🔊
Dengarkan Artikel
Ilustrasi : Sumber Journeysederhana.blogspot.com
Oleh Lina Zulaini
Untuk kamu, yang katanya ingin tinggal.
Di lumbung rinduku.
Aku bukan si sempurna dengan raut ranum.
Yang mampu menebar angan hingga pulam membawa kembali pucuknya.
Bukan pula si jelita dengan gincu merah yang senantiasa merekah wajah.
Untuk kamu, yang katanya ingin memetik embun pagiku.
Percayalah!
Akan butuh waktu sedikit lama guna mengenal rumput yang mencuak mekar di hatimu.
Harap bersabar.
Hingga senjaku menjemput fajarmu.
Untuk kamu, yang katanya ingin menyatu dengan kalbuku.
Biarkan wadah itu mengalir sendiri.
Hingga ia jadi sungai, sebuah laut yang mungkin tak bisa lagi kau bendung.
Untuk kamu, yang katanya butuh hati ini.
Menunggulah!
Ini jiwa akan mulai mengingat itu rupa.
Untuk kamu, yang katanya ingin melihat garis bibir di setiap keringat kerja.
Tenanglah!
Telah kusimpan agar kita menatap langit dan melebarkan senyum ke cakrawala.
Untuk kamu, yang katanya ingin menanti.
Yakinlah!
Ada masa akan menjawab dan mengganti jerih doamu.
Namun, saat itu belum semua terjadi.
Biar kusuguh pena dan karya sebagai ganti dari rasa terima kasih.
Untuk kamu, yang namanya belum pantas kusebut dalam doa ?
Dari jiwa yang tenang, 9 Januari 2019
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📚 Artikel Terkait
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.





