POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

RedaksiOleh Redaksi
July 9, 2022
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
🔊

Dengarkan Artikel

Bagian 4

Bussairi D. Nyak Diwa 

Ada kesan tersendiri saat kami -anak-anak kampung pedalaman- menjadi siswa satu-satunya SMP di ibukota kecamatan itu. Kami sering dibully oleh teman-teman yang berdomisili di kota. Mereka sering mengejek kami dengan kata-kata yang menyinggung perasaan, bahkan menyakitkan. Misalnya mereka sering mengatakan kami dengan sebutan ‘awak tunong’ alias ‘orang udik’. Atau kadang-kadang mereka menyebut kami dengan sebutan ‘anak pinggiran’. Tapi bagi kami itu semua tidak menjadi hambatan untuk tetap sabar dan rajin ke sekolah. Namun ada juga di antara kami yang merasa tak tahan diejek terus menerus, lalu melawan dengan kepalan tinju atau pukulan tangan. Hal ini sering terjadi di saat pulang sekolah. Salah seorang di antara kami menunggu anak yang sering mengejek itu di jalan dan menghadangnya dengan cara satu lawan satu. Dan setelah kejadian ini anak-anak ‘kota’ menjadi segan dan tak berani lagi membully kami. Mereka akhirnya segan dan takut juga karena sebagian dari kami berbadan kekar dan kuat-kuat.  

Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, kami selalu melaksanakan senam pagi, kurang lebih selama 15 menit. Biasanya senam pagi dimulai pukul 07.40. Usai senam pagi kami berbenah dan bersiap-siap masuk kelas untuk memulai pelajaran.

Meskipun kami harus bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat ke sekolah, kami jarang sekali datang terlambat ke sekolah. Kami selalu masuk bersamaan ke halaman sekolah untuk melaksanakan kewajiban senam pagi. Kenapa demikian? Karena kami berangkat ke sekolah selalu bersama-sama, kecuali jika ada yang berhalangan atau sakit. Jika ada yang berhalangan atau sakit, kami akan mengabarkannya kepada guru secara lisan,tanpa harus ada surat dari yang bersangkutan.

📚 Artikel Terkait

Noel dan Luka Demokrasi Kita

Jejak Roda dan Harapan

Kemunafikan dan Budaya Feodalisme dalam Karakter Masyarakat Indonesia

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Di samping kompleks SMP yang dikelilingi kawat berduri, di sebelah timur, ada sebuah gubuk yang didirikan di bawah pohon-pohon kelapa. Gubuknya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tempat kami beristirahat dan ganti pakaian. Gubuk itu milik seorang petani warga kampung kami. Di sanalah setiap hari kami berbenah, baik saat kami sampai maupun saat kami pulang sekolah. Biasanya di situ kami bertukar pakaian, dari pakiaan biasa ke pakaian seragam atau sebaliknya, dari pakaian seragam ke pakaian biasa.

Kami mempunyai guru-guru muda yang energik. Rata-rata mereka memang masih sangat muda dan beberapa tahun menyelesaikan D-1 (Diploma Satu), istilah waktu itu. Ada Pak Maisarah (Guru Olahraga), Pak Nasir (Guru Bahasa Indonesia), Pak Dewansyah (Guru Bahasa Inggris), Pak Tumberi (Guru Matematika), Pak Bakhtiar (Guru IPS), Pak Jamaluddin (Guru Bahasa Inggris), Bu Darsiah Darun (Guru Biologi), Bu Ratna Juita (Guru Fisika), Pak Fauzi (Guru Bahasa Inggris), dan lain-lain yang sebagian aku lupa namanya. Semua guru kami itu memiliki keistimewaannya masing-masing. Misalnya Pak Bakhtiar, seingatku setiap Beliau masuk mengajar selalu diawali dengan mendikte isi buku hingga berbab-bab banyaknya. Jarang sekali Beliau menjelaskan. Meskipun demikian kami tidak pernah protes. Apa yang diberikan guru seolah-olah butiran-butiran mutiara yang sangat berharga bagi kami. Salah satu yang sangat kurasakan manfaatnya hasil dari ‘dikte’ Pak Bakhtiar asal kota dingin Takengon itu adalah; pengakuan dari anak-anakku bahwa aku memiliki tulisan tangan yang ‘cantik’ hingga saat ini.

Banyak hal lucu, unik, menarik, menyedihkan, dan bahkan mendebarkan yang kami alami saat-saat kami berinteraksi di ruang-ruang kelas dengan guru-guru kami saat itu. Salah satu di antaranya adalah ‘kisah surat cinta’ yang kedapatan dalam tas siswa oleh Pak Jamal, guru Bahasa Inggris asal Meulaboh yang tampan, energik, dan romantis itu.

(Bersambung)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
NAFAR TSANI

NAFAR TSANI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00