• Latest
Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh - IMG_6334 | Cerpen | Potret Online

Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh

September 16, 2023
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh - IMG_6334 | Cerpen | Potret Online

Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh

Redaksi by Redaksi
September 16, 2023
in Cerpen, POTRET Budaya
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh HD Mulya

“Ayah aku cinta dan rindu padamu, Ibu engkau adalah wanita terbaik sepanjang hidupku.”

Aku adalah masyarakat biasa. Aku lahir dari hasil perkawinan ayah dan ibuku. Ayahku yang bernama Pangeran Jafar itu berasal dari pulau seberang. Dan ibuku bernama Cut Asiah berasal dari ujung pulau Sumatera bagian barat.
Ibuku orang kaya raya, banyak sawah ladang subur bak zamrud khatulistiwa yang dimilikinya. Di perut sawah ladangnya yang subur terkandung emas dan gas bumi yang melimpah ruah. Selain kekayaan yang dimiliki, Ibuku juga seorang wanita berbudi luhur dan dermawan. Aku bukan jenis burung jampok, sejenis burung yang matanya melotot yang memuji ibunya sendiri, tetapi fakta. Catatan sejarah menjadi bukti namanya terkenal dan abadi dalam buku-buku sejarah peradaban dunia. Sedangkan ayahku dulunya memang orang yang tidak punya apa-apa. Hanya sedikit kelebihan yang dimilikinya yaitu pandai merayu.

Menurut berita yang kuterima dari tetangga, sebelum ibuku jadi istri ayahku, banyak lelaki lain yang menginginkannya. Lelaki itu ada yang datang dari Jepang, Portugis, dan Belanda. Mereka muncul ke rumah ibuku tetapi ibuku menolak ajakan mereka. Bahkan pelamar dari negeri Belanda yang sedikit beringas dilawan oleh ibuku.
Ibuku kawin dengan ayahku setelah mereka jatuh cinta dan lamaran lelaki Jepang, Portugis, dan Belanda ditolak mentah-mentah oleh ibuku. Maka pelamar yang dari Belanda itu tidak segan-segan merongrong kewibawaan ayahku. Demi cinta ibuku dia rela mengorbankan segalanya. Cucuran keringat dan darah tidak menjadi penghalang baginya untuk berjuang. Pernah beberapa kali ayahku berkelahi dengan lelaki Belanda itu. Saat itu ayahku hanya bermodal bambu runcing dan pedang, sedangkan lelaki Belanda punya meriam dan senapan. Tetapi akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh ayahku berkat doa-doa dan bantuan ibuku.Mereka sangat gembira dan berteriak- teriak sambil melambaikan bendera kemenangan.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026

“Kita menang,” teriak ayah sambil meloncat-loncat kegirangan. “Kita menang,” sahut ibu Sambil mengenang perjuangan dengan perasaan terharu.
Sebagai pasangan suami istri dimana tikar pelaminan yang telah mempersatukan mereka, lalu mereka mengayuh bahtera rumah tangga tanpa ada lagi yang mengganggu. Mereka hidup tentram, rukun, dan damai. Mahligai rumah tangga bagaikan surga dunia yang diberikan Ilahi Ya Rabbi. Mereka saling membagi kasih sayang tidak ada perselisihan pendapat. Walaupun ada tidak seberapa meyakitkan.
Saat itu aku belum tahu apa-apa tentang kehidupan keluargaku. Aku masih kecil jiwaku masih kosong bagaikan u groh atau kelapa muda belum berisi.

Sekarang aku sudah dewasa, sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Rasa pahit, manis, asin, pedas sudah kurasakan bertahun-tahun.
Kedamaian dan ketentraman yang dimiliki keluargaku telah sirna. Hanya tinggal puing-puing dan sobekan kecil. Perselisihan dan perbedaan pendapat antara ayah dan ibuku telah menyeret aku dan saudara- saudaraku ke jurang kesengsaraan yang panjang.
Ibuku menuntut ayahku untuk dicerai dengan alasan dikhianati. Ibuku dulu banyak memberi modal usaha kepada ayahku sehingga ia menjadi kaya raya. Banyak perusahaan ia dirikan, sekarang tinggal dipetik hasilnya. Selain itu, ayahku menggarap tanah subur punya ibuku dan menjual hasil panennya ke luar negeri, sedangkan ibuku hanya diberikan secuil, nol koma sekian persen. Ibuku sangat marah dan bertengkar dengan ayahku.

“Ceraikan aku,” kata ibu sambil melotot.
“Sabar ma, sabar. Kalau tidak keluarga kita akan hancur,” jawab ayah dengan nada agak lembut menahan amarahnya.
Ternyata amarah ibu tidak dapat dibendung lagi, ia terus mencaci maki ayah sambil berteriak-teriak suaranya terdengar sampai ke rumah tetangga.

“Dulu papa menikahiku dengan alasan cinta. Rupanya papa bukan mencintaiku tetapi mencintai harta yang aku miliki. Bekilo-kilogram emas aku sumbangkan untuk modal usaha papa. Sehingga papa menjadi orang kaya raya. Sekarang emas itu papa jadikan hiasan. Papa sangkutkan di ujung tugu yang ada di depan rumah papa di pulau seberang. Dasar penipu, mata keranjang,” begitu ibuku merepet sembari menunjukkan jarinya ke muka ayah.

“Tenang ma, tenang. Ini masalah kita bersama. Kita perlu berdialog mencari solusi, kita perlu hakim,” ucap ayah sambil mengangkat kedua belah tangan nya seperti orang memohon maaf.

Ibuku tidak menghiraukan lagi ucapanya. Ia terus mengungkit- ungkit sejarah lampaunya.

“Aku papa tinggalkan disini dengan deraan penderitaan. Nafkah tidak pernah papa kira. Tidakkah papa ingat jasaku ketika aku belikan dua buah pesawat terbang. Untuk modal usaha papa supaya mudah berbisnis. Sekarang pesawat itu papa gunakan sebagai sarana pelancongan pergi berekreasi ke luar negeri. Papa pergi jalan-jalan melihat Tembok Berlin, Tajmahal, dan melihat Gedung Putih. Sedangkan aku papa tinggalkan disini tanpa kabar sepatah katapun, hanya algojo dan mata-mata yang papa kirim kerumah ini. Dasar penipu,” kembali tudingan telunjuk ibu ke arah hidung ayah.

“Algojo dan mata-mata itu, papa kirim demi keutuhan tali pernikahan kita ma,” jawab ayah.

“Persetan dengan kata-kata papa. Algojo dan mata-mata telah menyiksa dan membunuh anakmu sendiri. Sekarang ceraikan aku titik!.”

Begitulah keadaan keluargaku pertengkaran terjadi hampir saban hari. Namun, ayahku hanya tenang-tenang saja dan selalu berkata: “Tidak ada kata berpisah antara kita berdua, kau tetap isteriku sampai kapanpun.”

Selanjutnya ibuku hanya menunggu. Kata talak tiga tidak pernah keluar dari mulut ayahku. Sedangkan aku dan saudara-saudaraku menunggu kepastian dari ayahku, yaitu diberikan hak untuk memilih. Bergabung dengan ayah untuk berusaha bersama-sama atau bergabung dengan ibuku untuk membangkitkan kembali semangatnya yang sudah rapuh. Tetapi ayahku hanya diam saja, tidak ada kejelasan darinya. Kami hanya diberikan hak untuk mengurus dirinya sendiri. Beban ibuku bertambah berat, ia harus buka usaha sendiri, mengelola sendiri dengan modal sendiri. Anaknya kelaparan dan berkelana dimana-mana.

ADVERTISEMENT

Ayahku sudah lama tidak pulang ke rumah, ujung pulau ini hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan. Ia hanya mengirimkan algojo dan mata-mata untuk memantau gerak-gerik aku, ibu, dan saudara- saudaraku. Algojo itu sering memaki, membentak, dan memukul kami. Algojo itu sangat beringas dan menyeramkan. Kami disiksa dirumah kami sendiri. Terpaksa kami keluar dari rumah sendiri mencari tempat yang aman.
Kadang-kadang kami tidur di masjid dan di bawah tenda biru. Rumput hijau kami jadikan tempat pembaringan. Angin malam menjadi selimut kami. AC alam membuat urat dan tulang kami jadi kering kedinginan. Pohon-pohon lesu penuh rasa kepiluan melihat nasib kami. Burung-burung meneteskan air mata melihat nasib manusia yang terusir dari rumahnya sendiri.
Burung-burung bebas tidur sesuka hati, bebas pulang pergi kesarangnya. Tidak terusir dari sarang sendiri. Burung adalah binatang, punya rasa kasih sayang. Kenapa manusia seperti ayahku yang punya pikiran tidak pernah bersedih dan tidak merasa iba sedikitpun? Kami tidak bisa menjawab, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Kami hanya bisa berdoa.

Banda Aceh, Oktober 2000

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 331x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 326x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 304x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Derai Air Mata Seorang Ibu dari Aceh - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post

Mengajar Sepenuh Cinta dan Mendidik Sepenuh Rasa dalam Konteks Kurikulum Merdeka

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com