• Latest
Penyair Aceh Faridha Kembali Warnai Puisi Indonesia

Penyair Aceh Faridha Kembali Warnai Puisi Indonesia

Januari 6, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Penyair Aceh Faridha Kembali Warnai Puisi Indonesia

Redaksiby Redaksi
Januari 6, 2025
in Aceh, jakarta, Literasi, Peluncuran Buku, POTRET Budaya, Puisi, Sastra
Reading Time: 2 mins read
Tags: #Puisi
Penyair Aceh Faridha Kembali Warnai Puisi Indonesia
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

JAKARTA – Potretonline.com- Penyair Aceh Faridha meluncurkan buku Suatu Waktu, Suatu Ruang, Ketika Hati Menyentuh Kata di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, Sabtu, 4 Januari 2025.

Acara ini diawali dengan pembacaan puisi yang menawan dari Devie Matahari, Fikar W. Eda, Imam Ma’arif, dan Helvy Tiana Rosa, menciptakan suasana hangat dan penuh makna. Setelah parade puisi dilanjutkan dengan diskusi membahas puisi-puisi dalam buku tersebut dengan pembicara kritikus sastra Maman S. Mahayana dan sastrawan D. Keumalawati, serta penyair Mustafa Ismail bertindak sebagai moderator.

*Puisi Tanpa Beban*

Dalam pemaparannya, Maman S. Mahayana menyoroti keunikan gaya puisi Faridha yang dianggapnya mengalir alami dan jujur. “Puisi Faridha memberikan pengalaman personal yang dapat dirasakan secara universal,” ungkapnya. Sementara itu, D. Keumalawati mengenang kontribusi Faridha pada era 1990-an sebelum vakum dari dunia kepenyairan Aceh dan hijrah ke Jakarta. “Kini, ia kembali dengan karya yang menggembirakan,” katanya.

Faridha, kelahiran Pulau Weh, Sabang, pada 16 September 1968, mulai menulis sejak remaja. Dorongan dari sang ibu yang mencintai sastra menjadi awal mula perjalanannya. Puisi-puisinya kerap muncul di koran lokal Aceh, seperti Serambi Indonesia dan Aceh Post. Ia juga menulis cerita pendek yang dimuat di majalah populer seperti Anita Cemerlang dan Gadis, serta novelet untuk Kartini.

Meski dikenal di dunia sastra, Faridha juga memiliki latar belakang akademik yang kokoh. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala, dan meraih gelar master dan doktor di Universitas Indonesia. Sejak 1995, ia berkarier di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

*Momentum Kembali ke Dunia Sastra*

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Peluncuran buku Suatu Waktu, Suatu Ruang, Ketika Hati Menyentuh Kata menjadi momentum kembalinya Faridha ke dunia sastra setelah sekian lama menghilang. Buku ini disebut sebagai representasi suara perempuan Aceh yang kuat dan mampu memberikan perspektif khas budaya Aceh.

“Buku-buku yang dibaca ibu saya menjadi inspirasi awal. Saya berharap karya-karya ini dapat menyentuh hati pembaca,” ungkap Faridha.

Sejumlah penulis seperti Murizal Hamzah dan Fanny J Poyk ikut menjadi penanggap diskusi itu.

Di sela-sela sesi diskusi dan akhir acara tampil pula kelompok musikalisasi puisi oleh Sasina IKSI FIB UI dan baca puisi oleh Oktavianus Masheka, Faridha, dan lain-lain.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Detik-detik STY, Dipecat atau Tidak

Detik-detik STY, Dipecat atau Tidak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com