• Latest

DARI GURUN PASIR KE PUSAT DUNIA

April 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

DARI GURUN PASIR KE PUSAT DUNIA

Redaksiby Redaksi
April 9, 2025
Reading Time: 7 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Indonesia Perlu Belajar dari United Emirat Arab

  • Oleh Denny JA

Negara besar bukan warisan sejarah. Ia adalah puisi masa depan yang ditulis dengan kerja hari ini, dan dimulai dari sebuah mimpi yang berani.

Mempelajari sukses United Emirat Arab, saya teringat negeri sendiri: Indonesia.

Tahun 1971, tujuh emirat kecil di bawah bayang-bayang Inggris memutuskan menyatukan diri. Uni Emirat Arab pun lahir. Saat itu, sebagian besar wilayah hanyalah padang pasir dan pemukiman kecil nelayan dan pedagang.

Dubai adalah kota pelabuhan yang relatif lebih maju. Tapi yang lainnya? Hanya hamparan pasir dan suhu ekstrem. PDB-nya tak seberapa, penduduknya kurang dari satu juta.

Namun, dunia berubah dengan cepat. Dan salah satu kisah transformasi paling dramatis dalam sejarah manusia modern terjadi di sini. Di bawah langit Arab, di tengah padang pasir, kawasan ini menjelma menjadi kota futuristik.

Apa yang terjadi?

-000-

Minyak, Tapi Bukan Sekadar Minyak

Banyak negara menemukan minyak. Tapi tak semua berhasil menggunakannya untuk membangun masa depan.

UEA, terutama Abu Dhabi, punya cadangan minyak besar. Namun para pemimpinnya sadar bahwa minyak adalah berkah yang sementara. Sheikh Zayed dan Sheikh Rashid, pendiri dua emirat utama, tidak hanya berpikir untuk satu dekade. Mereka berpikir untuk satu abad.

Mereka membangun sekolah, rumah sakit, infrastruktur jalan, dan perumahan rakyat. Tapi mereka juga memelihara mimpi: menjadikan UEA pusat dunia.

Roadmap Panjang pun disusun: Dubai Plan 2021, Abu Dhabi Vision 2030

Setiap dekade, UEA menyusun peta jalan baru. Dubai Vision 2021, Abu Dhabi Vision 2030, dan kini UAE Centennial 2071.

Tak ada visi yang final. Semua direvisi, disempurnakan, dan disesuaikan dengan perubahan zaman. Mereka melibatkan konsultan terbaik dunia—McKinsey, BCG, dan pakar-pakar independen dari MIT hingga Oxford.

Tapi bukan hanya soal teknokrat. Ini tentang semangat nasional:
Untuk tidak menjadi penonton sejarah. Tapi penulisnya.

-00”-

Strategi Lima Pilar pun disusun, dibuat roadmapnya hingga detil, untuk menjadi pedoman pembangunan:

1.  Diversifikasi Ekonomi

Sejak 1990-an, Dubai mengurangi ketergantungan pada minyak. Kini lebih dari 90% PDB Dubai berasal dari non-minyak: pariwisata, logistik, real estate, dan teknologi.

2.  Infrastruktur Kelas Dunia

Burj Khalifa bukan hanya simbol. Ia adalah pesan: Dubai bisa jadi pusat global.

Bandara, pelabuhan Jebel Ali, dan sistem transportasi didesain untuk mendukung arus barang dan manusia.

3.  Free Zones dan Pajak Rendah

UEA menciptakan kawasan ekonomi bebas seperti Dubai Internet City dan JAFZA yang menarik investor dengan regulasi longgar dan fasilitas unggul.

4.  Branding Global

Lewat event seperti Expo 2020, UEA membangun citra internasional.

ADVERTISEMENT

Emirates Airlines pun menjadi duta budaya Arab yang modern dan efisien.

5.  Investasi dalam SDM dan Teknologi

Kota seperti Masdar (Abu Dhabi) dirancang sebagai kota berteknologi tinggi dan ramah lingkungan.

UEA juga menjadi rumah bagi museum sains, AI University, dan sekolah elite dari AS dan Eropa.

Gurun adalah simbol keheningan. Tapi UEA menjadikannya simbol peradaban baru.

Ada filosofi dalam pembangunan UEA: bahwa sejarah bukan ditunggu, tapi diciptakan.

Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum berkata:

“Di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: pembuat sejarah dan penonton sejarah. Dan kami tidak mau hanya menonton.”

UEA tidak membuang akar Islamnya. Masjid tetap megah, adzan tetap berkumandang, dan syariat tetap dihormati.

Tapi modernitas hadir berdampingan: perempuan bekerja di parlemen, startup berkembang, dan konser musik internasional berlangsung rutin. Keberagaman budaya, cara berpakaian, filosofi hidup dihormati.

Ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ini adalah eksperimen besar dalam menyelaraskan tradisi dan inovasi.

Tak semua mulus. Ada kritik soal ketimpangan, pekerja migran, dan keberlanjutan lingkungan. Tapi UEA tak menutup telinga. Mereka membuat reformasi hukum tenaga kerja, investasi hijau, dan target net-zero carbon 2050.

Negara ini menjadi laboratorium sosial, ekonomi, dan politik paling mencolok di Timur Tengah.

-000-

UEA Hari Ini: Dari Pasir ke Panggung Dunia. Lihatlah datanya:

•   PDB per kapita di atas US$ 40.000

•   Kota teraman di dunia: Abu Dhabi

•   Bandara tersibuk internasional: Dubai

•   Ekspansi global: Investasi UEA ada di pelabuhan Afrika, teknologi Eropa, hingga energi hijau Asia

•   Wisata dunia: 16 juta turis per tahun

Transformasi UEA bukanlah sulap. Tapi hasil dari visi jangka panjang, fleksibilitas adaptif, dan keberanian berpikir besar.

Baca Juga

No Content Available

Padang pasir tak menghalangi impian, jika impian itu dirawat dengan ilmu dan kerja keras.

“Kami tidak akan bergantung pada kekayaan minyak selamanya. Kami akan membangun ekonomi berbasis ilmu pengetahuan, keberanian, dan inovasi.”

— Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan

Jika ingin membangun kota, pikirkan sepuluh tahun.
Jika ingin membangun peradaban, pikirkan seratus tahun.

UEA melakukannya dari nol. Dan dunia kini menoleh.

-000-

INDONESIA 2045: MEMETAKAN MIMPI, MENJALANI PERADABAN

“Negara besar tak hanya soal ekonomi. Tapi tentang jiwa yang tumbuh bersama tanahnya.”

Membangun negara dimulai dari sebuah mimpi. Tapi mimpi saja tak cukup. Ia harus dituangkan menjadi peta jalan, lengkap dengan tikungan dan tanjakan yang harus dilalui. Di titik inilah sejarah berpindah dari harapan menjadi tindakan.

Uni Emirat Arab adalah contoh. Dari padang pasir yang nyaris tak berpenghuni, ia menjelma menjadi magnet dunia. Tapi mari berpaling ke tanah kita sendiri—Indonesia.

Di tahun 2045, seratus tahun kemerdekaannya, Indonesia diprediksi menjadi negara keempat terbesar dunia secara ekonomi. Sebuah capaian luar biasa. Tapi izinkan kita merenung sejenak:

Apakah menjadi besar secara ekonomi cukup untuk disebut peradaban yang agung?

Karena manusia tak hanya butuh nasi dan roti. Kita juga butuh sastra dan puisi. Kita lapar akan spiritualitas yang dalam, akan makna dan pengharapan. Kita rindu demokrasi yang bukan pura-pura. Pemerintahan yang bersih, yang tak menukar masa depan demi keuntungan sesaat. Dan langit yang biru, sungai yang bening, udara yang tak membunuh anak-anak kita secara perlahan.

Maka saatnya kita menyusun Narasi Indonesia 2045. Bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi. Tapi juga pertumbuhan jiwa bangsa. Sebuah narasi yang menyatukan teknologi dan tradisi, modernitas dan kearifan lokal, inovasi dan welas asih.

Indonesia memiliki potensi besar untuk belajar dari roadmap UEA. Dengan kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, dan populasi muda yang produktif.

Kita dapat menyusun langkah strategis yang serupa: diversifikasi ekonomi berbasis teknologi, investasi dalam pendidikan berkualitas tinggi, pembangunan infrastruktur hijau, dan branding global yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.

Sebuah “Indonesia Vision 2045” perlu dirancang dengan melibatkan pakar lokal dan internasional, sambil tetap menjaga harmoni antara modernitas dan tradisi.

Hanya dengan visi yang terencana, Indonesia dapat menjadi pusat dunia yang tidak hanya kuat secara ekonomi tetapi juga bermartabat secara peradaban.

Indonesia tidak ditakdirkan menjadi sekadar penonton sejarah dunia. Tapi penulisnya.

Dan penulis yang baik, selalu memulai kisah besarnya dengan satu kalimat yang kuat:

Aku bermimpi. Dan aku tak sendiri.***

Jeddah, 8 April 2025

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, sastra, agama dan spiritualitas, politik, sejarah dan catatan perjalanan bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

UJIAN NASIONAL dan Surat Cinta Kepada IKN - Puisi- Puisi Safri Naldi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com