POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 27, 2025
Juwita yang Pergi dalam Sunyi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani Wah kalau kalau

Sebagai mantan jurnalis, saya ikut berbelasungkawa atas wafatnya, Juwita, seorang jurnalis asal Banjarbaru Kalsel. Apa yang pernah dirasakan Juwita, pernah juga saya rasakan. Bedanya, Tuhan masih memberi saya nafas hingga hari ini. Inilah kisah perginya Juwita dalam sunyi.

Hujan turun perlahan, menyelimuti kota Banjarbaru dengan kesedihan tak kasat mata. Di tepi jalan kawasan Gunung Kupang, tubuh seorang perempuan muda tergeletak kaku. Wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa keteguhan, seolah ia telah bertarung habis-habisan sebelum ajal menjemput.

Juwita, seorang jurnalis berusia 25 tahun. Masih belia. Ia telah pergi. Ia bukan sekadar wartawan biasa. Tetapi, pejuang kata yang tak kenal takut. Ia menggali kebenaran dari tanah yang kerap menelannya. Kini, tubuhnya yang tak bernyawa menjadi saksi bisu dari misteri yang mengelilingi kematiannya.

Sejak kecil, Juwita bercita-cita menjadi jurnalis. Ia ingin menulis bukan sekadar berita, tetapi keadilan. Berbekal semangatnya, ia bergabung dengan Newsway, sebuah media daring yang meliput berbagai isu di Kalimantan Selatan. Tugasnya meliputi Banjarbaru dan Martapura, daerah yang tak selalu ramah bagi mereka yang menggali terlalu dalam.

Ia bekerja dengan ketekunan yang nyaris fanatik. Tak peduli hujan, terik, atau ancaman yang mengintai, ia tetap menulis. Liputannya kerap mengungkap kasus korupsi, bisnis gelap, hingga laporan investigasi yang mengguncang pihak-pihak berkepentingan. Beberapa minggu sebelum kematiannya, Juwita tengah mengerjakan sebuah laporan tentang penyelundupan ilegal yang melibatkan oknum berpengaruh.

Pada malam itu, 22 Maret 2025, Juwita tak pernah kembali ke rumahnya. Keesokan harinya, ia ditemukan di tepi jalan kawasan Gunung Kupang. Awalnya, polisi menduga ia mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ada sesuatu yang janggal, terlalu janggal untuk diabaikan.

📚 Artikel Terkait

Mengabu Usia

IBUKU PAHLAWANKU

Kota Batu dan Dwianto Setyawan: Momentum Literasi Lokal

ESA Galang Dana Untuk Korban Kebakaran di Gayo Lues

Barang-barang pribadi Juwita hilang. Ponselnya, laptopnya, dan bahkan dompetnya lenyap. Jika ini kecelakaan, mengapa jejak-jejak itu dihilangkan? Tubuhnya pun menyimpan luka-luka yang tidak biasa. Ada memar di pergelangan tangannya, luka sayatan di lengannya, dan bekas seretan di kakinya.

Rekan-rekan seprofesinya mulai bergerak. Mereka menolak menerima kematiannya sebagai takdir semata. Suara-suara mulai menggema. Ini bukan kecelakaan, ini pembunuhan.

Kasus ini mengguncang publik. Dunia jurnalistik berduka, tetapi mereka juga marah. Tekanan demi tekanan mendorong kepolisian untuk mengusut lebih dalam. Hingga akhirnya, seorang anggota TNI AL berinisial J ditetapkan sebagai tersangka.

J adalah sosok yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus yang tengah diselidiki Juwita. Apakah ia terbunuh karena tulisannya? Apakah ia tahu sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui?

Keluarga Juwita terpukul. Ibunya, seorang wanita paruh baya yang selama ini selalu mendukung anaknya, kini harus menerima kenyataan pahit bahwa putrinya tak akan pernah pulang. “Anak saya hanya ingin menyampaikan kebenaran, mengapa dia harus mati?” tangisnya pecah dalam pelukan kerabat yang ikut berduka.

Kini, proses hukum sedang berlangsung. Publik menuntut keadilan. Mereka menolak membiarkan kematian Juwita menjadi sekadar angka dalam laporan tahunan. Ia adalah simbol dari kebenaran yang terbungkam. Setiap kata yang ia tulis kini menjadi nyala api yang tak bisa dipadamkan.

Mereka yang mencintainya menangis, tetapi mereka juga bersumpah: Juwita tidak akan dilupakan. Ia akan hidup dalam setiap jurnalis yang terus menulis, dalam setiap kebenaran yang terungkap, dalam setiap suara yang menolak bungkam.

Di suatu tempat, di balik kabut senja Banjarbaru, roh Juwita mungkin tersenyum. Ia telah pergi dalam sunyi, tetapi suaranya akan tetap menggema selamanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00