• Latest
KUKU PANJANGKU

KUKU PANJANGKU

Agustus 30, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

KUKU PANJANGKU

Redaksiby Redaksi
Agustus 31, 2022
Reading Time: 5 mins read
KUKU PANJANGKU
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Riami

Berdomisili di Malang, Jawa Timur

          Sore hari. Senja keemasan di ujung barat menerpa jendela rumah kami. Sorot keemasannya menerpa pipi mungil Radiva, adikku yang paling kecil. Ganteng lebih putih dari aku. Hidungnya sama mancung, tapi orang-orang yang bertemu kami berdua selalu bilang Radiva lebih ganteng. Ah tak apa untung ibuku tak pernah membedakan kami. Hanya kadang ibu selalu menyuruhku mengalah ketika kami berebut benda mainan atau apa saja. Sepele sich sebenarnya barangnya, tapi aku tidak suka selalu disuruh mengalah.

Kali ini dia diam sekali, kelihatan serius.

Selesai mengerjakan tugas seni budaya aku mengerjakan matematika. Tenang, kulihat dia tidak reseh seperti biasanya, selalu minta penghapusku, pensilku, ini kek, itu kek padahal dia sudah punya ah BT banget.

Aku serius mengerjakan soal matematika, tinggal tiga nomor lagi. Kusapa dia. “Radiv, sedang apa kau.”tanyaku. “Lihat lihat lukisan kakak,” jawabnya. “Jangan itu tugas sekolah nanti kotor!” “Aku ingin lihat saja.” Dia memegang erat lukisan kertasku. “Ayo berikan kakak!” Ia tidak mau memberikan malah ditekuknya lukisanku. Ah mulai timbul jengkelku. Kubentak dia. “Kembalikan itu tugas kakak! Besuk kamu kubuatkan sendiri.” “Tidak kakak kemarin katanya mau buatkan ternyata tidak dibuatkan, jadi ini saja untuk saya.

“Tidak!” jawabku tegas. Ah di luar dugaanku. Dia malah menyobek lukisanku. Geram sekali. Kucubit tangannya. Dia buang lukisanku. Lalu menangis sejadi jadinya. Ibu terkejut waktu itu ibu salat isya. Kulihat tangannya berdarah. Aku panik. Tapi dia tidak mau kutolong.

Adik menangis di musala rumah tempat ibu salat. Darah dit angannya bekas kucubit mengenai mukena ibuku. Selesai salam ibu melihat adik. _“Astaqfirullah hal adhim,_ kenapa ini dik?” “Dicubit kakak.” _“Masyaallah_ kenapa sampai begini?” “Dia merobek tugas senibudayaku yang sudah kubuat dengan susah payah bu.” Ibu tidak berkata apa-apa padaku. Tatapannya saja membuat aku merasa sangat bersalah. Kulihat ada tetes bening menetes di pipinya. Tanpa kuduga. Ibu memarahi adik. Ibu mengatakan pada adik. “Adik dengarkan ya, jangan pernah ganggu milik siapapun, ini masih milik kakak jadi kakak hanya mencubit. Tapi kalau milik orang lain adik bisa dipatahkan tangannya. Paham adik. Ketika milik orang lain itu terganggu, maka kadang orang tidak memikirkan bahwa saudara, atau sahabat lebih berharga dari benda milik kita. Jadi adik harus hati-hati ya.” Kalimat ibu sangat menohokku.

Setelah itu ibu menggendong adik ke kamar. Membuka kotak P3K. Tangan Radiva diobati. Dibersihkan dengan betadin. Aku lihat dari balik jendela kamar ibu lukanya membekas kuku panjangku. Serasa tanganku ikut sakit. Kucoba kucubit sendiri tanganku hingga berdarah seperti adik. Ternyata sangat sakit. Kudengar tangisannya sudah mulai agak reda. Ibu membuatkan jus tomat kesukaannya. Adik tidak suka jus pakai mesin. Sukanya tomatnya diparut, lalu disaring. Memang rasanya beda. Lebih enak yang diparut, terasa alami. Tapi ibu selalu telaten membuatkan makanan kesukaannya anak-anaknya ketika masih kecil agar tidak sampai kurang gizi. Masih ingat ketika masa kecilku aku tidak suka sayur. Ibu selalu membuatkan dadar telur warna warni semua karena dicampur sayur bayam yang dihaluskan juga wortel. Ibu maafkan aku kali ini aku membuat hati ibu sedih karena bertengkar dengan adikku yang masih TK. Sedangkan aku sudah kelas sembilan SMP.

Setelah minum jus,adik rupanya tidur. Dalam pulasnya masih ada sisa sengguk tangisnya kudengar. Aku mendekati ibu. “Bu aku minta maaf.” Dirangkulnya aku. Kami berdua menangis. “Diva pernah suatu hari ketika kamu masih kecil, menarik laptop yang ibu letakkan di atas meja. Lalu laptopnya jatuh pecah layarnya. Ibu tidak bisa mengetik di laptop sampai ibu bisa menyerviskan. Ibu marah. Ibu jengkel. Tapi ibu tidak bisa memukulmu. Kau tahu kenapa? Karena menurut ibu laptop ada tokonya, kau masih kecil terlalu kasihan untuk dipukul. Biasakan berfikir bahwa saudara di atas segalanya Diva. Apalagi kalau lukisan kau sudah pandai melukis kau bisa menyelesaikan model seperti itu dalam waktu satu jam. Kenapa kau harus menyakiti adikmu yang belum mengerti yang lukanya itu belum tentu sembuh dalam dua hari?” “Maafkan aku ibu, Diva kilaf, Diva rela ibu cubit sepeti ini.” Sambil kutunjukkan luka tanganku bekas kucubit sendiri.

Ibu malah marah. “Itu tidak perlu kau lakukan juga tindakan menyakiti diri sendiri itu zalim. Kau tahu kenapa aku tidak memarahimu di depan adikmu, karena biar dia tidak kurang ajar terhadap kakaknya. Meski begitu kau tetap salah selaku saudara tua, kau harus menyayanginya. Perhatikan beberapa hari ini kulihat kamu kurang disiplin meletakkan barang-barangmu. Yang penting letakkan di almarimu. Kamu sudah punya almari lalu dikunci. Ibu juga minta maaf karena ibu waktu itu salat tidak pamit adik tidak kuajak sehingga mengganggumu belajar. Kami pun saling memaafkan.

Baca Juga

IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Pagi hari adik kusapa seperti biasa. Dia memandangku takut dan masih agak marah. Kulihat di wajahnya masih ada jengkel terhadapku. Aku berjanji lukisan yang kubuat lagi setelah kunilaikan akan kuberikan adik. Jam sudah menunjukkan pukul enam, aku harus berangkat sekolah. Seperti biasa aku salim pada ibu. Karena kami bertiga saja di rumah. Ayah seorang pelayaran jadi pulangnya lama paling cepat enam bulan sekali.

Pukul tujuh bel sekolah berbunyi. Saat masuk kelas. Jam pertama waktunya seni budaya. Saat menyerahkan lukisan masih terbayang tangan adik yang ditutup dengan perban tipis oleh ibu dan diberi betadin. Ada rasa pilu di sudut hatiku. Harusnya aku jadi pelindung mungil tangannya. Tetapi mengapa aku melukainya. Ah terasa tidak konsentrasi aku belajar.

Saat istirahat kuambil potongan kuku di tas yang sengaja kubawa dari rumah. Untuk memotong kuku panjangku yang melukai adikku. Teman-teman pada heran. “Kenapa kukumu yang kau gunakan main gitar kau potong?” tanya Rizal. “Kukuku telah melukai tangan mungil adikku. Jadi kupotong saja. Biarlah main gitar bisa dengan alat. Saat istirahat selesai memotong kuku aku tidak makan aku melukis lagi, ya melukiskan untuk adik. Kugambar seorang kakak yang sedang sakit. Lalu diinfus. Trus adiknya menunggui dis ebelahnya. Lalu kulukis foto adikku juga. Dapat dua lukisan saat istirahat. Teman-temanku heran. “Kenapa kau melukis saja tidak makan di kantin?” “Ah aku mau menebus kesalahanku.” “Salah apa? Pada siapa?” Tanya Widi. “Pada adikku kemarin aku mencubit adikku karena minta lukisanku.” “O kenapa begitu? Aku selalu buatkan adik dulu sebelum aku melukis untuk diriku.” “Iya aku bersalah.”

Bel pulang pun tiba. Saat pulang sekolah seperti mendung. Maka lukisan adikku kubungkus dengan plastik. Kutaruh di tas. Sepanjang perjalanan hujan deras. Tak sengaja ada lubang yang tak terlihat karena tergenang air. Gubrak! Aku jatuh dari sepeda di deras hujan. Kakiku terbentur aspal jalanan. Terasa hangat darah mengalir. Setelah itu aku tak terasa apa-apa. Yang kutahu aku ada di puskesmas setelah siuman. Sudah kulihat ada ibu, adik, teman-temanku dan guruku. “Mana lukisanku?” “Di tas Diva,” jawab Bu Indra guruku. Waktu itu  beliau bersepeda motor saat melintas di jalan tempat aku jatuh dan beliau yang membawaku ke puskesmas.

ADVERTISEMENT

“Mana-mana tasku.” Fendy temanku memberikan tasku. Kulihat di tas. Alhamdulillah masih utuh. Lalu kuambil. “Radiva! Lihatlah apa yang kakak punya?” Aku merasa lega Radiva sudah tersenyum padaku sambil menjawab, “Itu lukisan kakak untuk dikumpulkan pada bu guru kan?” “Bukan ini lukisan untukmu.” “Untukku? Terima kasih kak dia menghambur padaku sambil memelukku. “Aduh-aduh! Kakiku sakit pelan-pelan.” Radiva  tersenyum sambil nyengir. Teman-teman kompak berkata, “Satu-satu niye. Tidak patah kan tapi?” Ah tapi nyeri tahu. “Maafkan kakak ya dik.” Radiva tersenyum padaku. “Ya Kak”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Antologi Puisi Asep Perdiansyah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com