• Latest
Bersama Redaktur Majalah Potret Bercerita di Remang Lampu Kota

Bersama Redaktur Majalah Potret Bercerita di Remang Lampu Kota

Maret 27, 2023
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bersama Redaktur Majalah Potret Bercerita di Remang Lampu Kota

Redaksiby Redaksi
Maret 28, 2023
Reading Time: 3 mins read
Bersama Redaktur Majalah Potret Bercerita di Remang Lampu Kota
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Hamdani Mulya

Perjalanan panjang yang hampir memakan waktu 7 jam dari Geudong, Kabupaten Aceh Utara menuju Kota Banda Aceh seakan tidak membuat tubuh saya lelah. Perjalanan saya bersama isteri dan anak-anak yang hampir seharian itu begitu asyik. Sekitar jam 09.00 WIB pagi hari saya berangkat dari Geudong dan tiba di Pango, Kecamatan Ule Kareng, Banda Aceh menjelang magrib. Banyak mobil melaju beriringan di jalan Medan-Banda Aceh. Saya harus mengemudi sendiri dengan sangat hati hati.
Menjelang magrib hari itu, Senin 20 Maret 2023 saya tiba di Banda Aceh melewati jembatan layang Pango. Jembatan itu mirip seperti jalan tol, terlihat indah dan rapi tertata dengan bunga-bunga di pinggir jalan.

Setelah mencari-cari alamat akhirnya kami pun bertemu dengan rumah saudara di Pango, lalu kami menginap di rumah itu selama 2 malam.

Alamat menuju rumah itu persis di lorong samping Potret Galeri, di situlah alamat redaksi sebuah majalah yang sering memuat karya-karya yang saya tulis. Potret Galeri dipimpin oleh Bapak Tabrani Yunis seorang pensiunan guru, jurnalis, pengusaha barang-barang kerajinan tangan, dan seorang relawan kemanusiaan.

Sekretariat redaksi Potret Galeri rupanya juga merupakan sebuah toko besar yang menyediakan berbagai barang antik dan klasik. Di toko ini mengoleksi berbagai cenderamata dan sauvenir tradisional khas Aceh dan barang antik yang terbuat dari rotan yang dikirim dari Jawa. Jika kita masuk ke dalam toko, kita dapat melihat topi, pot bunga, alat-alat rumah tangga, aksesoris ruang tamu, dan benda karya seni ukir lainnya.

Setelah saya bertemu sejenak menjelang magrib itu, kami menentukan jadwal bahwa nanti malam kami akan duduk silaturrahmi.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Maret 2, 2026

Saat yang saya tunggu pun tiba. Malam itu remang-remang lampu kota gemilang Kota Banda Aceh menemani malam saya bersama pak Tabrani. Kami bercerita tentang awal pertemanan kami melalui media sosial. Yang pada akhirnya tulisan-tulisan yang saya kirim kepada Pak Tabrani secara daring beliau muat di majalah Potret online. Sehingga pertemanan kami pun semakin akrab.

Perteman kami melalui media online yang sudah berlangsung beberapa tahun, akhirnya berlangsung baik dan kami dapat bertemu empat mata malam itu.
Pak Tabrani berbagi pengalamannya saat menjadi guru, relawan berbagi sepeda untuk anak yang kurang mampu, bahkan beliau membagi cerita tentang karier kepenulisannya menjadi penulis opini pendidikan di harian Serambi Indonesia. Pengalaman berharga itu semoga menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih maju dalam mengarungi kehidupan.

Tak terasa malam pun semakin larut, namun hiruk-pikuk kota besar belum pun surut. Saya dan anak-anak kembali ke rumah saudara untuk menginap.

Lawatan saya hari itu ke Banda Aceh sebenarnya untuk mengantar isteri saya untuk suatu keperluan yang penting di ibukota provinsi Aceh itu.
Namu moment itu juga saya gunakan untuk bertemu silaturrahmi dengan teman- teman penulis buku dan teman-teman alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala. Bahkan saya juga sempat berkunjung ke Perpustakaan Aceh dan diberikan 10 eks buku berjudul Pengantin Tsunami oleh pihak perpustakaan. Buku yang saya tulis tersebut diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2022.

Banda Aceh sudah banyak kemajuan. Sangat berbeda dengan masa tsunami dulu. Hampir 19 tahun masa rekonstruksi pasca tsunami, Aceh kembali bangkit. Setelah dihentak gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Kini Banda Aceh kembali gemilang, sudah banyak bangunan dan jalan baru. Itu semua berkat usaha pemerintah diiringi doa rakyat. Namun kita jangan pernah melupakan bencana dunia itu. Sebagai pelajaran bagi manusia dalam mengarungi kehidupan ini.

Saya juga sempat bertemu dengan penulis Herman RN membicarakan buku yang saya tulis. Agar Pak Herman membantu menyunting sebuah buku yang sedang saya rampungkan. Pertemuan singkat itu berlangsung di kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, USK.

Saya juga sempat bertukar cenderamata buku dengan cerpenis Farizal Sikumbang di sebuah warung di sudut kota Banda Aceh.

Setelah silaturrahmi dengan berbagai kalangan. Kami pun bertolak pulang ke Geudong, Aceh Utara. Pengalaman pertama menjalani hari “mak meugang” dalam perjalanan. Keesokan harinya kami menjalankan ibadah puasa.

Demikianlah catatan singkat ini. Semoga bermanfaat. “Menulis adalah mengukir sejarah dalam kenangan wajah zaman.”

ADVERTISEMENT

Ditulis menjelang berbuka puasa di Aceh Utara, 27 Maret 2023 M/ 5 Ramadhan 1444 H

Hamdani Mulya adalah penulis buku Pengantin Tsunami (2022), pegiat literasi, dan guru SMAN 1 Lhokseumawe.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
LITERASI DAN SIKAP KITA

LITERASI DAN SIKAP KITA

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com