• Latest
Janji yang Ditagih, Janji yang Ditepati

Janji yang Ditagih, Janji yang Ditepati

Januari 15, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Janji yang Ditagih, Janji yang Ditepati

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Januari 15, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#Bu Suriyani#Guru PPPK#HUT Majalah POTRET
Janji yang Ditagih, Janji yang Ditepati
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Supriyani. Sebuah nama yang terukir dari air mata dan doa. Ia bukan hanya seorang guru. Ia adalah benteng bagi anak-anak yang tak tahu bagaimana menggenggam mimpi. Dua belas tahun ia mengabdi. Kemudian, empat tahun lagi ia bertahan. Dengan gaji yang tak cukup untuk membeli beras, ia tetap tersenyum di depan papan tulis. Di balik senyum itu, ada cerita pedih yang tak terungkap.

Enam belas tahun berlalu. Tapi penghargaan itu tak kunjung datang. Lalu muncul secercah harapan. Janji dari seorang menteri, Abdul Mu’ti. Janji yang berbunyi seperti musik indah. “Supriyani akan diangkat menjadi PPPK.” Angin harapan berembus, tapi tidak lama. Ketika pengumuman seleksi PPPK keluar, nama Supriyani tak ada di sana. Dunia seolah runtuh. Harapan itu berubah menjadi kepingan, berserakan di hatinya yang rapuh.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Hari-harinya berubah suram. Anak-anak di sekolah melihat gurunya dengan wajah murung, tetapi Supriyani tetap berdiri. Ia tetap mengajar. Ia tahu, hidupnya mungkin tak banyak berarti, tapi anak-anak itu, mereka berhak bermimpi.

Lalu sebuah kabar datang. Pada suatu pagi penuh gerimis, rumah Supriyani di Baito, Konawe Selatan, diketuk oleh seorang wanita dengan senyum tulus. Nunuk Suryani, Direktur Jenderal GTK PG Kemendikdasmen. Nunuk tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa kabar yang akan mengubah segalanya.

“Ibu Supriyani, ini kabar dari Pak Menteri,” ucap Nunuk dengan mata berkaca-kaca. “Janji itu ditepati. Ibu akan diangkat menjadi PPPK tanpa tes.”

Air mata Supriyani jatuh seketika. Bukan hanya karena ia akhirnya mendapatkan pengakuan, tetapi karena ia tahu, perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Nunuk berbicara panjang lebar, tetapi Supriyani hanya mendengar beberapa kata. “Tanpa tes,” itu yang terus terngiang. Dua kata yang menghapus rasa pahit selama bertahun-tahun.

Hari itu, di rumah kecil yang hampir rubuh, Supriyani menangis bahagia. Anak-anak sekolah, yang mendengar kabar ini, datang berlari. Mereka memeluk gurunya. “Bu Guru kami lulus! Bu Guru kami lulus!” seru mereka. Suara mereka menggema, mengisi kekosongan yang selama ini ada di hati Supriyani.

Supriyani? Ia tersenyum. Ia menangis. Ia memeluk anak-anak itu satu per satu. Dunia yang selama ini terasa gelap, kini diterangi oleh cahaya yang begitu hangat. Janji itu telah ditepati. Harapan itu kembali hidup. Di negeri ini, keajaiban mungkin jarang terjadi, tetapi hari itu, Supriyani adalah buktinya.

Kisah Supriyani bukan sekadar cerita. Ia adalah epik tentang keteguhan hati, tentang perjuangan tanpa lelah. Ia adalah bukti bahwa keadilan bisa datang, meski harus ditunggu dengan air mata. Hari itu, di bawah langit Konawe Selatan yang cerah, Supriyani berdiri. Sebagai pemenang. Sebagai inspirasi. Sebagai guru yang akhirnya bisa tersenyum tanpa beban.

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Selamat Ulang Tahun ke-22  POTRET

Selamat Ulang Tahun ke-22 POTRET

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com