POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menggali Sejarah Banda Aceh di Gampong Pande

RedaksiOleh Redaksi
May 4, 2018
🔊

Dengarkan Artikel

 
 
Oleh: Iqbal Perdana
Staff di Center for Community Development and Education
 
Pastikan anda pernah mengunjungi Gampong Pande. Sebuah desa di ujung kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Gampong (Desa) ini telah menjadi tujuan pelayaran sejak berabad-abad sebelum masehi silam oleh pelaut Paoenisia atau lebih dikenal dengan Samal-Bajao, merujuk pada bait-bait literal perpustakan Alexandria (Iskandariyah) dan Injil (Thomas Braddel, “The Ancient Trede of The Indian Archipelago”, Jil II No: 3, 1857).

King of Solomon (Nabi Sulaiman a.s) menyarankan Pelaut Paoenisia agar berlayar ke arah timur, mencari gunung Ophir, yaitu wilayah yang banyak menyimpan emas, Gampong Pande sekarang. Setelah tiga tahun berlayar, mereka berhasil kembali beserta harta (emas) yang melimpah.

Sejak saat itu, pelayaran ke timur dunia semakin marak, khususnya Aceh, Gampong Pande. ”Geograpike Uplehesis” (301SM), sebuah buku yang ditulis oleh seorang Menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, Ptolemaeus, memperkenalkan Aureachersoneseus (Pulau Emas) kepada dunia lengkap dengan peta sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera).

Setelah ± 400 SM, Aceh dijuluki oleh orang arab sebagai Al Ramni, sedang orang Tionghoa menyebut Aceh sebagai Lan-Li, Lam-Wuli, Nan-Wuli, Nan-Poli. Sebenarnya Lamuri.

Namun istilah-istilah itu berganti dengan Achem (Acheh) sejak kedatangan Bangsa Portugis yang dipimpin oleh Marcopolo dan berganti menjadi Kuta Raja (Kota para raja) oleh Belanda. Memang, letak geografis Aceh merupakan pintu masuk pelayaran barat menuju timur, begitu sebaliknya.

Sehingga Aceh menjadi kota transit para pedagang dunia. Hal ini turut membantu peningkatan perekonomian kerajaan islam di Aceh pada masa itu. Bahkan emas Aceh dijual sampai ke benua Eropa. Selain terkenal dengan emas beserta lokasi pengrajin emas yang saat ini dijadikan nama sebuah lorong Desa Gampong Pande, “Kuta Diblang”.

Desa wisata ini juga terkenal dengan sejarah Islamnya. Sebelum kerajaan Pasai, Kerajaan Islam telah lahir di desa ini, dipimpin oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan kerajaan Hindu/ Budha Indra Purba dengan ibu kota Bandar Lamuri kala itu.

Banda Aceh pun kemudian dinisbatkan sebagai kota Islam tertua di Asia Tenggara. Kota ini pernah menjadi sangat terkenal sebagai Bandar Aceh Darussalam ketika masa gemilangnya kerajaan Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama sepuluh tahun berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.

Diikuti oleh Sultan Iskandar Muda yang membangun Banda Aceh sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang pada saat itu sangat diminati pedagang Eropa. Sultan Alaidin Johan Syah dinisbatkan sebagai pendiri Kota Banda Aceh, namun beliau dimakamkan di Gunong Drien (Glee Drien), Lambirah Sibreh, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar.

Anda akan menemukan singgahsana terakhir para Sultan Aceh di Desa Gampong Pande. Komplek makam itu merupakan cagar budaya di bawah naungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

📚 Artikel Terkait

Komisi III DPR RI Apresiasi Dedikasi Polres Barru di Lapangan

SMAN 10 Fajar Harapan Gelar Simposium P5

Dari Krisis ke Krisis: Masa Depan Indonesia di Tangan Pemimpin Visioner atau Pemadam Kebakaran?

MENGHAFAL AL-QURAN

Si Gampong Pande

Setelah mengetahui sejarah Gampong Pandee, tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi salah satu lokasi wisata kota Banda Aceh itu. Estetika dari pahatan nisan para makam sultan begitu unik, aksara arab memenuhi permukaan batu yang berumur ribuan tahun itu.

Tinggi nisan kira-kira sepinggang orang dewasa, diantaranya hanya selutut. Penemuan koin emas (dirham) dan pedang emas yang mengejutkan warga tahun lalu juga berada di Gampong Pande. Tepatnya di Krueng Doy. Siapa sangka, Fatimah (45), menemukan koin emas itu.

Pengunjung desa Gampong Pande saat ini terbilang sedikit, jika hari kerja, hampir tidak ada pengunjung. “Biasa anak muda jalan-jalan disini (Gampong Pande) sore, itu pun banyak yang Cuma lewat aja ke pinggir laut,” ujar pemuda yang sedang nongkrong di warung kopi pinggiran tugu nol Banda Aceh.

Peta makam beserta nama-nama sultan yang dimakamkan di Gampong Pande tidak ada, hal ini membuat pengunjung menebak-nebak si empunya makam. Juga rumput yang meninggi turut mencondongkan anggapan bahwa situs purbakala ini kurang terawat. Namun kebersihan akan sampah patut diacungi jempol.

Tidak ada sampah yang berserakan turut menambah rasa nyaman saat membayangkan di tanah ini pernah hidup sosok-sosok mulia nan perkasa, seakan membawa kita kembali ke masa lalu.

Ke Gampong Pande

Tanpa pemandu, anda dapat dengan mudah menemukan situs sejarah ini. Banyak sekali papan penunjuk arah komplek pemakaman, hampir di setiap tikungan. Papan itu dicat coklat dan dituliskan jarak, tentu saja moncong papan mengarah ke komplek pemakaman, ikuti papan itu sampai anda menemukan papan yang berikutnya.

Dari Mesjid Raya Baiturrahman menuju Gampong Pande kira-kira lima menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Alangkah baiknya jika anda membawa kamera untuk mengabadikan situs-situs purbakala itu.

Saya menyarankan anda untuk menggunakan sepatu sport, sebab setelah sampai di Gampong, melanglang dengan berjalan kaki lebih menyenangkan.sepatu sport cukup memberi kenyamanan pada kaki, karena kelenturan sol dan kelembutan dinding sepatu.

Anda tidak perlu membawa makanan atau minuman jika itu merepotkan dan hanya menambunkan tas. Ada sedikitnya lima kedai kecil tersebar di Gampong Pande, menjual minuman dingin dan makanan ringan untuk menenangkan perut selama melanglang.

Bagi anda yang berpergian sendiri, pastikan membawa tripod. Tripod cukup membantu ketika anda hendak masuk kedalam frame. Juga ketika hendak mengambil video.

Tidak ada pemungutan apapun di Gampong Pande, anda bebas masuk ke komplek pemakaman. Namun tentu saja harus berbusana sopan dan tidak diperkenankan masuk bagi wanita yang sedang kedatangan bulan. Jagalah kebersihan Gampong dengan membuang sampah pada tempatnya.

Warga Gampong Pande yang ramah mewajibkan anda mengikuti keramahannya. Ajak mereka berbincang untuk menambah wawasan mengenai Gampong Pande saat ini. Sudah tidak sabar ingin mengunjungi Gampong Pande?

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Jurus Berkelit Ala Perusahaan Kelapa Sawit

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00