🔊
Dengarkan Artikel
By Lina Zulaini
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah
Setelah hari itu
Aku masih memandang langit yang sama
Masih menghirup udara yang sama
Dengan perasaan yang berbeda
Ibu, setelah langkah ini beranjak
Masihkah kau menumbuk ebi yang sama?
Masihkah kau mangaduk kopi pagi pahit yang itu?
Masihkah kau meniris pisang goreng favoritku?
Dan masihkah kau menanti kehadiran raga ini?
Katakana ibu, katakan jika kau menunggu rembulanmu
Rumah itu
Masihkah ia mengharap tawaku?
Masihkah ia mengiba sukma gulana ini?
Dan masihkah ia camar akan tiba raga ini?
Katakana ibu, katakana kalau ia masih merinduku
Setelah hari itu
Aku masih memandang warna laut yang sama
Dengan keluh yang berbeda
Ayah, masihkah kau menjala mujair yang sama?
Masihkah kau mengembala domba putih kesayanganku itu?
Katakan ayah, katakan jika kau menanti fajarmu
Di sini, di tanah yang terasa asing
Aku melihat udang kering yang berbeda
Ikan berbeda, bahkan cara menyaji yang berbeda
Di sini, di musim semi yang entah ke berapa
Aku masih merajut jalanku
Ibu, rumah di sini terasa sangat berbeda
Terasa dingin tanpa senyummu
Ayah, domba di sini tak secantik dombaku itu
Semua terasa asing, bahkan sangat asing bagiku
Rantauku, adalah jalan menuju kepulanganku
Aku merindu rumah itu
Rumah yang selalu mencita akan hadirnya raga ini
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📚 Artikel Terkait
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.





