POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEBAIKNYA ANDA TAHU PENGGUNAAN TANDA DIAKRITIK DALAM BAHASA ATJÈH

RedaksiOleh Redaksi
May 25, 2021
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Drs. Hasbi Yusuf
Pemerhati Pendidikan yang Pensiunan Guru, Berdomisili di Banda Aceh
Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang agak rumit dalam pengucapan dan penulisannya, dikarenakan kebanyakan fonem dari suku kata terbentuk dari tIga huruf atau lebih. Namun demikian, bahasa Atjèh merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan katanya. Selain kata asli bahasa Atjèh memang cukup lumayan banyaknya, diperkaya lagi oleh kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu yang telah teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. 
Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari lima negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri. Konon nama “ATJÈH” sangat jelas terlihat dan sangat kental dengan bukti keberadaan, atau eksistensi bangsa Atjèh sendiri dan diperkuat juga dengan profil, postur, wajah dan warna kulit bangsa Aceh memang secara garis besar mirip bangsa-bangsa yang kita sebutkan berikut ini. 
Konon nama ” ATJÈH ” berasal dari singkatan gabungan :
A = Arab; TJ = Tjina; 
È = Èropa, H = Hindia. 
Dari empat suku bangsa di atas, Arab dan India kelihatan lebih dominan, baik dari postur tubuh, warna kulit maupun jumlah kata atau logat yang eksis dalam masyarakat. 
Oleh karena itu untuk mempersatukan logat, perbendaharaan kata, budaya, dan psikologi masyarakat, maka diperlukan sebuah bahasa yang mampu mengikat unsur-unsur bawaan masing-masing, sehingga dapat harmonis dan sinergi serta diterima oleh semua mereka yang mendiami bumi Atjèh sejak lama. Dengan demikian bahasa yang mampu mempersatukan semua unsur di atas, perlu penekanan, penjelasan, penyesuaian dan harmonisasi, sehingga agak berbeda dengan bahasa-bahasa daerah lain di nusantara.
Itulah sebabnya maka seorang orientalis Belanda Snouck Hurgronje ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk mempelajari melalui pendekatan agama dan kebudayaan guna mengalahkan bangsa Atjèh yang tak mampu dikalahkan melalui pertempuran dengan senjata, agar tunduk kepada pemerintah Belanda. 
Melalui pendekatan keagamaan dan bahasa Atjèh agar mudah dan dapat menulis dan berkomunikasi dengan benar serta untuk memperjelas bunyi bacaan kata dalam bahasa Atjèh diterapkan tanda ” diakritik “,  sehingga penulisan dan pengucapan bahasa Aceh menjadi seragam dan tidak menimbulkan salah tafsir. 
Pada awalnya penerapan tanda diakritik dalam bahasa Atjèh dilakukan oleh Snouck Hurgronje, untuk kepentingan politik pecah-belah yang dimainkan pihak Belanda (Devide et impera). Namun apa yang telah dirumuskan oleh Snouck Hourgronjo, ternyata dapat berguna bagi masyarakat Atjèh dalam memudahkan mempelajari dan menggiatkan penggunaan Bahasa Atjèh. 
Dengan penerapan tanda diakritik dapat mempermudah bagi Snouck Hurgronje berkomunikasi dengan rakyat Atjèh dengan sangat fasih, sehingga membuat masyarakat dengan mudah bergaul dan sekaligus menjadi lebih akrab secara psikologis, karena kesamaan dialeg bahasa.
Sejumlah tanda diakritik yang dipakai dalam memperjelas dan mempertegas penulisan dan pengucapan kata dalam bahasa Atjèh adalah sebagai berikut:
1. aigu /é/, 
2. grave /è/, 
3. Diaeresis /ë/
4. makron /ô/,
5. trema /ö/, dan
6. apostrof / ’/.
Contoh :
1. Aigu /é/
– ék = naik
– kéh = kantong
– padé = padi.
2. Grave /è/
– èk = kotoran 
– kèh = korek api
– lalè = lalai.
3. Diaeresis /ë/
Tanda diaeresis agak 
jarang dipakai secara 
umum dalam 
penulisan kata bahasa 
Aceh, lebih sering 
dipakai hanya di 
kabupaten Pidië.
– ië = air,
– biëng = (kepiting),
– sië=daging, sembelih.
4. Makron /ô/
– ôn = daun
– lhôh = sorot
– peurahô = perahu.
5. Trema /ö/
– öt = mengecil
– lhöh = bongkar
– seungkö = ikan lele.
6. Apostrof / ‘/
– ‘ap = makan
– h’iem = teka-teki
– ch’o = sengau.
Sangat mudah dan simpel bukan? Jadi, agar komunikasi menggunakan bahasa Atjèh dalam masyarakat kita dapat berlangsung dengan jelas dan tegas, jangan salah interpretadi maka bahasa itu mesti memiliki tata bahasa dan aturan yang baku. jika bahasa tersebut digunakan dalam komunikasi antara dua orang, dimana pesan yang disampaikan oleh seseorang telah mampu diterima oleh orang lain sebagai mitra komunikasi secara jelas dan benar sesuai yang diinginkan oleh penyampai pesan, baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan. 
Jadi, pesan yang disampaikan oleh seseorang harus mampu diterima oleh mitra komunikasi, baik bagi sesama orang dalam bangsa Atjèh, antara bangsa Atjèh dengan non Atjèh, maupun sesama orang di luar bangsa Atjèh. 
Seterusnya, agar eksistensi bahasa Atjèh di dalam masyarakat dapat terus dipertahankan penggunaannya, maka mari mulai sekarang kita sama-sama lebih sering menggunakan bahasa Atjèh dalam setiap kesempatan yang ada. 
Sedangkan untuk menjaga dan memberi rambu-rambu yang jelas dan tegas dalam penulisan dan pengucapan yang benar sesuai maksud, dan agar jangan menimbulkan pergeseran arti dan makna sebuah kata antara orang yang penyampai pesan dengan penerima pesan, maka perlu di terapkan rambu-rambu yang jelas dan tegas sesuai konteks dan maksud sebuah pesan. Aturan dan rambu-rambu yang kami maksudkan di sini adalah konsisten dalam menerapkan aturan penggunaan tanda diakritik tulis-baca dalam bahasa Atjèh.
Dari mana asal-usul penggunaan tanda diakritik dan sejak kapan diterapkan ? Menurut catatan sejarah, tanda diakritik pertama sekali digunakan dalam penulisan bahasa Atjèh oleh Snouck Hurgronje (orientalis Belanda) ketika menuliskan kata-kata dalam bahasa Atjèh. Atas dasar itu, ejaan bahasa Atjèh yang menggunakan aksen-aksen seperti yang telah disebutkan di atas selanjutnya disebut ejaan Snouck. Hingga hari ini ejaan ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat Aceh ketika menulis dalam bahasa Aceh, lebih-lebih para akademisi. 
Yang menggembiran hati kita adalah saat ini sudah banyak kamus bahasa Atjèh yang menerapkan tanda diakritik dalam penulisan kata. Tanda diakritik dalam bahasa Aceh merupakan peninggalan Belanda (Snouck Hurgronje) namun sangat membantu penulisan dan pelafalan fonem dan kata dalam bahasa Atjèh, baik bagi generasi penerus Aceh, lebih-lebih untuk orang di luar suku Atjèh.
Wallahu’a’alam bish-shawab !

📚 Artikel Terkait

Pancasila itu Ada, Tapi Mati di Tangan Penguasa

Arti Seorang Teman

Makna Kata “Uffin” Dalam Al-Quran

‎HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Ketuk Tularkan Inspirasi dan Pancang Pilar Tekad Jadikan PT BALAD GRUP Sebagai Perusahaan Budidaya Periksa Dunia

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

BATU CINCIN BERKHASIAT

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00