• Latest

Profesor

Juni 10, 2021
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Profesor - 1001348646_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Profesor - 1001353319_11zon | Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Profesor - 1001361361_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Profesor

Redaksi by Redaksi
Juni 10, 2021
in Essay, Gelar, POTRET Budaya
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Ahmad Rizali

Baca Juga
  • Sastra Madani Merintis Jalan Kedamaian dan Mendunia
  • Bendera Putih Ini

Berdomisili di Depok

Baca Juga
  • Kulukis Wajahmu di Angan
  • Belum Mampu Memandangmu

Jagat maya akademik sedang gaduh karena ibu Megawati memperoleh gelar Guru Besar Tidak Tetap Honoris Causa dari Universitas Hankam. 

Baca Juga
  • Puisi-Puisi Yanimar W Yusuf
  • Pemancing Ikan: Optimisme, Kesabaran dan Iman

Beberapa sahabat saya sering jengah bahkan ada yang berang, karena kadangkala saat diundang bicara dalam sebuah perhelatan akademis, ditulislah di depan namanya gelar Prof. Dr.  Setiap saat pula beliau menjelaskan bahwa dirinya hanya S1. 

Satu lagi sahabat saya yang bernasib sama dengan yang di atas. Kalau yang ini memang dasar “rodok kusruh” malah dipakai guyon. Prof diplesetkan menjadi Prov alias Provokator, karena memang senangnya memprovokasi orang dengan tulisan-tulisannya , terutama dalam diskusi cara beragama dan literasi. 

Sayapun mirip dengan mereka berdua. Namun karena saya di ijazah boleh memakai gelar Insinyur, tidak bisa seperti mereka yang boleh memakai Drs, yang juga kadang diplesetkan kembali menjadi gelar doktor lebih dari 1. Saya pikir mereka yang pernah memperoleh gelar Doktor sampai 5, meski Honoris Causa (HC) mesti menunjukkan dengan gelar Drs. (H.C.) seperti sohib saya itu, karena kan tidak mungkin, jika ditulis kelimanya di sekitar nama kita. Karena paling banyak juga 2, depan Dr. (H.C.) dan belakang Ph.D. (H.C.).

Saya termasuk kelompok yang setuju membebaskan semua gelar akademik ini, meski karena ada pemerintah yang mesti mengaturnya. Dengan dibebaskan, maka jelas akan terjadi inflasi gelar, ketika inflasi maka manusia akan melihat kompetensi nyata yang dimiliki tanpa melihat berapa renceng gelar akademik mereka miliki. Sekalipun demikian, hak memakainya masih tetap sah, karena jangan sampai juga salah treatment ketika menjadi tamu di sebuah perhelatan akbar dan dianggap gelandangan penyusup.

Jadi, tanpa gelar atau gelar sepanjang luas kartu nama, buat saya biasa saja, karena sudah terbiasa tidak sadar seperti bunglon. Ketika sedang bekerja di Perguruan Tinggi dan berjalan bersama para Profesor, maka dipanggil “Prof….”. Ketika menjadi pembicara dengan para Doktor, maka di “tagname” muncul “Dr.” dan saat sedang gayeng gayengnya bermain di pondok dengan pengasuhnya, saya dipanggil Kyai sedikitnya Gus dan ketika runtang runtung di sekolah dipanggil “Ustad” alias pak Guru. Anggap saja sebagai sebuah penghormatan dari si pemanggil dan yang penting jangan bablas menjadi Gila Hormat.

Jadi, ketika melihat ada sahabat dan orang yang mencantumkan gelarnya lengkap ketika diminta memberi sambutan, saya sering kasihan kepada pembawa acara. Karena penyebutan gelar yang panjang itu juga berisiko salah sebut dan fatal. Bisa saja karena terpeleset lidah maka H.C. diucapkan dengan Humoris Causa, gawat kan ?

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Mustiar Ar, Puisi Mengalir Dalam Jiwa dan Hidupnya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com