• Latest
Pararaton Bertopeng

Pararaton Bertopeng

Maret 21, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pararaton Bertopeng

Redaksiby Redaksi
Maret 21, 2025
Reading Time: 2 mins read
Pararaton Bertopeng
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Agung Marsudi

RAJA panggung itu bernama Rocky Gerung. Ia kini pemilik kata “dungu”. Dicomotnya kata itu dari kamus, hingga orang lain grogi menggunakan kata itu lagi. Ia memilih kata dungu, selain bodoh.

Raja panggung berikutnya adalah seorang petinggi negeri, yang boleh jadi karena kegeramannya pada situasi politik kiwari, terlanjur memakai diksi, “ndasmu”, yang kini mubal kemana-mana.

Sejatinya ini bukan sekedar soal diksi atau pilihan kata. Laksana magma yang tersumbat di kepala. Sehingga, dungu atau ndasmu, lalu meledak begitu saja, menjadi lahar panas di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dua kata itu, dianggap kasar di telinga. Tak sopan. Tak patut. Meski banyak kosakata yang lebih kasar dari itu, beredar. Bisa dibayangkan, jika dua kata itu dibubuhi kata rezim di depannya, jadilah “rezim dungu” atau “rezim ndasmu”. Nasi telah menjadi bubur. Apapun itu, “mulutmu, harimaumu”.

Meski boleh pinjam sebentar, istilah Gus Dur, “Gitu aja kok repot!”. Ya, repotlah! Sebab politik juga menyangkut kearifan. Nilai-nilai luhur. Budi pekerti.

Dungu bukanlah topeng. Ndasmu apalagi. Tapi karena diucapkan oleh pararaton, para pesohor negeri, maka berdampak serius. Meninggalkan semacam residu, dan menjadi bahan olok-olok, omon-omon. Ia telah menjelma menjadi patologi sosial yang berbahaya.

Sepantasnya, dungu tak dipakai Rocky Gerung, ndasmu tak dipakai Pak Prabowo. Sebab bagi Gerung, dungu, terlanjur seperti, sekali lancung ke ujian. Bagi Prabowo ndasmu adalah sabda pandhito ratu.

Pararaton,1 para petinggi, para peneraju, para pemangku kekuasaan, hati-hati dengan diksi. Meski awalnya hanya bermain kata, tetapi bisa membawa malapetaka. Ini bukan ranah kelirumologi ala Jaya Suprana.

Dungu milik kamus, yang dipilih Rocky Gerung menjadi bahasa berdialektika. Ndasmu, milik publik, boleh jadi tak berkelas, diangkat ke permukaan politik kelas atas. Ingat, “ndasmu kuwi nggone dhuwur” tempatnya di atas. Tempat yang terhormat. Sebab dalam bahasa Jawa krama inggil, kepala itu disebut “mustaka”.

Indonesia, bangsa besar, bangsa yang terhormat. Tak butuh Pararaton bertopeng. Sebab sebagai bangsa kita tidak hanya sudah defisit keuangan, tapi juga defisit keteladanan. Bahasa menunjukkan bangsa. Kita tidak mau disebut bangsa dungu, apalagi bangsa “ndasmu”.

Solo, 21 Maret 2025

ADVERTISEMENT
  1. Pararaton, yang dikenal juga sebagai “Kitab Raja-Raja,” adalah naskah historiografi Jawa Kuno yang mencatat sejarah kerajaan di Nusantara, khususnya Kerajaan Singasari dan Majapahit. Ditulis dalam bahasa Kawi, naskah ini menggabungkan fakta sejarah dengan legenda, sehingga dianggap sebagai sumber penting, meskipun harus disandingkan dengan sumber lainnya untuk mendapatkan gambaran sejarah yang akurat. ↩︎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
EMPATI PENYAIR DAN MUSISI DUNIA BUAT KRAKATOA

EMPATI PENYAIR DAN MUSISI DUNIA BUAT KRAKATOA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com