Dengarkan Artikel
“Bukan, Mas. Bukan itu, sungguh” ujarnya menarik udara dari hidungnya yang basah “hari ini aku sungguh haru. Terima kasih, Mas. Kau telah kembali lagi.”
“Apakah Anda istri Tuan Syamsiar?” tanya dokter datar.
Zubaidah membalik badannya.
“Benar, dok?”
Sang dokter lalu meminta Zubaidah untuk membeli perlengkapan pasien di market lantai dasar. Zubaidah segera bergegas sementara aku telah dibopong ke kursi roda untuk menuju ruang operasi.
***
📚 Artikel Terkait
Aku telah mengenakan baju setengah terbuka khususnya bagian punggung, dr. Cahyo lalu memintaku untuk berbaring dalam posisi miring dan lutut ditekuk menyentuh dada. Tak lama kurasakan efek kejut beriring nyeri pegal dan sakit teramat sangat manakala sebuah benda yang kuyakini jarum menusuk dalam sampai menyentuh semacam kelenjar di antara tulang punggungku yang renggang.
Aku meringis menahan hingga bergetar sekujur tubuh. Sekonyong-konyong cairan bius spinal masuk dan makin berat tak tertahankan. Usai ini aku yakin setengah tubuhku bakal mati rasa.
“Sudah, Pak. Sekarang terlentang” tukas dr. Cahyo bersamaan dengan kesigapan beberapa perawat yang memasangkan kateter.
Sesaat aku merasakan rileksasi di antara setengah tubuhku yang mulai katur. Kupandangi jam dinding, tepat jam 2 siang.
Ceklek..Tiba-tiba Zubaidah datang membawakan popok, selimut, dan minyak angin. Aku heran, apakah orang luar boleh masuk. Seolah paham dengan air wajahku, dr. Cahyo bilang “Tidak apa-apa, Pak. Keluarga dari pasien diperlukan untuk memberi semangat dan agar Anda tidak tidur.
Maka makin semangatlah aku manakala hari berat ini kulalui bercengkrama dengan dia. Zubaidah membuka selimut yang baru dibelinya, motif bunga-bunga. Dia lalu menyelimutiku dengan lembut. Kami tersenyum kemudian tanganku mulai menerima keberadaan janin haram di perutnya. Aku meyakini mungkin itu adalah hadiah terindah di tahun baru nanti.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





