POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT

RedaksiOleh Redaksi
May 26, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Zulkifli Abdy

MATAHARI mulai ranum di ufuk barat, bagai hendak menabur kehangatan.
Geliat kendaraan yang lalu-lalang, balada kehidupan kota yang tak pernah sepi, dan pedagang kaki lima dengan wajah sumringah menyambut pelanggan. Ketika itu saya dan seorang sahabat bergegas masuk ke sebuah kedai kopi yang mulai disesaki pengunjung, lewat beranda samping.

Pertemuan menjelang siang ini, bermula saat kami berpapasan secara tak sengaja dua hari sebelumnya, di parkiran sebuah gerai swalayan franchise yang berpusat di ibukota, dan bersepakat untuk bertemu bila ada waktu senggang.

Supaya lebih leluasa ngobrol, kami memilih duduk di bagian sudut dari beranda itu. Tanpa berpikir lama, saya memesan kopi sanger kesukaan saya, dan seperti biasa sahabat saya itu minta pada pelayan kedai untuk disedukan kopi hitam tanpa gula, kami pun mulai ngobrol “ngalor-ngidul”.

Entah mengapa, tiba-tiba saja sahabat saya itu menggoda saya untuk bicara tentang politik, saya pun menuruti saja. Dan yang bersangkutan mengawali perbincangan dengan satu pertanyaan pembuka, yang membuat saya sedikit kaget, namun merasa suprise juga;

Sahabat: Bro, ini sudah mau musim Pilkada lagi ya? (katanya memulai pembicaraan).
Saya: “Iya, memang kenapa?” (jawab saya santai).

Sahabat: Oh ya Bro, apa saja kiranya yang perlu disiapkan seorang tokoh yang hendak mengikuti kontestasi politik itu? seperti Pilkada Gubernur, Wali Kota dan Bupati nanti. (katanya dengan polos).
Saya: Uang. (jawab saya).

Sahabat: Selain uang apa lagi? (tanyanya penasaran).
Saya: Ya, uang. (saya coba menyederhanakan jawaban).

Sahabat: Ya, selain itu apa lagi Bro? (ia seperti ingin menggali lebih jauh).
Saya: Sembako. (kata saya sambil menunjuk ke arah toko kelontong di seberang jalan).

📚 Artikel Terkait

Sajak-Sajak Rosli K. Matari

Memuliakan Tamu di Tengah Luka

Kepemimpinan Multidimensional Dedi Mulyadi

SD Negeri 14 Bandar Baru Pidie Jaya Menebar Kebaikan Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Sahabat: Masa hanya itu? tentu harus ada yang lain juga Bro. (ia mulai merasa diambangkan).
Saya: Selain itu, para calon harus menyiapkan juga Visi-misi, dan itu sebaiknya dia tulis sendiri, bukan dipesan pada konsultan politik. (jawab saya enteng).

Sahabat: Setelah Visi-misi apa lagi Bro? (ia bertanya, kali ini lebih serius).
Saya: Ya, uang dan lagi-lagi uang, begitu seterusnya sampai pada hari pemilihan nanti. (jawab saya tersenyum seraya menggesekkan jempol tangan dan jari telunjuk berulang-ulang).

Sahabat: Kalau begitu perlu banyak uang dong Bro. (katanya sambil menerawang dan mengarahkan matanya ke langit-langit).
Saya: Benar sekali, demokrasi sekarang ini memang sedang mahal, bukankah suara rakyat adalah suara Tuan, Tuan itu hanya kata saya lho. Tetapi dalam demokrasi ada adagium yang berbunyi; Vox Populi Vox Dei, yang artinya Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, sehingga menang atau kalahnya kontestan politik ditentukan oleh suara rakyat yang memilihnya. (kata saya dengan ekspresi sedikit bercanda untuk mencairkan suasana).

Kami pun membahas topik yang menarik itu dari berbagai sudut pandang, termasuk dampaknya secara ekonomi, sosial dan budaya, bahkan juga aspek penegakan hukum dan kehidupan demokrasi yang turut pula terancam.

Agar tidak jenuh, obrolan kami sesekali ditingkahi dengan cerita lucu dan anekdot yang mengundang gelak-tawa, serta politik yang coba dikaitkan dengan kearifan lokal pada daerah tertentu. Tanpa terasa dua jam sudah kami ngobrol semeja di kedai itu, karena asyiknya waktu pun terasa begitu cepat berlalu.

Sambil melirik arloji yang melilit di tangan kirinya, sahabat saya itu pun mengajukan satu pertanyaan pamungkas;
Sahabat: Kalau begitu, seandainya tokoh yang hendak maju pada Pilkada nanti tidak punya cukup uang, atau punya tetapi tidak mau menggunakannya untuk mempengaruhi pemilih, akan sulit menang dong Bro? (kata sahabat saya itu masygul).
Saya pun menjawab ringkas: Memang, bahkan yang punya cukup uang pun belum tentu menang. Inilah mungkin dilema yang diketahui banyak orang, tetapi tidak cukup dipahami oleh sebagian politisi.

Sahabat: Ah, aku pun semakin mumang juga jadinya ini Bro. (dalam dialek Aceh yang artinya pusing, seraya mendekapkan kedua telapak tangannya di kening dan mengusap rambutnya hingga kusut).
Saya: Pada era politik yang pragmatis sekarang ini, sepertinya uang sebagai sarana, sudah menjadi suatu keniscayaan. Mungkin gejala ini akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali bilamana rakyat secara ekonomi telah sejahtera dan terdidik dengan sangat baik. (jawab saya dengan nada sedikit berfilosofi).

Sebelum mengakhiri perbincangan, saya pun mohon izin pada sahabat yang baik hati itu, untuk menyimpulkan diskusi singkat menjelang siang itu;

Saya: Sahabat, apa yang kita bicarakan ini sesungguhnya adalah suatu fenomena pertarungan antara Idealisme versus Pragmatisme. Hanya orang yang benar-benar tangguh secara ‘imaniah’ yang dapat memenangkannya, walaupun yang bersangkutan akhirnya harus rela dan ‘mengalah’ secara politik. Agaknya suatu ikhtiar bersama yang dapat kita gelorakan ke depan untuk menghentikan sengkarut Politik Uang ini, adalah dengan mencanangkan satu tekad; Entaskan Kemiskinan dan Cerdaskan Kehidupan Bangsa. (demikian kesimpulan saya seraya berucap maaf padanya, karena telah berpanjang lebar).
Sahabat: Baik Bro, kalau begitu saya juga sependapat dengan anda, dan terima kasih, telah membawa alam pemikiran saya menerawang jauh ke batas angan. (jawabnya dengan nada lirih seraya bersalaman).

Seiring dengan itu, suara azan terdengar berkumandang dari menara masjid kecil, di lorong tak jauh dari kedai kopi tempat kami biasa bercengkrama itu.
Kami pun bersepakat untuk sementara waktu berpisah, dan akan bertemu lagi dilain kesempatan.

(Banda Aceh, 25 Mei 2024)

Note ;
– Cerita ini hanya fiksi belaka
– Foto hanya sebagai ilustrasi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Pilkada 2024 Padang Panjang Ubai Dillah Al Anshori: Energi Bangkit Bersama Milenial

Pilkada 2024 Padang Panjang Ubai Dillah Al Anshori: Energi Bangkit Bersama Milenial

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00