POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Putusan Ulama Tidak Lagi Menjadi Pijakan: Peusijuk Wali Agama Terjadi Juga

RedaksiOleh Redaksi
December 24, 2024
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh: Muhammad Kharazi

Di tengah dinamika sosial-politik Aceh, hubungan antara agama dan kekuasaan kembali menjadi sorotan. Pada Minggu malam, 22 Desember 2024, sebuah peristiwa yang mengundang tanda tanya besar terjadi: Teungku Darwis Jeunib, tokoh senior Partai Aceh (PA) sekaligus representasi dari Gubernur Aceh terpilih Teungku H. Muzakir Manaf, melaksanakan peusijuk terhadap Abuya Amran Waly yang diberi gelar Wali Agama. Tindakan ini menyiratkan sebuah paradoks besar terhadap keputusan MPU Aceh Nomor 7 Tahun 2020.

Keputusan MPU yang Diabaikan

MPU Aceh, sebagai lembaga yang diamanahkan untuk menjaga otoritas keagamaan di Aceh, telah menetapkan keputusan tegas pada tahun 2020. Dalam putusannya, MPU meminta pemerintah Aceh untuk menghentikan segala aktivitas Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) yang diasuh oleh Abuya Amran Waly. Alasannya adalah adanya pandangan bahwa kegiatan majelis tersebut menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang dianut mayoritas masyarakat Aceh.

Namun, hanya berselang empat tahun, keputusan yang seharusnya menjadi pijakan normatif ini seolah tak lagi dianggap penting. Peusijuk oleh Teungku Darwis Jeunib terhadap Abuya Amran Waly bukan hanya bertentangan dengan keputusan tersebut, tetapi juga menjadi antitesis yang memperlihatkan bagaimana dinamika politik sering kali menggeser otoritas keagamaan.

Ironi Peran Ulama dalam Politik Aceh

📚 Artikel Terkait

Belum ada Judul

Satpol PP Kota Banda Aceh Bongkar Bangunan Liar di Bantaran Sungai Krueng Aceh

Raker MAS Darul’Ulum : Guru Dituntut Lahirkan Program Unggul

Membongkar Puisi Mirza Rachmansyah

Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah peran sentral ulama dalam kemenangan Partai Aceh pada Pilkada 2024. Sederet ulama terkemuka, seperti Abu Paya Pasi, Abu Arongan, dan sejumlah ulama lain, memberikan dukungan penuh terhadap Partai Aceh. Abu Paya Pasi, seorang ulama sepuh yang dihormati di Aceh, dianggap sebagai tokoh kunci yang menginisiasi kemenangan PA. Demikian pula, Abu Arongan turut menjadi figur penting yang memperkuat posisi Partai Aceh sebagai representasi aspirasi masyarakat Aceh yang Islami. Dengan demikian, tindakan Teungku Darwis Jeunib seharusnya mencerminkan penghormatan pada konsensus ulama, termasuk keputusan MPU. Namun, apa yang terjadi justru mencerminkan sebaliknya.

Keputusan Teungku Darwis Jeunib untuk menepungtawari Abuya Amran Waly dapat dilihat sebagai upaya membangun aliansi baru atau konsolidasi kekuasaan.

Sayangnya, tindakan ini justru berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat pada integritas dan otoritas ulama di Aceh. Jika keputusan MPU sebagai representasi ulama diabaikan, lalu di mana posisi moral dan spiritual dalam pengambilan keputusan politik?

Dampak pada Legitimasi Ulama

Fenomena ini memperlihatkan tantangan besar bagi ulama di Aceh dalam mempertahankan posisi mereka sebagai penjaga moral masyarakat. Ketika keputusan mereka tidak lagi menjadi pijakan, kredibilitas lembaga keagamaan seperti MPU bisa melemah. Hal ini juga membuka ruang bagi kelompok-kelompok tertentu untuk memanfaatkan simbol keagamaan demi kepentingan politik semata.

Lebih jauh, masyarakat Aceh yang sangat menghormati ulama bisa merasa terpecah. Sebagian mungkin tetap mendukung otoritas MPU, sementara yang lain tergiring oleh narasi politik yang mencoba melegitimasi tindakan seperti peusijuk ini. Di sinilah peran ulama sepuh seperti Abu Paya Pasi menjadi krusial untuk menjembatani kepentingan keagamaan dan politik tanpa mengorbankan prinsip dasar Islam.

Melihat ke Depan: Refleksi untuk Aceh

Kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bagi para pemimpin politik Aceh untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah yang menyangkut nilai-nilai agama. Legitimasi politik yang diperoleh melalui dukungan ulama tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keputusan mereka. Sebaliknya, keputusan ulama harus dihormati dan dijadikan pedoman, karena pada dasarnya mereka adalah penjaga moral dan identitas keislaman masyarakat Aceh.

Aceh, dengan statusnya sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan sinergi antara agama dan politik. Jika tidak, Aceh berisiko kehilangan jati diri sebagai model masyarakat Islami yang harmonis. Semoga peristiwa ini menjadi refleksi bagi kita semua, baik sebagai pemimpin, ulama, maupun masyarakat, untuk kembali menempatkan agama sebagai dasar dari segala kebijakan dan tindakan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengamati  Modus Pengemis di Banda Aceh

PERILAKU HIGH BUDGETING DAN ISLAM

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00