• Latest

Catatan Akhir Ramadan

Mei 11, 2021
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Catatan Akhir Ramadan

Redaksiby Redaksi
Mei 11, 2021
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026

Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok

Tahun ini ramadan sama sepinya dengan tahun kemarin, tak cukup beriman untuk berani i’tikaf di masjid Istiqlal sembari ikut salat malam dengan mutu suara Imam setara Syech Sudais di Makkah. Berbuka dengan ratusan jamaah di lantai dasar masjid juga mengasyikan. Istiqlal di kala Ramadan, bak masjid antar bangsa, kulit sawo matang, kuning, putih, dan hitam kelam terlihat di sana. Sahur di warung tenda di halaman masjid juga mendekatkan hati kita dengan jelata.
Ramadan Tahun ini seakan mengulang sejarah alm. Abah yang memulai lagi “back to basic” di usia early 60th kembali memulai pekerjaan baru di Jeddah dan saya memulai pekerjaan mengurusi sekolah yang mikro sesudah melanglang ke pekerjaan makro. Seperti sebuah tugas khusus dan mengingatkanku “apalah artinya makro, tanpa faham esensi mikro” dan mengingatkan “the devil is in the detail”. 
Sepinya tahun ini meski lebih sibuk dari tahun lalu membuatku diberiNya kesempatan menuntaskan resital kitab suci sebelum usai bulan, entah mengapa lidahku terasa semakin lancar dalam membaca. Padahal ya cuma setahun sekali. Tahun ini juga tak pernah telat dibangunkan sejam sebelum saat subuh dan lumayan hening untuk kontemplasi.
Ramadan Tahun ini juga beruntung dibayari ziarah ke Ponpes Tebu Ireng, Tambak Beras dan Denanyar Jombang, menemani bu Nyai Lily Wahid Full, Gus PU dan Guk HB Heru Arifin. Menginap di kasepuhan di kamar tempat khalwat Mbah KH. Hasyim Asyarie dan diskusi gayeng dengan Gus Kikin pengasuh pondok dan tentu makan sahur dan berbukan penganan yang sederhana namun lezat.Tak lama kemudian, di Jakarta, bukber dengan menu “bintang sembilan” ala Waka MPR mas Arsul Sani di Kompleks Perumahan Pejabat Tinggi yang tak beliau tempati.
Ramadan ini pula ikut memfasilitasi berbagai miskomunikasi di antara manusia dengan persepsi masing masing. Dan, menyaksikan beberapa kematian tokoh, sekaratnya KPK, dipercayanya kembali Nadiem dan Bahlil menjadi Menteri oleh Jokowi dan ditangkapnya Bupati terpuji hebat oleh KPK serta terpelesetnya Presiden membaca narasi tentang makanan yang sensitif di kala Ramadan, karena salah tulis. Bulan Ramadan yang agak muram dan lebih banyak kabar buruk dari pada kabar baik.
Ketika menulis tulisan ini, pemerintah yang tak ingin pandemi membesar lagi melarang rakyatnya mudik dan rakyat dengan semangat kucing – kucingan dengan aparat memaksa tetap mudik. Rakyat dan wakilnya bertanya “WNA diperbolehkan masuk negeri, mengapa kami dilarang pulkam ? Mal dan tempat Wisata Lokal akan dibuka, mengapa yang mudik saja disebut akan menimbulkan ledakan pandemi? macam macam. 
Saya sendiri, hanya Jumaat pergi ke masjid dan masih berfikir apakah akan salat Ied di luar atau ngopi saja di rumah sembari takbiran dan menyimak khutbah melalui radio. Praktek beragama memang penuh emosi dan karena di situ ada dogma, maka nalar sehat sering terpaksa minggir dan menjadi marjinal seperti pedagang ATK di depan sekolah yang sudah mempraktikan BOS daring dan Ojek pangkalan yang dilibas Ojol.
Semoga 1 Syawal lusa, menjadi awal hari hari yg lebih baik dan semakin baik.
Ramadan ke 29

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

KPK, Riwayatmu Kini

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com