HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Majalah Anak Cerdas Itu Mencerdaskan

Redaksi by Redaksi
Februari 2, 2018
in Aceh, Indonesia, majalah anakcerdas, mencerdaskan
Reading Time: 18 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Delima Saflidara
Mahasiswi Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat,
UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Kesadaran akan pentingnya ilmu dan pengetahuan merupakan hal yang semakin asing dalam budaya kita. Aceh yang berada di pulau Sumatra adalah sebuah negeri yang masih miskin. Terutama miskin literasi, membaca dan menulis. Kurangnya kesadaran itu sangat mewabah hampir di setiap lapisan masyarakatnya. Sedikit sekali kesadaran yang dirasakan masyarakat terkait akan pentingnya makna dari  ilmu pengetahuan. Termasuk mereka yang cenderung dianggap sudah berilmu oleh mereka yang awam, sejatinya tidak benar-benar demikian. Ada perbedaan antara ilmu dan pengetahuan, di mana pengetahuan merupakan apa saja yang kita tahu, baik yang kita baca, maupun yang kita dengar.
Namun berbeda dengan ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita miliki dan sudah mendarah daging dalam diri kita dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebiasaan. Selain itu, ilmu adalah pengetahuan yang kemudian kita jadikan atau dapat dijadikan sebagai alat, kacamata dan pisau. Baik untuk melihat fenomena, mengupas persoalan-persoalan, maupun dalam hal membangkitkan kesadaran orang banyak. Artinya, sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu, ketika itu dapat dimanfaatkan dan bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang banyak.
Kelihaian seorang pilot menerbangkan pesawat, disebabkan sang pilot menguasai ilmu mesin dan penerbangan. Kecakapan seorang motivator membangkitkan semangat, karena dia paham ilmu komunikasi. Kemampuan seorang penulis menghipnotis orang lain melalui tulisannya, juga disebabkan karena ilmu dan begitulah seterusnya. Kemajuan dan peradaban terjadi karena ilmu. Namun pertikaian, saling membenci dan dendam, juga terjadi karena ilmu. Ilmu yang kurang, sehingga kita mudah diperdaya dan diadudomba. Tentu akan ada orang yang mengatakan bahwa ada yang lebih tinggi derajatnya dari pada ilmu, yaitu akhlak atau adab. Premisnya adalah, ketika seseorang memiliki ilmu, namun jika ia tidak memiliki akhlak, maka seseorang itu sama sekali tidak berharga. Pernyataan ini tentu sangat benar. Namun hakikatnya adalah, seseorang yang “benar-benar” berilmu, tentu akan berakhlak pula. Kembali pada makna ilmu di paragraf sebelumnya. Sehingga pantaslah rasanya jika ilmu itu harus mahal. Mengingat betapa pentingnya peran ilmu dalam kehidupan.
Minimnya kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan yang mewabah dalam budaya kita, kini mengundang perhatian pihak-pihak yang kesadaran melek ilmunya tinggi, yang melihat literasi membaca dan menulis negeri kita yang begitu ironis. Sebut saja seperti majalah “Anak Cerdas”, yang merupakan media pembangkit semangat siapa saja yang membacanya. Terutama anak-anak yang menjadi subjek dan objek majalah ini. Ini adalah satu-satunya majalah anak di Aceh, bahkan di Sumatra. Majalah ini terbit rutin sejak 2012 hingga 22 edisi dalam versi cetaknya. Edisi ke-23 akan segera menyusul, namun sudah tersedia dalam edisi online. Penting sekali majalah ini terbit dalam edisi cetak, karena  akses internet tidak relevan dengan dunia anak. Anak-anak seharusnya tidak dibenarkan mendapatkan “hak milik” dari orang tuanya untuk memiliki satu gadgetuntuk mengakses internet misalnya. Selain karena radiasi, gambar-gambar dalam dunia maya yang sering tidak senonoh jika dilihat anak, dan dampak buruk lainnya. Anak menjadi malas bergaul di luar rumah, terbentuk menjadi pribadi yang indivualis dan sebagainya. Sehingga budaya awal kita mulai bergeser akibat pengenalan kecanggihan teknologi yang salah pada anak-anak kita. Pengenalan kecanggihan teknologi terhadap anak, bukanlah sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Justru harus dilakukan. Agar anak tidak gaptek alias gagap teknologi, karena kita hidup di zaman itu.
Kita tidak bisa pungkiri, selain dampak internet yang buruk, ia juga memberi banyak dampak baik bagi kehidupan kita. Seperti memudahkan setiap urusan menjadi lebih hemat waktu dan uang. Penyebaran informasi di dunia maya, sering membuat kesalahpahaman antar masyarakat pun terjadi. Padahal baik sebagai penyebar maupun penerima informasi di internet adalah orang-orang dewasa yang kurang ilmunya, sehingga informasi yang masuk ke otak, tidak melalui proses filterisasi terlebih dahulu, tidak dikritisi terlebih dahulu. Lalu bagaimana bisa kita membiarkan anak sebagai posisi penerima informasi dari dunia maya. Bagaimana bisa kita dapat mengontrolnya dengan sangat intensif. Kita tahu persis “anak” adalah manusia yang usianya masih dalam tahap perkembangan, meniru dan labil. Sehingga sangat baik jika membiasakan mereka akrab dengan buku-buku dan majalah yang mendukung keaktifan mereka berkarya, daripada membiarkan mereka akrab dengan gadget dan dunia maya.
Seperti yang dikatakan pada paragraf tiga di atas, majalah “Anak Cerdas” bukan hanya media pendukung kecerdasan anak untuk mengenal banyak pengetahuan dan berimajinasi, namun juga menjadi wadah tempat anak untuk belajar menjadi produktif. Anak juga dapat berlatih menulis dan mengirimkan tulisannya di majalah “Anak Cerdas”. Hal ini agar anak termotivasi untuk terus senang menulis. Melatih anak untuk berbagi melalui tulisannya. Menulis mungkin masih menjadi sebuah kegiatan yang buang-buang waktu dalam kebanyakan perspektif kita. Padahal menulis sejatinya bukan sekedar sebuah tulisan yang berisikan kata-kata dan kalimat-kalimat. Namun lebih dari itu, tulisan adalah “senjata”, tulisan adalah “perisai”. Menulis adalah kekuatan. Stephen King mengatakan “menulis itu adalah upaya menciptakan. Dan dalam prosesnya, kita tidak hanya mengerahkan pengetahuan, daya dan kemampuan saja. Namun seluruh jiwa, nafas hidup kita”. Dilanjutkan dengan perkataan Imam Al-Ghazali. Dikatakan bahwa “jika engkau bukan anak seorang raja, bukan juga anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Dan bagi seorang penulis, membaca adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, kata Stephen King.
Dengan budaya literasi kita yang masih sangat menyedihkan dan mewabah, bukankah hal yang sulit untuk dipikirkan adalah jika harus memulai membangun kesadaran itu dari dasar sekali. Namun tidak bagi majalah “Anak Cerdas” yang terus konsisten mengupayakan, membangun kecerdasan yang ditujukan untuk kecerdasan anak-anak kita. Sehingga pantas untuk terus didukung eksistensinya. Kenapa harus anak-anak? Karena mereka adalah benih. Mereka adalah generasi penerus bangsa. Seperti kata Soekarno “ beri aku 10 pemuda seperti kau Sutan Syahrir, maka akan kuguncangkan  dunia”. Mengapa dalam penggalan kalimatnya itu, Soekarno menyelipkan nama Sutan Syahrir? Tentu itu memberi kita pemahaman bahwa, untuk mengguncangkan dunia, kita perlu pemuda-pemuda yang cerdas, aktif, kreatif, produktif, dan kritis. Nah, pemuda seperti itu berasal dari anak-anak yang dibentuk agar menjadi seperti itu. Tidak pemuda yang hanya mau berpangku tangan, yang hanya semangat kalau unjuk gigi saat selfie, senang ikut-ikutan tanpa paham, pemuda yang apatis, malas membaca apalagi menulis, dan sebagainya dan sebagainya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 284x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 281x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 190x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Maret 13, 2026
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Peran Diplomasi Mohammad Natsir dalam Konteks Hubungan Internasional dan Energi.

Maret 19, 2026
Artikel

Efisiensi Fiskal Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis

Maret 19, 2026
Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam
#Sejarah Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026
​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Next Post

Bukan Kami Yang Menginginkannya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com