• Latest
Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

Maret 5, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

Redaksiby Redaksi
Maret 5, 2025
Reading Time: 3 mins read
Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh *Mila Muzakkar*

(Puisi esai ini ditulis khusus sebagai kado ulang tahun untuk Bunda Musdah Mulia, seorang pejuang perempuan yang tak kenal lelah menyuarakan kebenaran dan perdamaian)

***

Ia berjalan dengan langkah yang tak pernah surut, 

usianya hampir tujuh puluh tahun, 

tapi semangatnya masih delapan belas.

Dari lorong-lorong sunyi hingga podium-podium dunia, 

suara perempuan itu menggema: keadilan, kesetaraan, kemanusiaan.

Angin malam pernah berbisik padanya, “Berhentilah, ini bukan perjuangan yang aman.”

Namun ia tersenyum, menatap bulan yang membelah langit.

Dengan lirih ia katakan pada dirinyanya, “Jika aku berhenti, siapa yang akan meneruskan?”

Hari itu, ia berdiri di podium, 

Lalu seorang jamaah lelaki berdiri, 

dengan suara meninggi, ia berkata: “Kau perempuan, muslimah, kenapa kau melawan? Bukankah kodratmu adalah patuh, diam di rumah, menjaga anak, melayani suami?”

Ia menarik napas, tajam, “Jika Nabi membela hak perempuan, mengapa kau menentangnya? 

Jika Tuhan menganugerahkan akal pada semua manusia, mengapa kau merenggutnya dari kaumku?

Aku muslimah, aku beriman, dan aku melawan, bukan untuk diriku, tapi untuk semua perempuan yang suaranya masih dibungkam.”

Hening. Suara tak perlu meninggi untuk membuat dunia mendengar.

Setelah pidato usai, di lorong sepi, seseorang menghadangnya.

“Kau tidak takut?” tanya lelaki itu, wajahnya penuh tanda tanya.

Ia tersenyum kecut, “Aku takut. Tapi diam lebih menakutkan.”

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 30, 2026

***

Dunia bukan panggung yang ramah.

Ancaman sering datang dalam sunyi, bagai bayangan yang mengekor di malam hari.

Malam itu, di layar ponselnya, pesan-pesan ancaman mengalir: “Kami mengawasimu. Berhenti, atau kau akan mati.”

ADVERTISEMENT

Ia menutup mata, mendengar detak jantungnya sendiri. “Aku sudah mati berkali-kali,” bisiknya. “Saat melihat perempuan dirampas haknya,dibungkam suaranya, dan saat keadilan menjadi dagangan.”

Hatinya tak gentar sedikit pun. “Aku sudah menyesal sejak lama, menyesal karena tak melawan lebih awal. Jika aku harus mati, biarkan aku mati berjuang.” Balasnya pada pengirim pesan itu.

Mereka mengira ia akan gentar, 

namun dunia menampakkan lain.

Ia sudah terlalu lama hidup dengan ketakutan, hingga akhirnya ia menikahinya, dan menjadikannya teman seperjalanan.

Perempuan paruh baya itu terus berjalan, dari negeri ke negeri, dari kota ke desa, mengabarkan bahwa dunia masih pincang, 

bahwa keadilan belum merangkul semua insan.

Di sebuah lorong kecil, berlari gadis kecil memeluknya erat,

“kalau besar nanti, apakah aku bisa menjadi perempuan sepertimu?” tanyanya.

Ia tersenyum, membelai rambut gadis itu.

“Kau tidak harus menjadi aku, kau hanya harus menjadi dirimu sendiri, yang tak takut menyuarakan kebenaran.”

Gadis itu mengangguk, matanya berkilat harapan.

Ia tahu, perjuangan belum usai,  tapi benih telah ditanam.

Suatu hari, dunia akan berubah lebih ramah dan damai untuk untuk semua.

*Catatan*

Puisi esai ini ditulis menggunakan bantuan AI

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Solusi Kilat Prabowo Selamatkan Sritex

Solusi Kilat Prabowo Selamatkan Sritex

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com