🔊
Dengarkan Artikel
Banda Aceh – Belakangan angka kemiskinan meningkat. Secara nasional, Badan Pusat Statistik merilis angka kemiskinan di Indonesia naik hampir satu persen pada September 2020 jika dibandingkan dengan September 2019, yaitu mencapai 2,76 juta orang atau 10,19 persen.
Demikian juga dengan kemiskinan pada tataran global. Di Asia Pasifik contohnya, Bank Dunia menyebut ada 32 juta orang miskin di kawasan Asia Timur-Pasifik yang gagal keluar dari jurang kemiskinan pada tahun 2020 lalu. Sebab tertekan krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak pandemi virus corona atau covid-19.
Ketua Dewan Pembina Global Wakaf-ACT Ahyudin menjelaskan, perlu instrumen khusus dalam menyelesaikan kemiskinan ini. “Kami berkeyakinan bahwa bencana kemiskinan lebih dahsyat dari bencana alam, lebih dari sekadar bencana kemanusiaan. Butuh instrumen dan solusi yang bukan sekadar sedekah atau infak biasa. Lagi-lagi, Allah SWT memberitahu kepada kita bahwa instrumen langit, instrumen rabbaniyah, untuk bisa mengatasi bencana kemiskinan itu adalah wakaf,” jelas Ahyudin dalam Waqf Economic Forum dengan tema Kebermanfaatan Tanpa Batas di Banda Aceh pada Kamis (1/4/2021).
Membebaskan kemiskinan umat menurut Ahyudin harus dimulai dengan menguasai ekonomi. Untuk menguasai ekonomi, perlu memiliki korporasi dan memiliki modal. Modal inilah yang berasal dari wakaf.
Namun Ahyudin mengungkapkan, bahwa selama ini kemanfaatan wakaf hanya sering dibahas dari segi fikih belaka. “Ibadah itu mestinya kontekstual. Kalau keadaan hari ini umat yang tidak berdaya dengan kemsikinan, maka ibadah terbaik kita adalah menyelesaikan kemiskinan umat,” jelas Ahyudin.
Padahal, menurut Ahyudin, pengelolaan wakaf dapat dijadikan aset produktif yang kebermanfaatannya tanpa batas. Sebab itu, Global Wakaf-ACT saat ini terus menggagas berbagai program wakaf seperti, Wakaf Sawah Produktif, Wakaf Ternak Produktif, Wakaf Pangan Produktif, Wakaf Air Produktif, serta Wakaf Modal Produktif.
Pelayanan kepada umat melalui wakaf ini diharapkan meningkat ke depan. Salah satu pembicara yakni Prof. Dr. Nazaruddin A. Wahid selaku Ketua Badan Baitul Mal Aceh mencontohkan urgensi peningkatan yang dimaksud dengan kondisi wakaf di kota Serambi Mekah tersebut. “Hampir semua daerah, desa, kampung, di Aceh ini memiliki tanah wakaf, sumber dan aset wakaf. Namun, profesionalisme dalam pengelolaan tanah wakaf itu masih perlu peningkatan,” ujarnya.
Di samping itu, pemahaman masyarakat terhadap wakaf juga mesti diperdalam. Sebab itu, Profesor Nazaruddin berharap, kerja sama dengan Global Wakaf-ACT dan wakif di Aceh dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebermanfaatan wakaf.
Di akhir Waqf Economic Forum, Global Wakaf ACT menggelar konser amal dan mengajak hadirin berpartisipasi dalam agenda besar kemanusiaan dengan format Wakaf Produktif untuk Aceh. Dari penggalangan dana wakaf tersebut, setidaknya ada Rp 2 milyar lebih dana wakaf yang terkumpul dan akan dialokasikan di wilayah Aceh dan global.[]
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.




