• Latest

ENGKAU TAK PERNAH MEMBENCI

Desember 26, 2021
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

ENGKAU TAK PERNAH MEMBENCI

Redaksiby Redaksi
Januari 21, 2022
Reading Time: 12 mins read
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 


Nurdin F.Joes:

** 

Tuhanku kekasih

Engkau tak pernah membenci

kecuali menguji

sejauh mana kami bersabar

sejauh mana kami merela 

Dengan gempa bumi

26 Desember 2004 itu

dengan skala 8,9 Skala Richter

pada pukul 07.58 lebih 38 detik

pada episentrum 2,19 lintang utara

— 95,6 bujur timur

dengan kedalaman 20 km di laut

dan menjatuhkan ribuan rumah kami

itu pun bukan kebencian dari-Mu

itu adalah ujian

sejauh apa kami bersabar

sejauh apa kami dapat merela 

Dengan tsunami 15 menit kemudian

mematikan ratusan ribu korban

menghanyutkan ribuan rumah rakyat

menjatuhkan satu ton airmata

itu pun bukan benci dari-Mu

itu adalah ujian

sejauh apa kami bersabar

sejauh apa kami dapat merela 

Tuhanku penyayang

gempa telah Kau kirimkan

tsunami telah Kau kirimkan

karena kami sengaja meminta

karena kami sengaja merela

ADVERTISEMENT

Di luar rumah-Mu ujian ini kami minta

dari kantor-kantor pemerintah kami minta

dari tangis anak yatim itu kami minta

dari tangisan para janda kami minta

dari dayah-dayah tempat mengaji kami minta

makanya kami telah merela

makanya kami telah bersabar 

Sekarang masih saja kami minta

melalui rumah-rumah pengungsi

melalui tangan-tangan penyalur bantuan

melalui kisah-kasih cinta antarremaja

melalui kisah-kasih antarsuami dengan isteri lelaki lain

antar isteri dengan para suami perempuan lain

kami terus meminta

dan kami terus meminta 

Setiap hari kami terus saja meminta

melalui keluh-kesah bila gempa susulan tiba

bukan malah berzikir

melalui tangis meraung bila gempa susulan tiba

bukan malah beristighrfar

melalui huru-hara bila gempa susulan tiba

bukan malah menyebut-nyebut nama-Mu 

Engkau tak pernah membenci

hanya menegur

terkadang terlalu keras menegur

seperti melalui gempa dan tsunami

sehingga harta benda kami menjadi debu

anak-anak kami menjadi yatim

menjadi piatu

suami isteri kami kehilangan pasangannya

itu sebentuk cara-Mu menguji

sejauh apa kami bersabar

sekuat apa kami merela 

Sepertinya kami masih kuat bersabar

dan masih kuat pula merela

karena entah masih ulamakah

ulama kami

entah masih umarakah

umara kami

masih aparat negarakah

aparat negara kami

masih bernama manusiakah

rakyat kami

jangan-jangan mereka adalah pemain sandiwara

yang pandai bercakap di mimbar

yang hanya  berbicara di suratkabar

menjual ayat-ayat-Mu

menjual undang-undang negara

kalau bukan begitu

pasti Engkau tidak menguji

pasti Engkau tidak menegur

uji dan tegur-Mu adalah sesuatu yang diminta 

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026

Tuhan yang pemaaf

kami masih dapat bersabar

kami telah dapat merela

kami masih meminta uji tegur-Mu 

Banda Aceh, 19 Februari 2005

*NURDIN F.JOES*, penyair pemenang berbagai lomba cipta puisi. Satu di antaranya, dengan puisi berjudul Menangislah untuk Anak Anak Negeri (Weep for the Chindren of the Land) memenangkan Lomba Cipta Puisi Untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence), dilaksanakan Kantor Penerangan PBB (UNIC), 1987.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

17 Belas Tahun Lalu Aceh Berduka

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com