80 Tahun Kemerdekaan : Flashback Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan
Oleh Oleh Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H. “Sekali merdeka, tetap merdeka!” Seruan itu menjadi yel-yel penuh semangat yang menggema...
Rubrik Artikel menyajikan tulisan-tulisan pilihan yang mengupas isu sehari-hari dengan sudut pandang segar, kritis, dan bermakna. Setiap artikel disusun untuk membantu pembaca memahami fenomena sosial, budaya, dan kehidupan modern secara lebih jernih—tanpa sensasi, tanpa bertele-tele. Di sini, gagasan dipaparkan dengan bahasa yang renyah, analisis yang terarah, dan cerita yang menyentuh sisi manusia, sehingga setiap tulisan bukan hanya informasi, tetapi ruang refleksi.
Oleh Oleh Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H. “Sekali merdeka, tetap merdeka!” Seruan itu menjadi yel-yel penuh semangat yang menggema...
(Zulkifli, S.Pd.I, M.Pd/Joel Buloh) Pada tanggal 15 Agustus 2005, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia sepakat...
Oleh: Akaha Taufan Aminudin Dalam suasana demokrasi lokal yang sering kali penuh dinamika, Kelurahan Sisir, Kota Batu, menorehkan...
Oleh : Awalin Ridha, S.Pd Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah, daerah yang memegang teguh nilai agama dan kehormatan....
Oleh: Siti Hajar Ada semacam energi berbeda yang terasa di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, terutama di...
Oleh : Aisha WidyanaSiswa Kelas: XI SMK Negeri 1 Peusangan Jurusan: Desain Komunikasi Visual Awal mula hancurnya sebuah...
Oleh Heri Haliling Perempuan Dayak Ngaju itu bernama Nyaru. Beliau bukan pejabat, bukan pula tokoh pemerintah, melainkan seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan hari-harinya merawat ladang, memintal rotan, dan mengajariku tentang hutan. Sejak kecil, guruku itu sudah akrab dengan rimba. Beliau mengenalkan aku pada tumbuhan obat, seperti sangkareho,kayu bajakah, dan seluang balum, yang hanya tumbuh di hutan primer. Guruku dan perempuan kuat lainnya tidak menanam di lahan yang baru dibuka. Bu Nyaru dan kelompoknya selalu melakukan ladang berpindah dengan prinsip huma balum atau membiarkan tanah pulih sebelum digunakan kembali. Kini hutan kami mulai berubah dari hijau menjadi kecokelatan. Kalimantan yang dulunya menyimpan 40 juta hektar hutan hujan tropis (WWF Indonesia, 2018), kini kehilangan sekitar 1,2 juta hektar setiap tahun akibat pembukaan lahan sawit dan tambang. Di Kalimantan Tengah...
Oleh Dr.Nurkhalis Mochtar, Lc, MA Setelah era Syekh Muhammad Arsyad al Banjari dan Syekh Abdussamad al Palimbani estafet...
Oleh Cut Dara Meutia Hari itu, 10 Agustus 2025, Sanggar Seni Cut Meutia, sebuah rumah kecil yang saya...