Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital

Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital - 97C50460 ED8E 437F 83A5 AC16F8A3D6B6 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital

Oleh Tabrani Yunis

Baca Juga

Perubahan perilaku peserta didik di muka bumi di berbagai level, mulai dari PAUD hingga Universitas saat ini semakin kompleks di era digital ini. Ya, penghuni bumi  yang masih beragam yang merupakan gabungan dari generasi baby boomers, generasi X, generasi Y dan bahkan juga generasi Z serta A. Semua generasi ini  masih bisa dikatakan sebagai pemiliki era ini, walau sebenarnya  setiap zaman ada orangnya dan setiap orang, ada zamannya dan di era digital ini saat ini, namun generasi yang dominan menguasai zaman ini adalah kaum yang dikategorikan ke dalam kelompok generasi milenial. Generasi milenial alias generasi Y ini merupakan generasi yang  hidup dan diasuh dalam peradaban komputer, Internet dan bahkan kecerdasan artifisial. Generasi yang harus difahami bahwa mereka sudah tidak bisa dibedakan lagi batas bermain dan belajarnya. Generasi yang sangat mudah beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat, karena mereka bisa dengan cepat terhubung dengan media sosial, kapan saja, di mana saja, tanpa batas. Walau banyak yang menuding generasi ini sebagai generasi rusak-rusakan. Padahal, generasi milenial  yang hidup di bawah pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang serba digital tersebut bergerak sangat cepat dalam hal penguasaan teknologi informasi.

Gap  Yang Besar dan Menganga

Nah, cepatnya dinamika perubahan di segala bisang dalam peradaban era milenial ini, membuat para guru yang umumnya masih banyak dari kalangan non milenial, seperti generasi X atau baby boomers kelabakan. Kecepatan generasi milenial memahami dan menggunakan segala piranti teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat telah mengalahkan gerak langkah guru dari kalangan baby boomers yang kebanyakan masih gagap teknologi, sehingga dalam bidang ini, para guru tertinggal jauh dan berada di jurang yang dalam dan menganga. Ini menjadi tantangan berat bagi para guru kini dan esok. Sebab, guru bagi kaum milenial memang harus dengan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi internet atau teknologi digital ini. J.Sumadianta dan Wahyu Kris AW dalam bukunya “ Mendidik Generasi Z dan A, terbitan Grasindo, tahun 2018 mengingatkan kepada para pendidik bahwa “ Guru tidak boleh lagi membenamkam diri dalam belukar kertas administrasi yang sesungguhnya bukan solusi bagi dinamika murid atau siswa  zaman paperless. Pertanyaan kita, bila banyak guru dari kalangan baby boomers yang masih gaptek, bagaimana bisa mengajarkan atau melaksanakan pembelajaran tang kreatif, membangun kecerdasan emosional, kolaboratif, menyelesaikan maslah-masalah kompleks serta bersikap fleksibilitas kolektif kepada para murid atau siswa supaya mampu beradaptasi dengan peradaban milenial? Sebagaimana ditulis oleh J. Sumardianta dan Wahyu Kris AW, kelima ketrampilan itulah yang mesti diajarkan guru-guru kepada murid atau para siswa agar bisa menyesuaikan dengan peradaban milenial yang identik dengan kecerdasan buatan, karena lokasi pengetahuan abad 21 telah bergeser dari guru ke Internet.

Nah, begitu besar dan beratnya tantangan bagi guru dalam mendidik kaum milenial saat ini. Bukan hanya itu, tantangan bagi guru di era ini bukan saja terkait dengan kemampuan menguasai teknologi informasi dan komunikasi yang serba digital, namun yang paling berat adalah perubahan perilaku generasi milenial yang dengan cepat juga berubah 180 derajat. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku, watak, karakter atau sifat ikut mengalami disrupsi sepertilnya di sektor-sektor kehidupan lainnya. Perubahan perilaku dan gaya hidup yang membuat guru kalangan baby boomers bisa kalangkabut dan bahkan stress.

Yuswohadi dan kawan-kawan dalam bukunya Milenials Kill Everything, terbitan Gramedia 2019 dalam prolognya menyebutkan bahwa milenial adalah pembunuh berdarah dingin. Mereka membunuh apa pun. Mengapa milenial dikatakan menjadi generasi paling brutal dalam sejarah umat manusia? Katanya, karena otak mereka yang begitu intens terekspos teknologi dan media digital menjadikan perilaku dan preperensi mereka berubah secara ekstrim dan sama sekali berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Nah, dalam kondisi yang demikian, guru-guru yang mengajar dan mendidik generasi milenial, generasi Z dan A, harus dengan cepat belajar, belajar dan belajar beradaptasi dengan peradaban milenial yang terus berubah begitu pesat. Yang jelas tidak boleh diam dan menonton perubahan tersebut, apalagi bersikap apatis, para guru akan terus tergilas dan menjadi korban perubahan peradaban. Di sinilah esensi Guru pembelajar. Ya, guru harus menjadi sebagai sosok pembelajar dan menempatkan diri pada posisi sebagai pembelajar dari pengalaman mengajar generasi milenial dengan menguasai ke lima ketrampilan yang disebutkan di atas. Bila tidak, para guru akan menjadi pecundang atau pihak yang kalah dari mereka yang diajar dan dididik. Oleh sebab itu, jangan tunda dan malas belajar. Harus segera belajar dan beradaptasi, sehingga bisa mengbangi, kalau tidak mampu berada pada posisi yang lebih depan, atau terdepan. Bila guru mau terus belajar dan menjadi pembelajar, Insya Allah akan mampu beradaptasi dengan sistem pembelajaran dan peradaban kaum milenial.

ADVERTISEMENT
Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan tidak selalu mewakili redaksi.
Penulis

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Diskusi

Naskah Terbaru

IMG_0596
Jendela Istana Hamatisa
IMG_0588
PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a
Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran
560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5
Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu
Dari “Jangan Lupa Mati” ke Hidup Bernilai: Transformasi Dakwah Berkeadilan - IMG_0442 | Artikel | Potret Online
Dari “Jangan Lupa Mati” ke Hidup Bernilai: Transformasi Dakwah Berkeadilan

Popular Post

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 2025 06 18 08 06 29 | #Arsip | Potret Online
1. Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Mengelabui Kata Mulia Untuk Senantiasa Istiqamah - IMG_7093 | # Gaji Guru | Potret Online
2. Mengelabui Kata Mulia Untuk Senantiasa Istiqamah
Kabar Redaksi - IMG 20250130 WA0010 | Haba Mangat | Potret Online
3. Kabar Redaksi
Menanti Buah Hati di Negeri Orang - 2025 08 15 11 28 31 | Artikel | Potret Online
4. Menanti Buah Hati di Negeri Orang
Mengintegrasikan Pendidikan Kebangsaan Indonesia dalam Pelatihan Beauty Queen yang Berbudaya dan Berkepribadian Indonesia - 1000893856_11zon | Artikel | Potret Online
5. Mengintegrasikan Pendidikan Kebangsaan Indonesia dalam Pelatihan Beauty Queen yang Berbudaya dan Berkepribadian Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.