POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

JANGAN BERI IKAN, BERILAH KAIL

RedaksiOleh Redaksi
May 27, 2024
JANGAN BERI IKAN, BERILAH KAIL
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Satria Dharma

 

Seringkali kita mendengar nasihat agar kita tidak sekadar memberi uang atau natura pada seseorang, karena itu akan membuatnya malas dan bergantung pada kita. Sebaiknya beri ia pekerjaan agar dengan demikian ia bisa mendapat penghasilan sendiri dan tidak perlu minta dan bergantung lagi pada kita. Tapi berapa banyak sih di antara kita yang bisa memberi pekerjaan tetap dengan gaji atau honor yang memadai bagi kehidupan seseorang?

Jadi nasihat agar memberi kail dan bukan ikan itu, sebenarnya nasihat bagi pengusaha yang punya kemampuan untuk menggaji orang.  Untuk orang awam, nasihat yang pas mungkin adalah “Kalau kamu ada ikan sepotong yang bisa kamu berikan pada orang yang membutuhkan, ya berilah ikan sepotong tersebut. Kalau ikan tidak ada, maka tahu, tempe, beras, ote-ote, atau pisang goreng pun okelah sebagai gantinya.”

Seorang teman bercerita bahwa ada familinya yang rutin minta bantuannya tiap bulan. Lha gimana lagi wong familinya itu gak punya kerjaan tetap (padahal sarjana) dan punya dua anak udah gede-gede dan sekolah pula. Lama-lama dia pusing juga memberi ikan terus. Dia lalu berpikir untuk memberi kail. Untungnya ia punya teman yang bisa dimintainya tolong untuk menerima familinya bekerja di usaha temannya tersebut. Meski pun pekerjaannya tidak sesuai dengan pendidikan familinya dan mungkin gajinya tidak sebesar UMR, tapi jelas lebih besar daripada yang bisa diberikan setiap bulan oleh teman saya tersebut. Lagipula ini pekerjaan tetap yang artinya setiap akhir bulan bisa dapat gaji yang jelas jumlahnya. Teman saya dan familinya bersyukur bahwa mereka akhirnya terlepas dari lingkaran ‘meminta dan memberi ikan’ setelah familinya itu bisa ‘mancing ikan’ sendiri. Saya yang mendengar ceritanya aja ikut bersyukur kok!

Itulah sebabnya saya selalu mengagumi orang-orang yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Itu artinya ia membuka kolam pancing agar orang lain bisa ikut mancing dan makan ikannya juga. Semakin banyak pengusaha atau wirausahawan, semakin makmur negara kita ini karena akan semakin banyak orang yang akan makan ikan hasil mancing sendiri.

Kapan hari saya lewat sebuah resto semacam “Gacoan” dan melihat karyawannya duduk-duduk di belakang resto tersebut menunggu pergantian shift. Saya hitung ada lebih dari 20 anak-anak muda karyawan yang sedang menunggu pergantian shift tersebut. Itu artinya paling tidak ada 40-an lebih karyawannya. Bagi saya semakin banyak sebuah usaha menyerap tenaga kerja semakin hebat dan bermanfaat usaha itu bagi banyak orang dan negara.

📚 Artikel Terkait

Agama

KEBEBASAN FINANSIAL

Generasi Putri Duyung: Punya Kaki, Tanpa Suara

DALAM BANTAL TANPA KAPAS

Cerita teman saya tadi ternyata belum selesai. Meski untuk kehidupan sehari-hari familinya sudah tidak minta lagi padanya, tapi terkadang masuk juga ‘proposal’ bantuan untuk uang sekolah anak-anaknya.

Setelah lulus Aliyah anaknya nganggur dan ingin kuliah. Untungnya kok teman saya ini punya teman yang bisa membantunya memasukkan anak ini kuliah di sebuah kampus yang bagus dengan diskon 75%. Jadi familinya itu tinggal bayar 25%. Sungguh bejo familinya itu. Wis ditulung kerjo masih ditulung nguliahno anake.

Selesai…?! Belum.

Meski tinggal 25% ternyata jumlahnya cukup besar bagi familinya yang mungkin gajinya pas-pasan untuk hidup sehari-hari saja itu. Membayar uang kuliah sebesar 5 juta rupiah setiap semester saja cukup besar bagi SANGAT BANYAK keluarga yang hidupnya dari kolam atau sungai kecil yang ikannya hanya cukup untuk dimakan hari itu saja.Jadi jangan dikira UKT 40 juta bagi dosen itu enteng saja. Itu angka yang bisa bikin banyak ortu menggeh-menggeh.

Jadi bagaimana teman saya menyelesaikan masalah familinya yang masih butuh ikan tersebut?

Ia melobi kembali temannya yang memberi potongan kuliah 75% tersebut dan meminta jika bisa sudikah kiranya agar bisa memberi potongan 100% agar anak familinya tersebut tidak perlu membayar uang kuliah sama sekali. Iki sakjane yo rodok kurang ajar. Sudah diberi potongan 75% masih nyodok lagi minta gak bayar sama sekali. Tapi namanya usaha kan boleh saja.  Entah bagaimana redaksi kalimatnya dan bagaimana caranya ia merayu, tapi teman saya berhasil mendapatkan potongan 100% tersebut. Anak familinya tersebut bisa lanjut kuliah tanpa membayar sepeser pun.

And they live happily ever after… (for the moment).

Balikpapan, 27 Mei 2024
Satria Dharma

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Alhamdulilah, M.Januar Bisa Bersepeda Ke sekolah

Alhamdulilah, M.Januar Bisa Bersepeda Ke sekolah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00