• Latest
Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan - a488659c d249 4dd4 9ac1 11f66d83fc40 scaled | POTRET Budaya | Potret Online

Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan

Januari 15, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan

Redaksi by Redaksi
Januari 15, 2025
in POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan - a488659c d249 4dd4 9ac1 11f66d83fc40 scaled | POTRET Budaya | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Riza Shintia

Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar- Raniry Banda Aceh

Bayangkan sebuah kapal yang dirakit dengan kayu terbaik dari hutan desa, dilengkapi layar yang kokoh untuk menantang angin. Kapal itu, bernama “Desa Harapan,” adalah milik bersama para warga, dengan seorang nakhoda yang mereka pilih dengan keyakinan bahwa ia mampu membawa kapal menuju pantai kesejahteraan. Para warga, sebagai awak kapal, siap bekerja keras mendayung dan menjaga keseimbangan, asalkan nakhoda tetap setia pada arah yang dijanjikan.

Namun, apa jadinya, jika sang nakhoda mulai menyalahgunakan kepercayaan mereka? Alih-alih memimpin dengan integritas, ia diam-diam membongkar papan kayu kapal untuk dijual demi keuntungan pribadinya. Lama kelamaan, kapal mulai bocor, air masuk, dan pelayaran pun terancam karam. Para awak yang sebelumnya setia mulai mempertanyakan, “Mengapa kami harus terus mendayung jika nakhoda kami justru menghancurkan kapal ini?”

Fenomena tersebut kerap kali terjadi dalam kehidupan nyata, penulis menyinggahi satu wilayah di Aceh yang tercakup beberapa desa sedang maraknya berita penangkapan kasus korupsi. Penulis pun mendatangi satu desa dan mewawancarai kepala desa untuk melihat tanggapannya terhadap dampak dari penangkapan pelaku korupsi tersebut.

Berbagai keluhan yang dirasakan kepala desa diutarakan dalam percakapan.

“Dampak dari kasus korupsi ini membuat masyarakat tidak lagi patuh atas apa yang kami perintahkan, banyaknya percakapan ujaran kebencian merata dari setiap masyarakat, sehingga ini sangat menyulitkan kami dalam memberi arahan dan kebijakan. Padahal kan tidak semua pemimpin desa korupsi, satu yang bermasalah, semua kena imbasnya”. Ujar kepala desa tersebut.

Retaknya Kepercayaan, Goyahnya Kepatuhan

Kepala desa, seperti nakhoda dalam analogi ini, memegang peran vital dalam memimpin masyarakat desa. Ketika kepala desa tersandung kasus korupsi, ia tak hanya mencoreng dirinya sendiri, tetapi juga merusak “kapal” kepercayaan yang telah dibangun bersama masyarakat. Warga yang sebelumnya patuh dan mendukung aturan kepala desa mulai kehilangan motivasi. Mereka merasa aturan yang dibuat bukan lagi untuk kemajuan bersama, melainkan hanya menjadi alat untuk memperkaya diri sang pemimpin.

Dalam keadaan ini, pola pikir masyarakat berubah drastis. Awalnya mereka menghormati kepala desa sebagai figur otoritas, tetapi setelah melihat korupsi, penghormatan itu digantikan oleh rasa curiga dan apatisme. “Untuk apa kami mengikuti aturan,” pikir mereka, “jika aturan itu tidak membawa manfaat, tetapi justru menjadi jerat yang menguntungkan segelintir orang?”

Kurangnya Literasi dan berpikir kritis

Masyarakat yang minim literasi cenderung mudah termakan berita hoaks, hingga berpatisipasi dalam penyebaran berita tersebut. Informasi palsu sering kali dikemas dengan menarik dan mudah dipercaya. Apalagi jika hoaks tersebut disampaikan oleh orang-orang yang dianggap berpengaruh atau menggunakan kata-kata yang membangkitkan emosi, seperti ketakutan atau kemarahan. Menelan mentah informasi tanpa mencari tau kebenarannya menggambarkan keadaan seseorang yang lemah dalam menalar hingga enggan berpikir kritis. Hal tersebut akan menyebabkan kepatuhan terhadap kebijakan menurun hingga kesadaran hukum dan demokrasi melemah.

Dalam mewujudkan keadaan desa yang baik, peran masyarakat juga penting dan jadilah masyarakat yang cerdas, masyarakat yang tidak mudah tersulut emosi dan  termakan berita hoaks menjadi masyarakat yang berpikir kritis dan menelaah informasi yang benar.

Dampak Domino di Kehidupan Desa

Seperti kapal yang mulai bocor, retaknya kepercayaan masyarakat terhadap kepala desa memengaruhi seluruh aspek kehidupan desa. Kepatuhan terhadap aturan menurun, partisipasi dalam program desa berkurang, dan gotong royong mulai memudar. Warga yang sebelumnya bersemangat mendukung pembangunan desa kini lebih sibuk mencari cara untuk melindungi diri sendiri dari ketidakadilan.

Pada akhirnya, desa kehilangan arah, terapung-apung tanpa tujuan.

Namun, harapan tidak sepenuhnya hilang. Kapal yang bocor masih bisa diperbaiki jika ada kemauan. Dalam konteks desa, ini berarti memperbaiki hubungan antara pemimpin dan masyarakat melalui transparansi dan akuntabilitas. Kepala desa harus menunjukkan bahwa ia siap bertanggung jawab dan menempatkan kepentingan warga di atas segalanya.

Warga, sebagai awak kapal, juga perlu diajak kembali untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, sehingga mereka merasa menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan bersama.

Tags: #22 Tahun POTRET#Masalah Sosial
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan - d9348c66 ae2a 46ee 97e3 5b99caa110bb | POTRET Budaya | Potret Online

Mengenal Dahliani, Guru Penggerak SMKN 1 Jeunieb: Wakakur Tegas dan Menggerakkan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com