Oleh Lina Zulaini
Bukan hanya raga.
Tapi hatiku mulai dipesiang masa.
Namun, aku masih tersungkur di bangku pertama kita bertemu.
“Hatiku hanya sebatas angin berlalu”
Itu taksirmu!
Walau sebenar, duri menancap dalam lubuk yang hampir mati.
Tidak mengapa!
Aku tak akan kemana-mana.
Biar saja ini kursi jadi kerabat dalam sepi.
Rupanya hati sesekali jenuh.
Sampai aku berusaha kabur dari bangku pengikat.
Tapi tali itu sungguh kuat, raga bahkan tak sanggup meronta.
Beling nyata masih berdiri kokoh di bawah kediamanku.
Membuat aku tak bisa melangkah.
“Tunggu saja”
Bisik diriku yang lain.
Sambil kembali pada posisi yang kau yakin aman.
Walau sebetul aku runyam.
Mencoba menangkap rindu agar tak kabur telanjang.
Aku sedia sedikit ruang.
Untuk sua yang mungkin akan tiba.
Tuhan!
Tolong kabari ini hati.
Jika masa tungguku telah datang.
Ruang Tunggu, 01 Februari 2019
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.














