• Latest
Enaknya Jadi Ateis - 5dda6185 5a03 4a8b 92b8 d7e3fc651676 1 | Essay | Potret Online

Enaknya Jadi Ateis

Januari 14, 2025
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Enaknya Jadi Ateis - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Enaknya Jadi Ateis

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
Januari 14, 2025
in Essay
Reading Time: 5 mins read
A A
0
Enaknya Jadi Ateis - 5dda6185 5a03 4a8b 92b8 d7e3fc651676 1 | Essay | Potret Online
0
SHARES
29
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Don Zakiyamani

Apa yang dapat Anda katakan ketika ngobrolin Friedrich Wilhelm Nietzsche? Jawaban paling umum yang saya dapatkan adalah seorang ateis. Benar bahwa kakek Nietzsche pernah berucap Tuhan telah mati. Namun pernyataan manusia selalu multi-tafsir. Jika Anda memiliki perspektif berbeda, tentu sah-sah saja.

Kita tidak akan memperdebatkan premis  kontroversial kakek Nietzsche. Lebih nikmat jika kita diskusikan enaknya jadi ateis. Pilihan keyakinan itu memang agak tabu di negara yang berlandaskan Pancasila. Meski pada tataran praksis kita sering menjadi ateis. Sebut saja saat kita berbohong pada istri, anak, teman, maupun orang tua kita.

Ketika kita melakukan tindakan itu, pada dasarnya kita sedang tidak percaya Tuhan. Kita sedang meniadakan Tuhan, atau setidaknya kita lupa bahwa Tuhan itu ada. Maklum, saat itu kita beranggapan Tuhan tidak menegur langsung. Bahkan nikmatNya terus mengalir tanpa henti.

Para koruptor yang mengambil hak orang banyak, bahkan melanggar aturan negara tetap saja diberi kekayaan. Beberapa pelaku malah dimuliakan karena sumbangsih materi yang diberikan. Pelaku koruptor malah sering dicium tangannya. Sejatinya, pelaku koruptor itu ateis.

Jika benar bertuhan bagaimana mungkin menipu rakyat. Bagaimana mungkin mengambil hak-hak orang banyak.  Tentu saja Anda tidak setuju. Namun mari kita teliti lagi dengan sebuah pertanyaan sederhana; “apakah ada Tuhan yang membolehkan korupsi?”. Anda barangkali protes, pelaku korupsi hanya melanggar aturan Tuhan, bukan meniadakan Tuhan.

Pandangan itu tidak salah , sebabnya ada konsep taubat. Kompensasi yang diberikan Tuhan agar manusia tidak mengulangi  kesalahan yamg sama. Sayangnya konsep itu dijadikan dalil untuk meremehkan sebuah tindakan kejahatan termasuk korupsi. “Kan bisa taubat, akhirnya dimaafkan tuhan dan masuk surga”. Lagian Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang.

Berbekal pemahaman itu, pelaku korupsi kerap meniadakan Tuhan. Meski kebanyakan kita menganggap itu hanya kejahatan. Padahal korupsi berdampak sistemik. Negara rugi, akibatnya utang bertambah. Pemerintah kemudian menaikkan pajak, menambah beban rakyat.  Para pengusaha yang didesak pajak kemudian menaikkan harga. Daya beli masyarakat berkurang dan saat yang sama kemiskinan bertambah.

Tingkat kriminalitas biasanya mengikutinya. Dan akhir drama kehidupan itu kita semua tahu bagaimana. Sebagai pemeran drama kehidupan itu kita semua tahu, bagaimana rasanya dampak korupsi terhadap episode kehidupan kita.

Lalu tetapkah Anda menganggap pelaku korupsi sebagai manusia yang percaya tuhan?. Dalam hal ini kita berbeda jika demikian, dalam pandangan saya, kejahatan yang merugikan orang banyak adalah ateis. Meski secara formal dan ritual ia  mengaku beragama dan melaksanakan kewajiban dari tuhannya.

Sebelum protes dan marah dengan pandangan saya, ajaklah nalar dan akal bertamasya. Dengan begitu, tidak perlu marah apalagi antipati. Menurut pandangan saya, ateis itu ada yang kultural. Nah ateis kultural inilah yang saya sebutkan contohnya di atas. Mereka beragama dan mengakui tuhan, namun sering melupakan Tuhan, bahkan mengabaikan tuhan saat melakukan kejahatan.

Ini berbeda dengan ateis umumnya yang tidak mengakui tuhan. Mereka tidak percaya bahwa tuhan itu ada dengan argumen-argumen yang sejatinya dapat dibantah. Sekali lagi, kita tidak akan membahasnya dalam episode tulisan ini.

Kembali soal ateis-kultural tadi, mereka menikmati kekayaan hasil korupsi dengan menyalah gunakan kekuasaan politik. Mereka menyuap dan disuap, sehingga aturan yang dirancang menertibkan malah semrawut. Di Indonesia, ateis-kultural melibatkan banyak institusi. Barangkali semua institusi diisi mereka yang ateis.

Profesi mereka beragam, hakim, jaksa, polisi, politisi, pengusaha, dan profesi-profesi  lainnya yang dipandang hebat. Tidak kita temukan pelaku korupsi itu berprofesi buruh, tani, nelayan. Itu artinya, pelaku korupsi (ateis-kultural) adalah kelompok berpenghasilan di atas UMR bahkan tergolong kelompok kaya.

Mereka tidak dapat dianggap menuhankan uang dan jabatan serta kekuasaan. Sebabnya, uang dan jabatan serta kekuasan tidak memenuhi kualifikasi sebagai Tuhan. Meski kita sering mendengar dan membaca,  ada manusia yang menuhankan uang, jabatan, kekuasaan bahkan kelamin.  Ungkapan itu menurut pandangan saya kurang tepat.

Jika Anda bersikukuh dengan pandangan itu berarti Anda mengindap ateis psikologis. Pandangan ini tentu saja berkesimpulan bahwa manusia menciptakan Tuhan demi kebutuhan emosional dan psikologis. Gabungan dari pernyataan Kakek  Ludwig Andreas von Feuerbach dan Sigmund Freud.

Bila kakek Ludwig Andreas von Feuerbach menguraikan bahwa manusia menciptkan Tuhan demi proyeksi keinginan dan harapan,  maka Sigmund Freud berpendapat bahwa percaya tuhan sebagai mekanisme psikologis. Jadi, jika Anda sejalan dengan keduanya, silahkan menggunakan ungkapan bahwa ada manusia yang bertuhankan uang.

Baca Juga

Enaknya Jadi Ateis - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Essay | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Enaknya Jadi Ateis - 9154bb9b 6587 4b8f baa1 a1aa4a22f49c | Essay | Potret Online

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Enaknya Jadi Ateis - b4654f4d dc1c 4611 b1bc 982b3692e7d1 | Essay | Potret Online

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

Tulisan ini juga tidak akan memperdebatkan kriteria tuhan lebih lanjut.  Setidaknya kita yang mengaku bertuhan, jangan pernah menciptakan pencipta. Kita akan masuk rumah yang dipagari dengan indah dan kesannya mewah, namun di dalamnya penuh keributan. Itu bukan kediaman, artinya akan masuk logica fallacy.

ADVERTISEMENT

Jadi, berhati-hatilah ketika mengatakan pelaku korupsi bertuhankan uang. Karena itu dapat berakibat kita sejalan dengan pemikiran ateis psikologis. Lebih baik sejalan dengan pendapat saya, mereka adalah ateis-kultural. Kelompok yang secara praksis melupakan dan mengabaikan Tuhan meski mengaku bertuhan.

Dan faktanya, ateis yang satu ini kini berkuasa di negara yang mengakui keesaan Tuhan. Mereka menikmati segala kemewahan, kebal hukum, mempermainkan hukum, bahkan saling cakar bila sudah masuk ranah politik. Perebutan uang haram terjadi secara massif. Dan itulah ateis sejati.

Mereka (ateis) dengan uang dan kekuasaan malah mengatur manusia bertuhan. Bahkan mereka beberapa kali kita pilih, kita elukan, puja-puji dalam forum, kita datangi sambil berharap pamrih. Para pengurus rumah Tuhan, bahkan sangat jarang bertanya sumber sumbangan uang. Tak enak katanya, ya, kita lebih sering tak enak pada manusia ketimbang tak enak pada Tuhan.

Begitu enaknya jadi ateis, dipuja-puji, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari Tuhan yang harus kita sembah. Mari renungkan sebentar, pernahkah kita tidak enak pada Tuhan ketika dipanggil?.

Sudah sore, kopi sudah datang. Ateis ada di sekitar kita. Menikmati jerih payah rakyat. Mengakuisisi institusi pemerintahan layaknya perusahaan pribadi. Berkhotbah soal moral sambil melanggar hak-hak ekonomi rakyat. Dan lagi-lagi kita memilih mereka. Jangan-jangan kita juga ateis, ateis psikologis.

penulis

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #Ateis#Tuhan
Previous Post

Duta Puisi Esai Nasional dari Jawa Tengah Sosialisasikan Puisi Esai di Blora, Jawa Tengah

Next Post

Jejak Kebangkitan Literasi di MTsN Langsa, Aceh

Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

No Content Available
Next Post
Enaknya Jadi Ateis - c0337484 05a2 4dcc 8e03 4657a337a59e | Essay | Potret Online

Jejak Kebangkitan Literasi di MTsN Langsa, Aceh

Enaknya Jadi Ateis - 80b4af0e 28fd 4205 a541 880b4cca7af0 | Essay | Potret Online

Puisi Esai dan Panggilan Cinta

Enaknya Jadi Ateis - 9615064a efd0 4272 b0ec 27b1f6e56f1e | Essay | Potret Online

Friendship Karina and Dianda: Market Day

Enaknya Jadi Ateis - a488659c d249 4dd4 9ac1 11f66d83fc40 scaled | Essay | Potret Online

Kapal Desa yang Karam di Tengah Laut Kepercayaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com