• Latest
Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati - 48abb01b 0076 4e84 b1f4 b7e652c2e7f5 | Cerpen | Potret Online

Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati

Desember 15, 2023
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati - 48abb01b 0076 4e84 b1f4 b7e652c2e7f5 | Cerpen | Potret Online

Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati

Redaksi by Redaksi
Desember 15, 2023
in Cerpen, Kisah Nyata
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Yurisa

 

Bagi kita, semua kehilangan sosok yang dicinta adalah sebuah luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Raut wajah yang muram, air mata yang tumpah menjadi jawaban atas perasaan yang tengah dirasa.

Hari itu seperti hari biasanya.  Pagi hari yang cukup cerah, kami berangkat sekolah. Sebelumnya ada sarapan pagi yang tak boleh terlewatkan. Yap, aku beserta kedua adikku harus menghabiskan nasi yang sudah disiapkan oleh Ibuku. Setelah itu, kamipun berangkat ke sekolah yang tidak jauh dari rumah.

Sepulangnya dari sekolah,  aku menyetrika pakaian yang  tumpukannya bak gunung Himalaya. Terasa terlalu tinggi untuk ukuran tangan mungilku  yang masih SMP kala itu. Ketika sedang menyelesaikan pekerjaan tadi, Bapak mengajakku untuk pergi mengambil buah rambutan di rumah nenek bersama kedua adikku. Namun, Ibuku menyarankan aku untuk tidak ikut pergi ke rumah nenek yang lumayan jauh jaraknya dari rumah, dikarenakan harus menyelesaikan setrikaan yang menggunung.

Setelah selesai menyelesaikan pekerjaan tadi. Kakiku mulai melangkah pergi ke sungai, sambil membawa ember yang berisi tumpukkan piring kotor. Mencuci piring dan pakaian kotor di sungai menjadi aktifitas keseharianku. Tak hanya aku, semua orang di kampungku melakukan aktivitas yang sama sepertiku. Sungai menjadi sumber daya alam yang sangat bermanfaat untuk kehidupan kami.

Selesainya mencuci piring, aku terus berjalan menuju rumah. Terlihat dari kejauhan ramai sekali orang yang mendatangi rumahku. Terdengar suara riuh yang terdengar di telingaku. Akupun mempercepat langkahku agar mengetahui apa yang terjadi. Ketika sampainya di depan pintu halaman, entah beberapa pasang mata menatapku dengan sendu.

Saat langkah kakiku masuk ke dalam rumah. Ada seseorang yang menghampiriku seraya berbisik “ Bapak sudah meninggal jatuh dari pohon rambutan.” Seluruh badanku terasa lumpuh, bibirku bergetar sambil mengucap ” Innalila wa innailaihi rojiun”. Tanpa sadar tubuh mulai terjatuh, pikiran menjadi bau-abu, air matapun tumpah tanpa ragu. Berita ini membuat hati pilu dan dunia terasa telah runtuh.

Tibanya di rumah nenek, kutemui tubuh Bapak terbujur kaku. Kulihat kain panjang telah menutupi seluruh tubuhnya. Ibu yang telah datang mendahuluiku telah membacakan surat Yasin sambil menahan tangis. Tak terhitung berapa pasang mata yang menangiskan kepergiannya. Hatiku sangat sulit menerima kenyataan  di depan mata. Perlahan kudatangi sosok  Bapak dengan iringan air mataku. Kudekati Ibuku yang sedang mengandung dan kupeluk dengan erat  tanpa kata. Aku mencari sosok kedua adikku yang tadi pergi bersama Bapak. Terlihat adik bungsuku yang waktu itu berumur 5 tahun sedang terdiam  sembari menatap tubuh Bapak dan satu lagi adikku sedang terdiam sambil menangis.

Kedua adikku yang mejadi saksi jatuhnya Bapak dari pohon rambutan menjadi sangat trauma ketika melihat pohon rambutan yang dinaikki Bapak. Ketika Bapak jatuh dari pohon rambutan adikku yang kala itu  sedang duduk di bangku Sekolah Dasar dan TK sudah berusaha keras untuk berteriak meminta tolong kepada orang-orang, namun tidak ada satupun yang mendengar. Hingga akhirnya, setibanya perawat yang datang, nyawa Bapak tidak bisa diselamatkan.

Hari itu  sepeninggalnya Bapak, aku beserta adik dan kakakku menyandang status baru, yaitu sebagai anak yatim. Begitupula dengan Ibuku, beliau besatus janda ketika sedang menandung adikku.

Suasana rumah menjadi sedikit berbeda, tidak ada lagi sosok Bapak yang ditunggu kepulangannya. Tidak ada lagi jam antar  makanan di tempat kerja Bapak. Tidak ada lagi senyum manis yang terukir manis di wajahnya. Tak ada peninggalan foto antara aku dan Bapak. Semua memori indah tereka dalam hati dan pikiran.

Menjalani proses meridhoi seseraong yang dicintai adalah proses yang tidak mudah. Berbagai kekhawatiran muncul begitu saja dan terasa sulit untuk ditepiskan. Mengkhawatirkan masa depan, bagaimana cara mencukupi kebutuhan yang semakin meningkat, kejahatan yang bisa datang kapan saja, dan beragam kekhawatiran lainnya.

Tentu tidak mudah menjalani hidup tanpa sosok  Bapak. Seperti yang kita ketahui bahwa seorang Bapak adalah sosok yang memiliki kewajiban mencari nafkah untuk keluarga, menjadi sosok suami dan Bapak yang baik dan patut dicontoh di dalam  keluarga. Dan saat itu, sosok itu telah pergi untuk selamanya. Kami tidak lagi bisa berjumpa beliau di dunia, akan tetapi kami berdoa dan selalu berharap Allah akan mempertemukan kembali di Surga-Nya.

Aku memiliki 1 orang kakak perempuan yang pada saat itu sekolah SMA yang jauh dari rumah, dan sekolah tersebut menyediakan asrama untuk para peserta didiknya. Aku memiliki 2 orang adik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan Taman Kanak-Kanak. Aku sendiri pada saat itu, aku sedang duduk di bangku sekolah SMP.

Sepeninggal Bapak, Ibu yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Tak hanya itu, Ibu harus merangkap peran sebagai Ibu dan Bapak bagi kami semua. Tak bisa terbayangkan bagaimana terkurasnya pikiran dan tenaga untuk menyanyangi, mengasihi, dan berjuang untuk mencukupi kebutuhan kami. Menjalani kehidupan tanpa sosok Bapak menjadikan kami bertanya, “Apakah kami mampu melewati ini semua?”. Ternyata ketika kita percaya takdir ini adalah takdir yang terbaik yang harus dijalani, maka Allah akan mampukan untuk melewati ini semua.

Beberapa bulan sepeninggalnya Bapak, Ibukku melahirkan anak kelimanya dengan jenis kelamin laki-laki. Sungguh wajahnya sangat mirip dengan Almarhum Bapak. Kami sangat senang dengan kehadiran adik terakhir kami. Akan tetapi ada satu kesedihan yang tak bisa terelakan. Dia lahir  ke dunia tanpa seorang Bapak.

Ada satu momen yang tak bisa terlupan. Ketika adik bungsuku beranjak usia 4 tahun dia mulai merasa ada yang kurang di dalam keluarganya. Ketika dia pulang sekolah TK, ia berlari begitu kencang menghampiri Ibu seraya bertanya “ Bu, Bapak adek mana? Temen-temen yang lain punya Bapak. Kalau pulang sekolah mereka dijemput Bapaknya, adek kenapa nggak pernah?”.

Kalaulah mengukur kesedihan yang aku derita. Lebih sedih lagi adik bungsuku yang tidak pernah sekalipun melihat sosok Bapak di dunia.

Jangan bertanya sebanyak apa air mata kami tumpahkan untuk menjalaninya, seberapa sering kami menelan hal yang tidak sesuai keinginan, seberapa sedihnya ditinggal orang yang dicinta. Semua perasaan itu akan bisa dilewati dengan iman yang tumbuh di dalam hati. Dan selalu ingat ada yang sangat dekat dengan kita, dan Allah yang senantiasa menolong kita.

Sungguh sangat menyayat hati untuk menerima kenyataan ini. Jikalau tidak ada Allah yang memberi kami kekuatan, maka kami akan hancur berantakan. Jikalau tidak ada iman, tidaklah mungkin bisa kami bertahan. Ini semua karena Allah yang mampukan. Berdamai dengan takdir dan menerima  takdir dengan kelapangan hati  menjadikan hati lebih lapang untuk menjalani.

ADVERTISEMENT

 Jika harus dipikir dengan logika dan menghitung dengan kalkulator dunia, maka gaji Ibuku selama sebulan kerja tidak mungkin bisa mencukupi kami. Bersyukur dengan apa yang dimiliki hari ini membuat Allah mencukupkan semua kebutuhan kami. Allah gerakkan hati orang-orang di sekitar kami untuk membantu kami. Sehingga Allah cukupkan kebutuhan kami.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
PPPK

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026

 Jangan pernah lupa kita memiliki Allah yang Maha Kuasa. Rasa sedih, rasa senang, rasa gundah itu hadir atas izin-Nya, dan Allah sebagai tempat untuk mengadu segala rasa. Kita harus yakin dengan sepenuhnya bahwa Allah akan hadirkan ketenangan di dalam jiwa.

Aku tidak pandai dalam berkata langsung untuk menyampaikan hal ini kepada Ibu, melalui tulisan ini aku dengan tulus mengucapkan terimakasih kepada Ibuku tersayang. Ibu hebat, luar biasa, Ibu yang selalu berjuang keras menghidupi kami. Ibu yang selalu menampakkan rasa bahagia di kala kita berkumpul bersama, tapi kami tahu Ibu menangis sendiri ketika matahari tak lagi menampakkan sinarnya. Kami tahu begitu berat menjalani ini semua. Kami tahu Ibu sangat lelah untuk mengurusi kami semua. Semoga Allah memberikan kesehatan dan pahala yang berujung surgayang tertinggi di sisi-Nya. Terimaksih sudah membesarkan kami dengan penuh cinta dan kasih sayang, telah memberi makanan yang sehat, pakaian yang layak, tempat tidur yang nyaman, pendidikan yang baik. Kami semua sayang Ibu karena Allah.

* Penulis berdomisili di Aceh Timur

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 331x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 326x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 304x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Menjalani Takdir dengan Kelapangan Hati - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post

Secangkir Kopi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com