Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. M.A
Rasanya tidak afdhal bila membahas budaya tulis menulis tanpa diawali dari Serambi Mekkah, Aceh tercinta. Sekitar tahun 1630-1697 hidup di Aceh beberapa tokoh literasi atau bisa disebut Begawan Para Ulama yang banyak berkarya. Di antara yang sangat dikenal adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri al Singkili dengan karyanya Turjuman al-Mustafid yang masyhur itu.
Ada yang menyebutkan bahwa Tafsir Melayu Turjuman Mustafid merupakan terjemahan dalam bahasa Melayu dari Tafsir Jalalain karya dua Imam; Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi. Namun adapula yang menyebutkan terjemahan dengan beberapa penambahan dari Kitab Tafsir Anwaruttanzil wA Asraruttakwil karya Imam al-Baidhawi.
Namun semua peneliti sepakat bahwa Tafsir karya Syekh Abdurrauf Al Singkili merupakan Tafsir pertama di Asia Tenggara dan telah dicetak di berbagai penerbit di Timur Tengah.
📚 Artikel Terkait
Selain Tafsirnya yang dikenal Syekh Abdurrauf al Singkili juga menyusun beberapa karya lainnya yang ditulis atas permintaan Pemimpin Aceh Ratu Safiatuddin anaknya Raja Iskandar Muda. Sezaman dengan Syekh Abdurrauf al Singkili, ada Syekh Nuruddin al Raniry yang menyusun Kitab Fikih Sirathal Mustaqim yang kemudian diulas secara panjang lebar dengan berbagai referensi oleh Syekh Muhammad Asyad al Banjari Ulama Banjarmasin dengan judul Sabilal Muhtadin.
Syekh Nuruddin al Raniry adalah seorang ulama yang berasal dari India dan sangat produktif dalam menulis. Beliau dan Syekh Abdurrauf al-Singkili sama-sama pernah menjadi Syeikhul Islamatau Mufti Kerajaan Aceh pada periode yang berbeda.
Masih pada kurun yang sama hidup beberapa ulama besar sufi yang juga banyak menulis seperti Syekh Hamzah al Fansuri, Syekh Samsuddin Pasai dan Syekh Saifurrijal Padang umumnya mereka menulis dalam kajian Tasauf, dan disebutkan bahwa Syekh Hamzah Fansuri adek kakak dengan Syekh Ali Fansuri ayah dari Syekh Abdurrauf al-Singkili. Dalam rentang waktu yang sama di Makkasar hidup pula seorang alim besar dan pejuang kenamaan yang wafat di Afrika Selatan yaitu Syekh Yusuf al Makkasari dengan karya tasaufnya Zubdat al Asrar dan karya lainnya, beliau disebutkan pernah berguru kepada Syekh Nuruddin al-Raniry.
Syekh Yusuf al-Makassari berkubur di Afrika Selatan karena kolonial Belanda takut dengan pengaruhnya, sama seperti Cut Nyak Din yang wafat di Sumedang Jawa Barat dan dikaburkan identitasnya sebagai seorang Pahlawan Aceh yang berpengaruh Isterinya Teuku Umar Johan Pahlawan yang juga Pahlawan Nasional. Dan masih di era Syekh Abdurrauf al-Singkili hidup seorang ulama besar yang berasal dari Turki yang menjadi muridnya yang setia dengan goresan pena Masailal Muhtadinyaitu Syekh Daud Rumi dan berkubur di Kuala disamping gurunya Syekh Abdurrauf al-Singkili yang juga dikenal dengan Teungku Syekh Kuala atau Syiah Kuala
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






