POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ranah (Pendidikan) Kebudayaan di Kemdikbud

RedaksiOleh Redaksi
November 6, 2021
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Ahmad Rizali 

Berdomisili di Depok,Jawa Barat

Mendikbud itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya, selain urusi Pendidikan juga urusi Kebudayaan. Beberapa tetua, bahkan menyatakan bahwa Pendidikan itu sub dari Kebudayaan. Jadi sudah tepat diurusi dalam satu kementrian, meski masih juga ada yang protes mengapa bukan disebut Menbuddik. Tidak asik nampaknya kata akronim Menteri Kebudayaan dan Pendidikan, Ministry of Culture and Education.

Ada ujar ujar menarik “tanpa kebudayaan, maka anda tak punya identitas” dan saya sepenuhnya setuju dengannya. Oleh karena itu, Nawacita presiden Jokowi di periode pertama sangat kental nuansa kebudayaannya dan seingat saya 4 dari 9 butir nawacita terkait Kebudayaan, dan Pendidikan hanya sebutir. Apakah lantas kebijakan anggaran juga seperti itu? Entahlah, dengan sedih hati saya katakan tidak. Ditjen yang dipimpin oleh Hilmar Farid sangat kesulitan mengembangkan diri karena ketatnya anggaran.

Pendidikan juga memiliki Pusat Pembinaan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya (P4TK Seni Budaya) yang megah di utara kota Jogjakarta. Di masa jayanya, P4TK ini pernah menjadi “trend setter” produk seni, budaya dan kriya yang dijajakan di Mailoboro dan sekitarnya. Saya tak heran karena P4TK ini memiliki belasan studio belajar dari kulit, kayu, logam, wayang, tari dan lain sebagainya,namun karena persoalan “peruntukan” yang ketat untuk Guru, maka mereka membiarkan fasilitas dan WI dahsyatnya menganggur karena takut “dikabluk” kejaksaan atau diomeli Irjen yang memang pernah mengomel “anda digaji untuk diam kan enak….” ketika  staf P4TK mengajukan usulan mendayagunakan untuk selain guru.

📚 Artikel Terkait

EAA dan Prodi Bahasa Inggris Gelar Coaching Clinic Menulis Essay Beasiswa AAS

HABA Si PATok

Menjembatani Dunia: Refleksi Mahasiswa Program International Outbound Mobility

Pulang ke Kampung Nenek

Cobalah tengok pelajaran seni dan budaya di jenjang SD/MI, sangat miris. Karena umumnya guru seni dan budaya plus kriya adalah guru yang “hanya” hobi dalam bidang itu sehingga matpel yang diajarkan di jenjang SMP ke atas sangat kering. Apalagi jenjang SD/MI. Seterampil apakah guru-guru SD/MI dalam seni/budaya dan kriya?  Sejauh mana mereka diajari materi ini saat “preservice” di PGSD? Saya yakin karena lemahnya keterampilan seni budaya dan kriya (dan ketiadaan anggaran), maka matpel ini diajarkan di jenjang dasar ala kadarnya sambil lalu, lantas kita berharap anak-anak SD/MI kita lulus dan punya apresiasi yang baik terhadap seni budaya? 

Bukankah A dalam metode yang digembar gemborkan terbaru STEAM adalah “Art” alias seni ? Bagaimana mungkin metode STEAM dipakai sementara yang memakai apresiasi saja terhadap A tidak dimiliki ? Cobalah tengok SKL dan SI matpel senibudaya dan kriya untuk murid SD/MI dan tengoklah ulangan dan ujiannya, sungguh mengkhawatirkan. 

Sementara saya khawatir terhadap ketrampilan apresiasi seni/budaya dan kriya guru SD/MI, nun dekat di Bandung berkembang komunitas “Hong” yang tak gaduh, namun membagi keasyikan “berkesenian sambil bergerak”. Belum lagi yang dilakukan empu dongeng I Made Taro, memadukan gerak/tari, musik sederhana, kisah kearifan lokal dan permainan dan ujungnya adalah apresiasi kesenian dasar. Entah mengapa kegiatan sejenis keduanya tak menjadi arus besar pembelajaran apresiasi seni budaya untuk memberi dasar “A” dalam STEAM.

Saya sering irihati ketika istri saya berkisah hebatnya guru seninya saat dia bersekolah di jenjang SD di Soroako, Tahun 1970an. Jelas saja Pabrik Nikel itu mampu membayar guru yang ternyata konon alumni FSRD ITB “semua barang bekas yang dia pegang menjadi artistik…” ujar istriku, matanya berbinar binar. Tak usahkah guru SD sedahsyat alumni FSRD atau ISI atau ISBI dan sejenisnya. Cukuplah LPTK yang mempunyai PGSD memberi matpel apresiasi seni dan memberi contoh-contoh kongkrit bagaimana murid murid SD/MI mengapresiasi (belum mencintai) Seni dan Budaya. 

Ketika calon guru tersebut sudah aktif di SD/MI, sudah selayaknya, mereka harus dilatih agar terampil mengajar matpel seni budaya dan kriya, janganlah hanya karena “jam pelajarannya” kecil dan mereka tak faham, lantas hanya diajari meniup suling rekorder dengan lagu “ibu kita Kartini”. Setiap mendengar murid meniup alat itu, saya sudah dalam perasaan geli, karena pelajaran menggambarpun masih tak banyak yang berubah dari “dua gunung dengan matahari di tengah-tengahnya, jalan menuju gunung dan ada persawahan”.

Saya mengajak kawan kawan pencinta seni dan budaya untuk membuat sebuah Gerakan Nasional Apresiasi Seni Budaya Nusantara yang mengawal dan menjadi mitra guru SD/MI dalam mengajarkan apresiasi seni budaya dan kriya kepada murid/siswanya, sehingga memiliki fondasi “Art” yang kokoh menyongsong metode STEAM yang konon menjadi sejenis “obat kuat dewa” agar kita mampu menjalani abad ke 21 (karena kita enggan menggali ajaran KHD dan dikontekskan ke masa kini).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Nilai dan Peran Guru Penggerak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00