa ketika menggunakan smartphone. Rasanya lebih bijaksana tatkala membimbing mereka untuk memanfaatkan gawai dengan sebaik-baiknya, untuk belajar dan mengakses ilmu.

ADVERTISEMENT

Tidak akan menjadi guru yang pah lawan jika tidak menerima keadaan ini. Studi menyebutkan jika anak akan terus bertambah rusak tatanan moral dan psikis mereka, akibat pengaruh buruk gadget di dalam genggaman.  Jika di luar sekolah mereka bebas mengakses situs berkonten negatif seperti pornografi dan judi online, maupun game yang sekarang paling digandrungi anak-anak. 

Sedangkan di dalam sekolah mereka dilarang untuk menggunakan smartphone bahkan untuk tujuan belajar, dengan alasan mereka akanter pengaruh oleh efek buruk alat ini. Maka sungguh memilukan.

Akhirnya, menjadi guru pah lawan ini akan berjalan seiring dengan cita-cita pendidikan milik kita semua. Konsep belajar yang selama ini dianggap terkungkung oleh dogma dan aturan yang sudah tidak relevan dengan zaman. 

Perlu pengorbanan dan mengajar dengan hati untuk pulihkan pendidikan. Akan tidak pah lawan jika guru masih enggan meng-upgrade dirinya untuk siap mengajar dalam berbagai sutuasi dan kondisi. Ikan hiu melayang-layang, i love you semua guru tersayang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Dr Warsito dan Dua Dokter Bejat

Dr Warsito dan Dua Dokter Bejat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com