POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

RIAK AIR

RedaksiOleh Redaksi
March 25, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Zulkifli Abdy

MANAKALA pemerintah atau para politisi hendak mengambil suatu kebijakan/keputusan penting yang ditengarai berpotensi menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat luas, kerapkali didahului dengan terapi kejut.

Terapi kejut tersebut, bisa berupa “Test the Water” atau judge people’s feelings or opinions before taking further action, menilai perasaan atau pendapat orang sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. Test the Water, juga merupakan suatu upaya untuk memancing reaksi publik sebelum mengeluarkan kebijakan/keputusan. Jika publik tidak bereaksi atau merespons positif, maka “the show must go on”, kebijakan itu akan ditetapkan, demikian pula sebaliknya.

Apakah itu berupa kebijakan pembangunan, atau program lainnya yang kemungkinan akan berdampak secara ekonomi pada masyarakat. Seperti misalnya kenaikan harga BBM, pengenaan pajak terhadap komoditas tertentu, pembangunan ibukota baru, atau bahkan kebijakan politik terkait dengan Pemilu yang sarat dengan berbagai kepentingan.

Di sinilah kita kerap menyaksikan pertunjukan “test the water” atau “uji riak air” itu, hal mana untuk melihat respons masyarakat kalau suatu kebijakan akan diputuskan dan dijalankan. Atau dengan kata lain, ini semacam uji publik yang akan menentukan apakah suatu kebijakan tersebut laik atau tidak.

Kalau hanya sebatas penerapan kebijakan publik secara umum, mungkin variabel yang dijadikan acuan lebih pada seberapa besar dampak ekonomi terhadap masyarakat, atau dampak lingkungan dan sosial yang akan ditimbulkannya. Berbeda dengan kebijakan politik, yang tentu akan berimplikasi lebih luas lagi, terutama terhadap kehidupan berbangsa, dimana aspek moral, hukum dan sosial tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Di sinilah biasanya terapi “uji riak air” itu digunakan, untuk melihat sejauh mana dampak yang akan ditimbulkannya, dapat dilihat dari respons masyarakat. Bukankah di tengah kehidupan masyarakat luas juga terdapat banyak ahli, bahkan juga para akademisi dari berbagai disiplin ilmu, yang akan menilai dan terus mengamati setiap gejala dari suatu kebijakan dan dampaknya, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.

📚 Artikel Terkait

Rindu dan Gelisah Itu Tumpah

Unimal Serius Membangun Mutu PPG Sebagai Pilar Kualitas Pendidikan

Kudeta Halus dan Gerbong Gaib

Ekonomi Eksploitatif Indonesia

Kendati “uji riak air” telah menjadi salah satu pola yang lazim digunakan mendahului suatu kebijakan. Agaknya perlu dipertimbangkan pola lain yang lebih efektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di antaranya melalui seminar, lokakarya, dan atau debat publik yang melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi, dan para pakar di bidangnya.

Dengan demikian, sebelum suatu kebijakan menjadi keputusan, selalu ada kajian mendalam yang mendahuluinya, sehingga dampak yang mungkin akan ditimbulkannya telah terdeteksi lebih dini. Untuk itu tentu ada kajian ekonomi, sosial/budaya, dan yang terkait dengan lingkungan juga ada Analisis Dampak Lingkungan atau AMDAL.

Di era keterbukaan informasi ini, masyarakat awam sekalipun dengan mudah memperoleh referensi dari berbagai sumber. Masyarakat secara tidak langsung telah memiliki perspektif dan informasi pembanding tentang berbagai hal. Dalam kondisi seperti itu, trend kebijakan publik pun sepatutnya menyesuaikan, sehingga pembuat kebijakan tidak “ketinggalan kereta” dengan dinamika yang berkembang di tengah masyarakat sebagai waham dari kebijakan itu sendiri.

Kepekaan indrawi masyarakat pun di era informasi ini semakin tinggi, sehingga dalam setiap proses perencanaan sebelum menjadi suatu kebijakan, atau masih pada tahap “uji riak air” itu, masyarakat telah dapat mereka-reka kemana arah kebijakan tersebut dan apa dampaknya. Bahkan secara naluriah, tidak tertutup kemungkinan masyarakat dapat pula “membaca” seandainya ada skenario lain yang menyertai suatu kebijakan.

Di ranah politik, masyarakat juga telah terbiasa menganalisis suatu gelagat, bahkan sebelum langkah awal dijalankan. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat menjadi sangat peduli dan akan mengawal setiap kebijakan politik sebelum diterapkan, mulai dari hulu sampai ke hilir. Sehingga kalau ada agenda “tersebunyi” di balik suatu kebijakan politik, masyarakat dengan mudah pula dapat mengetahuinya.

Masyarakat, di samping sudah sangat paham, telah cukup jenuh dan lelah juga, karena telah sangat terbiasa dijadikan “alat uji coba” sebelum para pihak mengambil suatu kebijakan. Kalau pengambil kebijakan tidak bijak dan peka, “uji riak air” itu justru akan kontraproduktif, bahkan berpotensi mengundang reaksi berupa “gelombang” penolakan di tengah masyarakat luas.
Waallahu a’lamu bisshawab.

(Zulkifli Abdy, BandaAceh, 25 Maret 2024)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Menuju Masterku

Menuju Masterku

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00