• Latest

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

April 22, 2021
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

Redaksiby Redaksi
April 22, 2021
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook



Oleh Iva Hashanah

Berdomisi di Sidoarjo, Jawa Timur

Baca Juga

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 30, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 17, 2026
Aku selalu bingung ketika ingin memanggil Kartini tiap tahunnya, tetap Ibu, Raden Ajeng, Kakak, Nenek, atau siapa? Tapi aku ingat ketika Pramudya Ananta Toer menulis buku “Panggil Saja Aku Kartini,”. Mungkin ini panggilan sayang yang membahagiakan Kartini, karena ia ingin dianggap setara. Kartini dan Pendidikan, mungkin ini tidak asing bagi kita semua, tetapi jika Kartini dan Pendidikan Kritis Adil Gender mungkin banyak yang mengerenyitkan dahinya. Mungkin ekspresi ini tanda sedang berpikir karena tidak tahu atau jarang diulas.
Aku tertarik dengan deretan kata yang ada dalam surat-surat Kartini seperti kalimat ini, “Seorang guru bukan hanya sebagai pengasah pikiran saja, melainkan juga pendidik budi pekerti, tetapi apalah artinya pandai dalam ilmu yang hendak diajarkan itu, apabila ia tidak dapat menerangkannya secara jelas kepada murid-murid.”
Jika dia masih hidup, tentu ada banyak kesempatan bertanya bahkan mendebatnya. Syukurnya kita masih diwarisi kecerdasannya melalui tulisannya. Bakatnya menulis sungguh membantu perjuangan kita saat ini. Jadi dapatlah aku benang merahnya. Jika punya ilmu banyak, cobalah menuangkan dalam tulisan, kira-kira begitu menurutku.
Perempuan ini, memberikan makna pendidikan yang amat luas dan dalam. Luas karena tidak hanya mengusik pendidikan sebagai sebuah sistem yang menghadirkan kepragmatisan dan target kelulusan saja.
Pemikiran Kartini yang mendalam justru menyampaikan pesan atas filosofi pendidikan yang maha dasyat. Pendidikan yang melintas batas. Pendidikan baginya adalah sebuah pembebasan dari sebuah tirani. Tirani yang tercipta karena kelas sosial ekonomi, “Antara aku bangsawan dan kau adalah rakyat jelata.”

Mengajari tentang apa itu politik identitas berwajah Suku dan Ras, “Karena aku orang Jawa pribumi dan kau orang kulit putih yang bisa semaunya menindas.”. Sebuah pemberontakan yang terkurung dalam tembok kokoh, “Hanya karena aku perempuan dan kau begitu bebas karena menjadi laki-laki.”

Pendidikan bagi Kartini menjadi sebuah media untuk meregenarasi budi pekerti. Oh ternyata budi pekerti, empati itu tidak hadir begitu saja seperti kodrat, tapi sebuah proses yang harus diupayakan dan dirawat terus menerus. “Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi,” begitu kutipan dari suratnya yang penuh kritik yang dalam.

Kartini buat aku adalah sosok feminis lintas aliran, sebagai perempuan yang dilahirkan tepat di tanah airnya yang terjajah. Di usia yang belia dia hadirkan sekolah perempuan yang memecahkan dinding-dinding kaca bentukan budaya Patriarki.

Makanya dia lantang mengatakan, “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”

Kartini memberikan banyak pelajaran tentang Pendidikan kritis adil gender, yang saat ini sangat dibutuhkan kehadirannya. Bagi para perempuan yang masih terbatasi karena kondisi geografisnya, mereka yang masih berdiam di lereng gunung, pulau-pulau, pemukiman kumuh, dan di manapun tempatnya. Bagi mereka yang masih berjibaku dengan sistem yang tak berpiihak serta budaya Patriarki yang masih harus dipanuti, serta ajaran agama yang sering kali menakut-nakuti perempuan dengan nerakanya.

Tapi ada kabar baik untuk Kartini. Saat ini ada banyak sekolah perempuan seperti yang dia pikirkan dan idam-idamkan, telah lahir dan sedang bertumbuh dari ujung Barat dan Timur Indonesia. Saat ini mereka sudah pintar mendobrak tirani yang dulu pernah dirasakan Kartini.

Masa pandemi ini memberikan situasi yang istimewa bagiku, untuk bisa merasakan betapa tidak enaknya dan terbatasinya ragawi ini. Betapa kalutnya hati tidak dapat bercengkerama dengan kawan satu ideologi dan bergaul dengan para kolega.

Tapi aku masih beruntung masih ada dunia lain yang bisa diarungi dan dijelajah, meski itu hanya perjumpaan sebatas ukuran pas photo KTP. Tentu ini tak seberapa pedih jika dibanding penderitaannya saat itu.

Terima kasih Kartini. Mungkin raganya sudah tak bersama kita, namun jejak-jejak pikirannya yang cerdas seakan tak habis untuk jadikan amunisi melawan ketidakadilan gender yang masih tumbuh di abad ini.

Ditulis beberapa menit setelah berhasil mendapatkan suntikan vaksin C-19, Kamis, 22 April 2021, Sidoarjo pada pukul 13.15 WIB

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

KULINER TRADISIONAL KHAS ACEH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com