POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Koperasi Desa Mengulang Kebijakan Kolonial dan Pepesan Kosong

RedaksiOleh Redaksi
April 16, 2025
Koperasi Desa Mengulang Kebijakan Kolonial dan Pepesan Kosong
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Suroto


Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Direktur Cooperative Research Center (CRC) Institut Teknologi Keling Kumang

Pemerintah Indonesia seperti sedang mengulang kegagalan strategi kebijakan lama dalam pembangunan koperasi. Koperasi diusahakan sebagai program nasional dengan pendekatan atas-bawah (top down).

Ketika dunia sedang trend mengurangi jumlah koperasi untuk konsolidasi perkuat gerakan melalui peleburan (merger) dan penggabungan (amalgamasi ), pemerintah justru melakukan penambahan jumlah koperasi besar besaran hingga sebanyak 80 ribu Koperasi Desa (Kopdes) melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025.

Pemerintah seperti sedang mencoreng wajah gerakan koperasi di mata dunia tepat di Tahun Koperasi Internasional 2025 yang ditetapkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). PBB dalam resolusinya A/78/L.71 menetapkan tahun 2025 sebagai Tahun Koperasi Internasional (International Year of Cooperatives/IYC 2025) dan diberikan tema” Koperasi Membangun Dunia Lebih Baik”. IYC 2025 ini adalah bentuk pengakuan penting dunia terhadap capaian koperasi sebagai organisasi otonom, mandiri dan demokratis.

Sejarah perjalanan koperasi di seluruh dunia mengajarkan hal penting bahwa koperasi yang dibangun secara top down itu lemahkan prakarsa masyarakat, lemahkan basis kewirausahaanya. Daya lestari koperasi hancur dengan pola kebijakan program nasional yang politis dan menutup agenda masyarakat sendiri.

Pembentukan koperasi secara atas bawah (top down) dan distimulasi oleh program pemerintah telah terbukti membunuh prakarsa masyarakat untuk tumbuh kembangkan koperasi sesuai dengan nilai dan prinsip prinsipnya yang benar. Koperasi kita semakin menjauh dari keberhasilanya.

Keberhasilan banyak koperasi  di seluruh penjuru dunia itu kuncinya  karena pemerintah hargai kemandirian, otonomi dan demokrasinya yang secara kebijakan makro didukung dengan agenda demokratisasi ekonomi lebih luas. Di samping dijaga tata kelolanya sendiri secara aktif dengan kembangkan program pendidikan koperasi untuk anggota  dan masyarakat.

Kebijakan pembentukan Koperasi Desa yang modalnya akan dibiayai dari sumber APBN, APBD, APBDes dan sumber lainya berupa kredit program baik model chanelling maupun executing terutama dari Bank BUMN adalah bentuk perusakan masif terhadap hakekat koperasi. Pemerintah seperti sedang mengulang pola kebijakan lama yang maksudnya adalah melakukan pembinaan namun justru sebetulnya ciptakan pisau tajam untuk membinasakan koperasi.

Kebijakan yang dilakukan adalah sama dengan kebijakan kolonial. Melalui kekuasaan yang koersif negara, koperasi dihabisi prakarsanya dengan digelontori dana dari kas Pemerintah melalui Hulp Spaaken Bank di Jaman Kolonial Hindia-Belanda maupun Kyumaika ketika jaman Pemerintah Pendudukan Jepang. Tujuanya agar prakarsa masyarakat untuk membangun koperasi lumpuh, dan disisi lain berarti semakin perkuat kekuatan penetrasi bisnis kapitalis elitis.
 

Apa yang dilakukan pemerintah seperti mengulang kebijakan lama ketika bangun Badan Usaha Unit Desa (BUUD) yang kemudian diintegrasikan dengan Koperasi Unit Desa (KUD).  Pola kebijakanya sama persis dengan Orde Baru ketika kembangkan Inpres 4 tahun 1984 yang tujuanya adalah untuk konsolidasikan koperasi di desa yang multifungsi ke dalam KUD yang kemudian segera mati suri ketika dicabut privelege-nya dengan dikeluarkanya Inpres No. 18 tahun 1998.

Koperasi di Indonesia dihadapkan dalam satu kondisi yang buruk. Secara makro, koperasi digencet melalui kebijakan yang menjauh dari sistem demokrasi ekonomi yang jadi amanah Konstitusi. Disisi lain, program pembinaan koperasi justru mendorong mafia  proyek pembinasaan koperasi yang lebih banyak untungkan makelar proyek ketimbang manfaatnya untuk masyarakat.

Kegagalan KUD di masa lalu jelas, karena dari segi prinsip organisasinya tidak banyak diperhatikan. Pengembangan organisasinya terlalu banyak diintervensi dan pendirian koperasinya didominasi motif untuk mendapatkan berbagai fasilitas kebijakan pemerintah ketimbang sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat dan promosikan manfaat lembaga koperasi dibandingkan dengan swasta kapitalis. 
 

📚 Artikel Terkait

Teungku Chik Tanoh Abee; Ulama Mujahid dan Qadhi Rabbul Jalil Aceh

Untaian Puisi Hajriah RE

Hanami Terakhir di Ueno

Kucari Jejakmu

Koperasi, apapun itu jenisnya, mustinya dikembangkan di atas organisasi yang baik.  Koperasi itu adalah entitas bisnis otonom dan secara administrasi publik merupakan badan hukum privat, persona ficta yang diakui oleh negara. Pemerintah seharusnya cukup berikan lingkungan yang kondusif dengan jalankan agenda demokratisasi ekonomi. Sesuatu yang hingga hari ini jauh di tinggal di belakang dan bahkan sebagai diskursus pun tidak pernah dilakukan.

Kegagalan kita membangun koperasi  di atas tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Baik itu paradigma, regulasi maupun kebijakan pemerintah sendiri. Namun, faktor kerusakan paling fatal dari koperasi di Indonesia terutama justru karena faktor regulasi dan kebijakan pemerintah sendiri. Selama ini, Pemerintah Indonesia justru yang banyak berperan sebagai pencipta dan sekalgus perusak koperasi di masyarakat. Goverment as creator and destroyer.

Fenomena koperasi palsu, koperasi papan nama selama ini, semua itu terstimulasi dari kebijakan pemerintah yang dominan. Maraknya rentenir berbaju koperasi selama ini manfaatkan kelemahan regulasi koperasi. Sehingga makin pertebal semak belukar koperasi yang menutup koperasi genuine, koperasi sejati.

Ditambah secara regulasi umum yang cenderung kembangkan sistem kapitalis ketimbang demokrasi ekonomi, hilangkan lahan subur bagi tumbuh kembang koperasi. Ini persis yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial.

Pepesan Kosong

Gagasan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sepertinya sedang terus diglorifikasi pemerintah. Pejabat yang ditugasi untuk mengembangkan Kopdes ini mulai bicara serampangan dengan bebankan berbagai macam persoalan besar negara kepada lembaga yang tidak jelas konsepnya. Seperti misalnya soal isu perangi kemiskinan, pengangguran dan lain lain dari Kopdes.

Koperasi memang dapat memerangi kemiskinan dan pengangguran, tapi di manapun di seluruh pelosok dunia koperasi itu dibangun melalui mekanisme partisipasi masyarakat secara mandiri, bukan dengan janji janji pejabat.

Perkataan bombastis dari pejabat bahwa Kopdes ini akan segera hasilkan keuntungan 2000 trilyun rupiah dari modal 400 trilyun yang akan disediakan, akan rekrut pengangguran sebesar 8 juta orang itu hanya seperti janji politisi di masa kampanye, dan tidak layak diucapkan oleh pejabat publik.

Kopdes ini dari segi konsep saja sudah salah dari awal dan hanya mereproduksi ide lama yang gagal seperti Koperasi Unit Desa(KUD). Jadi membebani dengan beban beban besar kenegaraan seperti itu sungguh sangat memalukan. Padahal dilihat dari konsep, sumber modalnya, bisnisnya saja belum jelas.

Kenapa beban beban besar kebangsaan dan kenegaraan itu tidak dibebankan kepada BUMN melalui konsolidasi BPI Danantara yang sudah jelas modalnya, bisnisnya, dan juga regulasinya? Kenapa harus dibebankan kepada Kopdes, lembaga kecil kecil yang baru level gagasan yang tidak jelas?

Kalau sumber modalnya dari APBN, pemerintah saat ini kan sedang hadapi defisit neraca pembayaran alias untuk bayar utang saja harus gali lobang buat jurang karena untuk bayar bunga dan angsuran jatuh tempo saja musti berutang. Di nota keuangan juga tidak tampak.

Sementara itu, jika sumber modalnya itu dari APBDes itu kan seperti sedang mengadu domba dua lembaga dengan BUMDes yang sudah eksis lebih dulu. Inipun jumlahnya sangat kecil karena dana desa itu seluruh Indonesia hanya kurang lebih 70 trilyun dan dibagi seluruh desa kurang lebih hanya 1 milyard per desa dan ini alokasinya bukan hanya untuk BUMDes tapi untuk pembangunan lainya termasuk infrastruktur.

Sementara itu, jika gunakan skema kredit program seperti KUR di Bank BUMN misalnya, maka tentu akan berbenturan dengan kebijakan prudensial dari bank tersebut. Ini jelas tidak realistis.

Kalau serius, kenapa tidak perlakukan Kopdes ini seperti yang dilalukan oleh Pemerintah kepada BUMN dengan lakukan mekanisme imbreng (penyerahan) asset negara kepada perseroan BUMN selama ini?. Kenapa kalau upaya privatisasi BUMN untuk kepentigan elite didukung habis habisan, sementara untuk rakyat banyak hanya diberi janji?

Ini berarti pemerintah itu sedang sengaja hanya buat janji janji manis kepada rakyat dengan pepesan kosong sementara mereka sedang lakukan upaya perampasan asset milik rakyat besar besaran melalui BPI Danantara melalui mekanisme imbreng dan privatisasi.

Jakarta, 15 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00