POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi Bustan Basir Maras

Bustan Basir MarasOleh Bustan Basir Maras
March 19, 2025
Tags: Puisi
🔊

Dengarkan Artikel

Tentang Ibu

ibu melahirkan aku dari sepi
menjadi malam, pagi dan siang.

ibu melahirkan aku dari tanah, menumbuhkan
battilang, kanunang, menjadikan ibu lebih tangguh
berdiri di teritisan dan tanah menjadi subur.

ibu melahirkanku, menyelipkan taman, alam lebar,
pantai, ombak laut barat dan ikan serta kerang
juga lokan-lokan laut di mataku.

ibu menitipkan sungai kasih sayang, kebun kekuatan,
api semangat dari tungku dapur dan abunya
menjadi azimat perjalananku.

saat aku merantau, ibu menanam tunas kelapa di hulu rumah,
menyimpan biji jagung dalam kantong
dan mengikatnya di pusar tiang rumah, agar ia tau
nasib pelayaranku yang dibisikkan tunas kelapa
dan betanya pada biji jagung
jika aku tersesat dalam pelayaran.

tak lupa ibu berdoa
tangannya meraih langit dan sesekali memetik hujan
jika tanah retak dan tunas kelapa jadi menguning.

jika badai merajam diri, maka aku akan memanggil ibu
di jendela menghadap ke timur dan ibu
membisikkan namaku ke dalam guci,
tempat ibu membasuh wajah di bening subuh.


Tentang Bapak

bapakku tanah.
tangan-tangan menggamitnya dari surga,
langit-bumi merentangkan tangannya,
lahirlah cakrawala, lumut, rumputan,
kayu, kolam, kali, sungai jadi laut.

bapak tumbuh diburu waktu,
ladang pilu merimbun dadanya,
di matanya mengalir mata air mata,
wajahnya lebam-luka dihajar
matahari siang dan angin malam.

batu-batu cadas menimpuknya sepanjang jalan,
keras berguru diburu angin, kakinya karatan mendaki bukit,
merenangi samudra mengalahkan usianya, tapi tangan ibunya
menumbuhkan padi, menyuburkan ladang, menawarkan air laut,
menjadikan daun, tangkai dan buah menjelma obat penawar lara.

bapak selalu berlari di telapak tangan ibunya.
di sana jalan berliku, menemukan cinta, membawanya ke nirwana.

di bawah paripurna bulan, bapak menengadahkan tangannya,
maka tibalah aku berlari di atas telapak tangan yang keras itu,
bapak mengarahkan telunjuknya ke purnama,
mengenalkan aku pada pohon, taman bunga, kebun, sungai,
laut dan kapal berlayar sentosa di atasnya: "sebab semuanya akan pulang,
sebagaimana purnama juga pulang pagi ini !"

pundak bapak sekokoh baja. bapak selalu bersujud,
anak-anaknya memanjat tebing curam pinggang bapak,
meraih pundaknya, menjadi tolak loncatan kami ke anak cucunya kelak.

bapak adalah bumi, ia telah menyiapkan segalanya,
kami adalah anak sungai, pohon, hewan melata, laut,
ikan-ikan, menjadi semesta kehidupan.

kini bapak telah pergi, berjalan kembali ke tanah,
tubuhnya adalah angin, bayangannya adalah cahaya.

sepuluh tahun berlalu, bapak menjadi tanah, menjadi pohon,
menjadi nama dan azimat perjalanan kami.


Lubang Jarum

hidup adalah lubang jarum.
tubuh hidup benang basah derita,
betapa sungsang, langkah gontai melewatinya.

tubuh hidup, benang kering, namun mata rabun
tak mampu menuntun takdir, menyelundup
tertiup tak tentu arah.

tubuh takdir benang rapuh, tremor melintas jalan
berliku terowongan, menembus gelap,
memanah kepastian fatamorgana.


Waktu Wajah

di bilik itu aku selalu melihatmu
jendel mendorongmu ke tengah,
jendela itu tau kau pasti di sana.

jendela adalah wajahmu
daun pintu dan kisi-kisinya adalah hidung,
mulut dan telingamu, dimana angin
menemu alamat hingga ke jalan paling sunyi dirimu.

kata orang, jendela selalu
mendorong wajahmu ke tengah,
wajah yang selalu berubah letih.

sesungguhnya bukan wajahku yang berubah,
tapi waktulah yang merubah wajahnya.


Tanda Tambah Waktu

halte-halte lelah menunggu
bangku kosong berkarat dirajam waktu
kaki berlari waktu ke hari
hujan menjauhkan mendungnya dari kenangan.

tiada yang tau retak nasib mengayunkanmu kemana
pergi menjaring angin, atau menggantang sinar bulan
matahari mengejekmu dengan tipu daya bayang-bayang

resah angin meniupkan kenangan
jalan-jalan kota membara di telapak kakimu
tetapi takdir jatuh cinta di telapak tanganmu

pergi ke sunyi samudra, gunung-gunung kemilau
menetapkan goda menyesatkan, menunjuk
jalan-jalan itu adalah gerbang terminal perjalananmu.

sekarang pulamglah, menapak lagi tanah kampung halaman
dengan kaki telanjang, biarkan kerikil dan debu
memijat kakimu yang lelah menyusur pulau, nikmati lagi
senja pematang sawah kemuning, kelak waktu
akan mengulurkan tanda tambah dan akhirnya sama dengan,
kelak hidupmu kan berbinar di mata waktu.


Kinship Cinta

cintaku kepadamu
tak lagi dapat kuucapkan
sebab cintaku telah meruang
mewaktu dalam semesta
dan Tuhan telah menjeratku
berjalan dalam retak takdir itu.

cintaku adalah menabung derita
dan kesengsaraan akan rindu purba,
sebab penderitaan dan kebahagiaan, sama saja.
derita adalah lambang keperkasaan dari kebahagiaan,
sedang kebahagiaan adalah lambang kegagahan
dari dera samudra penderitaan.

cintaku tak lagi dapat kuucapkan setiap waktu,
sebab menampung cinta dalam cawan rindu
adalah perah keringatku berlumut,
berlomba lari menemukan perjumpaan kita
dalam resah desah gua garba kehidupan
yang tak lenyap dalam debu kemarau
tak hanyut dalam banjir badai kehidupan.

cintaku, sekali lagi kuserahkan pada
bentangan takdir menapak di telapak tanganku.
kugenggam tak kulepas lagi, kugenggam kau
bersama keabadian maha kekasih.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Lintasan Cahaya KH. Hasan Basri (2)

Adakan Edukasi Kebencanaan Pada Anak, Move up Gandeng Tim Tangga Tangguh Bencana.

Memproklamirkan Hari Keadilan Ekologis di Pulau Sumba

Sanggupkah?

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: Puisi
Bustan Basir Maras

Bustan Basir Maras

Bustan Basir Maras, membina komunitas budaya di Yogyakarta dan Mandar-Sulbar, membuatnya secara berkala tinggal bergantian di dua kota ini. Kumpulan cerpennya Ziarah Mandar dan buku puisinya Vova Sanggayu (101 Puisi Etnografis). Meraih Anugrah Kebudayaan dari Pemkab Majene. Pendidikan terakhirnya ia selesaikan di Pascasarjana, Jur. Antropologi, UGM. IG. bustanbasir.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Ya… Entahlah

Ya... Entahlah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00