• Latest

DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT

Mei 26, 2024
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Essay | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT

Redaksi by Redaksi
Mei 26, 2024
in Essay
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Zulkifli Abdy

MATAHARI mulai ranum di ufuk barat, bagai hendak menabur kehangatan.
Geliat kendaraan yang lalu-lalang, balada kehidupan kota yang tak pernah sepi, dan pedagang kaki lima dengan wajah sumringah menyambut pelanggan. Ketika itu saya dan seorang sahabat bergegas masuk ke sebuah kedai kopi yang mulai disesaki pengunjung, lewat beranda samping.

Pertemuan menjelang siang ini, bermula saat kami berpapasan secara tak sengaja dua hari sebelumnya, di parkiran sebuah gerai swalayan franchise yang berpusat di ibukota, dan bersepakat untuk bertemu bila ada waktu senggang.

Supaya lebih leluasa ngobrol, kami memilih duduk di bagian sudut dari beranda itu. Tanpa berpikir lama, saya memesan kopi sanger kesukaan saya, dan seperti biasa sahabat saya itu minta pada pelayan kedai untuk disedukan kopi hitam tanpa gula, kami pun mulai ngobrol “ngalor-ngidul”.

Entah mengapa, tiba-tiba saja sahabat saya itu menggoda saya untuk bicara tentang politik, saya pun menuruti saja. Dan yang bersangkutan mengawali perbincangan dengan satu pertanyaan pembuka, yang membuat saya sedikit kaget, namun merasa suprise juga;

Sahabat: Bro, ini sudah mau musim Pilkada lagi ya? (katanya memulai pembicaraan).
Saya: “Iya, memang kenapa?” (jawab saya santai).

Baca Juga

DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Essay | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 9154bb9b 6587 4b8f baa1 a1aa4a22f49c | Essay | Potret Online

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - b4654f4d dc1c 4611 b1bc 982b3692e7d1 | Essay | Potret Online

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

Sahabat: Oh ya Bro, apa saja kiranya yang perlu disiapkan seorang tokoh yang hendak mengikuti kontestasi politik itu? seperti Pilkada Gubernur, Wali Kota dan Bupati nanti. (katanya dengan polos).
Saya: Uang. (jawab saya).

Sahabat: Selain uang apa lagi? (tanyanya penasaran).
Saya: Ya, uang. (saya coba menyederhanakan jawaban).

Sahabat: Ya, selain itu apa lagi Bro? (ia seperti ingin menggali lebih jauh).
Saya: Sembako. (kata saya sambil menunjuk ke arah toko kelontong di seberang jalan).

Sahabat: Masa hanya itu? tentu harus ada yang lain juga Bro. (ia mulai merasa diambangkan).
Saya: Selain itu, para calon harus menyiapkan juga Visi-misi, dan itu sebaiknya dia tulis sendiri, bukan dipesan pada konsultan politik. (jawab saya enteng).

Sahabat: Setelah Visi-misi apa lagi Bro? (ia bertanya, kali ini lebih serius).
Saya: Ya, uang dan lagi-lagi uang, begitu seterusnya sampai pada hari pemilihan nanti. (jawab saya tersenyum seraya menggesekkan jempol tangan dan jari telunjuk berulang-ulang).

Sahabat: Kalau begitu perlu banyak uang dong Bro. (katanya sambil menerawang dan mengarahkan matanya ke langit-langit).
Saya: Benar sekali, demokrasi sekarang ini memang sedang mahal, bukankah suara rakyat adalah suara Tuan, Tuan itu hanya kata saya lho. Tetapi dalam demokrasi ada adagium yang berbunyi; Vox Populi Vox Dei, yang artinya Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, sehingga menang atau kalahnya kontestan politik ditentukan oleh suara rakyat yang memilihnya. (kata saya dengan ekspresi sedikit bercanda untuk mencairkan suasana).

Kami pun membahas topik yang menarik itu dari berbagai sudut pandang, termasuk dampaknya secara ekonomi, sosial dan budaya, bahkan juga aspek penegakan hukum dan kehidupan demokrasi yang turut pula terancam.

Agar tidak jenuh, obrolan kami sesekali ditingkahi dengan cerita lucu dan anekdot yang mengundang gelak-tawa, serta politik yang coba dikaitkan dengan kearifan lokal pada daerah tertentu. Tanpa terasa dua jam sudah kami ngobrol semeja di kedai itu, karena asyiknya waktu pun terasa begitu cepat berlalu.

Sambil melirik arloji yang melilit di tangan kirinya, sahabat saya itu pun mengajukan satu pertanyaan pamungkas;
Sahabat: Kalau begitu, seandainya tokoh yang hendak maju pada Pilkada nanti tidak punya cukup uang, atau punya tetapi tidak mau menggunakannya untuk mempengaruhi pemilih, akan sulit menang dong Bro? (kata sahabat saya itu masygul).
Saya pun menjawab ringkas: Memang, bahkan yang punya cukup uang pun belum tentu menang. Inilah mungkin dilema yang diketahui banyak orang, tetapi tidak cukup dipahami oleh sebagian politisi.

Sahabat: Ah, aku pun semakin mumang juga jadinya ini Bro. (dalam dialek Aceh yang artinya pusing, seraya mendekapkan kedua telapak tangannya di kening dan mengusap rambutnya hingga kusut).
Saya: Pada era politik yang pragmatis sekarang ini, sepertinya uang sebagai sarana, sudah menjadi suatu keniscayaan. Mungkin gejala ini akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali bilamana rakyat secara ekonomi telah sejahtera dan terdidik dengan sangat baik. (jawab saya dengan nada sedikit berfilosofi).

Sebelum mengakhiri perbincangan, saya pun mohon izin pada sahabat yang baik hati itu, untuk menyimpulkan diskusi singkat menjelang siang itu;

Saya: Sahabat, apa yang kita bicarakan ini sesungguhnya adalah suatu fenomena pertarungan antara Idealisme versus Pragmatisme. Hanya orang yang benar-benar tangguh secara ‘imaniah’ yang dapat memenangkannya, walaupun yang bersangkutan akhirnya harus rela dan ‘mengalah’ secara politik. Agaknya suatu ikhtiar bersama yang dapat kita gelorakan ke depan untuk menghentikan sengkarut Politik Uang ini, adalah dengan mencanangkan satu tekad; Entaskan Kemiskinan dan Cerdaskan Kehidupan Bangsa. (demikian kesimpulan saya seraya berucap maaf padanya, karena telah berpanjang lebar).
Sahabat: Baik Bro, kalau begitu saya juga sependapat dengan anda, dan terima kasih, telah membawa alam pemikiran saya menerawang jauh ke batas angan. (jawabnya dengan nada lirih seraya bersalaman).

Seiring dengan itu, suara azan terdengar berkumandang dari menara masjid kecil, di lorong tak jauh dari kedai kopi tempat kami biasa bercengkrama itu.
Kami pun bersepakat untuk sementara waktu berpisah, dan akan bertemu lagi dilain kesempatan.

ADVERTISEMENT

(Banda Aceh, 25 Mei 2024)

Note ;
– Cerita ini hanya fiksi belaka
– Foto hanya sebagai ilustrasi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 332x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 323x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 280x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
DIALOG IMAJINER DENGAN SAHABAT - 025e961e 86c3 4676 9bde bf87cad4271f | Essay | Potret Online

Pilkada 2024 Padang Panjang Ubai Dillah Al Anshori: Energi Bangkit Bersama Milenial

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com