• Latest
Bukan Tentang Perempuan, Tapi Tentang Indonesia

Bukan Tentang Perempuan, Tapi Tentang Indonesia

Maret 12, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bukan Tentang Perempuan, Tapi Tentang Indonesia

Redaksiby Redaksi
Maret 12, 2025
Reading Time: 3 mins read
Bukan Tentang Perempuan, Tapi Tentang Indonesia
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Mila Muzakkar


(Founder Kelas Perempuan Muda Tangguh)

Hanna Keraf, perempuan muda lulusan Asian Pacific University, Jepang, memilih meninggalkan ibu kota untuk memberdayakan ekonomi perempuan di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Tahun 2015, ia memimpin model bisnis berbasis kearifan lokal untuk perempuan akar rumput, yaitu menganyam. Sesuai namanya, bisnis itu dinamai Du Anyam, yang berarti “Ibu menganyam”. Kini, lebih dari 500 perempuan di berbagai desa telah berdaya dan taraf hidup mereka meningkat.

Angkie Yudhistia, seorang perempuan disabilitas tuli, mendirikan Thisable Enterprise untuk memberdayakan perempuan disabilitas, khususnya dalam menyalurkan mereka ke dunia kerja di bidang ekonomi kreatif.

Tahun 2018, di belahan dunia lain, seorang remaja perempuan berusia lima belas tahun memimpin gerakan mogok sekolah sebagai bentuk protes atas perubahan iklim, di depan gedung parlemen Swedia. Dialah Greta Thunberg. Gerakannya telah menginspirasi banyak anak muda di seluruh dunia untuk lebih peduli dan merawat keberlangsungan bumi.

Banyak lagi cerita perempuan lain, di berbagai belahan dunia, yang secara konkret melakukan gerakan substantif dan berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Masalah Dulu dan Sekarang

Tak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan perempuan-perempuan di atas. Mereka berdaya, sebagian karena terlahir dari keluarga yang cukup, memiliki orang tua yang mendukung, atau memiliki nasib yang membawa mereka pada pencapaian itu. Sementara, perempuan lainnya sejak lahir menghadapi berbagai tantangan, yang sebagian besar disebabkan oleh budaya patriarki.

Masalah klasik pertama yang dihadapi perempuan adalah ketidaksetaraan dalam akses pendidikan dan teknologi. Hanya 35% perempuan yang mampu mengakses keduanya. Kedua, pernikahan anak—14% anak perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun.

Ketiga, kekerasan berbasis gender dalam berbagai bentuknya, baik di ranah online maupun offline. Selanjutnya, akses perempuan untuk bekerja di sektor formal masih sangat rendah. Di dunia politik, hanya 21% perempuan yang berhasil menjadi anggota dewan.

Dan terakhir, ini adalah masalah terkini yang dihadapi perempuan: tantangan di dunia digital. Beauty standard, pinjaman online, hingga gangguan kesehatan mental adalah dampak buruk dari penggunaan internet dan media sosial yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dan literasi digital yang baik.

Jadi, Kita Harus Apa?

Bagaimanapun, pendidikan adalah kunci utama untuk membangun generasi bangsa yang maju dan beradab. Karena itu, perempuan perlu memiliki pendidikan setinggi dan seluas mungkin.

Namun, pendidikan harus dipahami secara luas—tidak terbatas hanya pada sekolah formal di balik tembok beton, tetapi juga dalam bentuk sekolah alternatif yang membangun budaya berpikir kritis, serta pelatihan untuk pengembangan soft skills (misalnya self-love untuk menjaga kesehatan mental) dan hard skills. Ini menjadi solusi kedua yang harus dilakukan. Kelas Perempuan Muda Tangguh, yang saya inisiasi tahun 2023, misalnya, merupakan upaya untuk menyediakan akses pendidikan bagi perempuan muda marginal yang mengalami ketertinggalan berlipat ganda.

Ketiga, di media sosial, perlu diciptakan ruang aman bagi perempuan. Ini termasuk keberanian untuk speak up dan saling mendukung jika ada perempuan yang mengalami serangan digital atau jika ada konten-konten yang merendahkan perempuan.

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026

Selanjutnya, advokasi dan petisi juga harus terus dilakukan untuk mengubah kebijakan yang mendiskriminasi atau merugikan perempuan. Contohnya, pernyataan salah satu anggota DPR yang seksis dan tidak bermoral harus dikritisi dan tidak dibiarkan begitu saja.

Perempuan Berdaya, Indonesia Maju

Pelaku usaha UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di Indonesia mencapai sekitar 66 juta, dan mereka berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 61% (KADIN Indonesia, 2024). Apa hubungannya dengan perempuan? Sebanyak 64,5% pelaku UMKM itu adalah perempuan (BPS, 2024). Dengan kata lain, peran perempuan dalam membangun bangsa tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Bayangkan, berapa banyak kemajuan yang akan kita capai di Indonesia jika semakin banyak perempuan yang berdaya.

Karena itu, saat ini, kita tidak lagi bicara soal pemberdayaan perempuan semata-mata untuk kesetaraan, tetapi lebih dari itu—memberdayakan perempuan berarti membangun Indonesia yang lebih maju.
Ini bukan lagi tentang perempuan. Ini tentang Indonesia.

ADVERTISEMENT

For All Women and Girls: Right, Equality, and Empowerment. Selamat Hari Perempuan Internasional.

11 Maret 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com