POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ibuku Juga Ayah Bagiku

Alya AzzahraOleh Alya Azzahra
February 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Alya Azzahra

Zahra duduk di bangku kayu di teras rumahnya yang sederhana. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat pohon-pohon di kebun belakang yang tumbuh subur. Suara burung berkicau dan angin sepoi-sepoi yang berembus membuat suasana sore itu terasa tenang. Namun, di dalam hati Zahra ada perasaan yang berat, sesuatu yang sulit dijelaskan. Ia merasa sepi, bukan karena tidak ada yang menemani, tetapi karena merasa ada yang hilang dalam hidupnya—sosok ayah.

Sejak ayahnya pergi meninggalkan Zahra dan ibunya, ia hanya tinggal berdua dengan sang ibu. Meski begitu, Zahra tahu betul betapa kerasnya ibunya berjuang untuk membesarkannya. Setiap hari, ibunya bekerja sebagai pengajar dari pagi hingga sore.

Zahra sering kali merasa kasihan melihat ibunya yang selalu lelah, tetapi ia juga merasa bangga karena ibunya selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Zahra tahu, meskipun tanpa ayah di sampingnya, ibunya adalah segalanya.

Zahra tidak pernah merasakan seperti apa rasanya dibimbing oleh seorang ayah. Di sekolah, teman-temannya sering menceritakan bagaimana ayah mereka mengajari mereka bersepeda atau bermain. Zahra hanya bisa mendengarkan dengan senyum tipis karena ia tidak pernah mengalaminya.

Namun, meskipun tanpa ayah, Zahra merasa ibunya sudah cukup menjadi kedua orang tuanya—ibu sekaligus ayah. Ibunya mengajarinya untuk berani, untuk tidak mudah menyerah, dan yang terpenting, untuk selalu percaya diri.

Suatu hari, saat Zahra baru pulang dari sekolah, ia melihat ibunya duduk di meja makan dengan wajah serius. Sebuah surat terbuka tergeletak di hadapannya. Zahra mendekat, merasa penasaran.

“Ada apa, Bu?” tanyanya.

Ibu tersenyum lelah, lalu menunjuk surat itu. “Ini dari sekolahmu, Zahra. Kamu terpilih untuk mendapat beasiswa,” katanya dengan suara penuh haru.

Zahra terperanjat. Beasiswa? Baginya, itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

“Benarkah, Bu?” Zahra hampir tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Ia tahu betapa sulitnya bagi ibunya mengumpulkan uang untuk biaya sekolah. Ayah yang telah tiada membuat segala sesuatunya semakin sulit, dan Zahra sering merasa beban itu ada di pundaknya.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Ujian Ketahanan Hidup di Era Modern

Fakultas Pertanian USK Wujudkan Program Zero Waste dengan Dispenser Canggih Terhubung Keran Air

Sumbar Talenta Indonesia Dapat Penghargaan dari Darianto Harsono, Konsul Jenderal RI, Istanbul

“Benar, Nak. Ibu bangga padamu. Kamu pantas mendapatkannya,” kata ibu sambil mengusap kepala Zahra.

Zahra terdiam sejenak. Ia merasa terharu. Selama ini, ia selalu berusaha keras di sekolah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membahagiakan ibunya.

Namun, terkadang ia merasa lelah—lelah dengan kenyataan bahwa ia tidak punya ayah untuk berbagi beban hidup. Tetapi malam itu, semuanya terasa berbeda. Zahra merasa bahwa ibunya bukan hanya seorang ibu, tetapi juga ayah baginya.

Beberapa hari kemudian, Zahra memutuskan untuk mengikuti lomba menulis yang diadakan di sekolah. Lomba itu adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan kemampuannya. Zahra menulis tentang seorang gadis kecil yang ingin menjadi penulis terkenal, tetapi harus berjuang keras dengan segala keterbatasan yang ada. Gadis itu, dalam ceritanya, juga memiliki seorang ibu yang bekerja keras untuk membesarkannya. Cerita itu sangat dekat di hati Zahra karena itu adalah kisah hidupnya sendiri.

Di malam hari, Zahra menulis dengan penuh semangat. Tangan kecilnya menari di atas kertas, mencurahkan setiap perasaan dan pikirannya. Ia menulis tentang bagaimana ia merindukan ayah, tetapi ia tahu bahwa ibunya sudah cukup menjadi segalanya. Zahra menulis sampai larut malam, meskipun matanya mulai perih. Ia ingin cerita itu selesai dengan baik, sebagai hadiah untuk ibunya yang telah memberikan segalanya untuknya.

Pada hari pengumuman pemenang lomba, Zahra merasa gugup. Ketika nama pemenang diumumkan, Zahra hampir tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya.

“Zahra, juara pertama!” kata guru bahasa Indonesia, Bu Dian, dengan senyum bangga.

Zahra tidak bisa menahan air matanya. Ia berdiri dengan gemetar dan menerima hadiah dari Bu Dian. “Ini untuk Ibu,” bisiknya dalam hati. Ia tahu, ini adalah hasil dari segala usaha ibunya yang selama ini tidak pernah berhenti. Zahra merasa bangga dengan dirinya sendiri, dan yang lebih penting, ia tahu bahwa ia bisa membuat ibunya bangga.

Setelah pengumuman itu, Zahra pulang ke rumah dengan hati penuh kebahagiaan. Ia berlari menuju ibunya yang sedang menyapu halaman.

“Bu, aku menang! Aku menang lomba menulis!” serunya sambil memeluk ibunya erat.

Ibu hanya bisa tersenyum dan memeluknya kembali. “Ibu bangga sekali, Nak. Ini semua berkat usaha dan kerja kerasmu.”

Sejak saat itu, Zahra semakin percaya diri. Ia tahu, meskipun tidak punya ayah, ia memiliki ibu yang lebih dari cukup untuk menjadi kedua orang tuanya. Ibu yang mengajarkan tentang keberanian, ketekunan, dan cinta yang tak terhingga. Zahra bertekad untuk terus belajar dan berusaha agar suatu hari nanti bisa membuat ibunya bahagia.

Mimpi Zahra untuk menjadi penulis semakin besar. Ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk ibunya. Setiap tulisan yang ia buat adalah bentuk terima kasihnya kepada ibu yang sudah menjadi ayah baginya. Zahra tahu, dengan kerja keras, doa, dan semangat dari ibunya, ia bisa mencapai semua impiannya.

Kini, Zahra tidak lagi merasa sepi. Ia tahu bahwa meskipun ayahnya tidak bersama mereka, ibunya tetap ada di sampingnya, memberikan dukungan dan cinta yang tak ternilai harganya. Zahra, dengan segala mimpi dan perjuangannya, akan terus berjalan dengan yakin karena ia tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri. Ibunya selalu ada, menjadi ayah dan ibu baginya dalam setiap langkah hidupnya. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Alya Azzahra

Alya Azzahra

Alya Azzahra adalah gadis remaja yang saat ini duduk bangku kelas 2 SMPIT Ibnu Mas'ud Sigli. Gadis yang berusia 13 tahun ini Memiliki cita-cita menjadi Dokter Hafidhah. Menulis di buku harian menjadi kegemarannya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Generasi Z dan Investasi Kripto: Urgensi Literasi Keuangan Syariah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00